Telur Anti Corona: Humor dan Rumor dalam Masyarakat Indonesia

Klikhijau.com - Telur anti corona, memang ada? Tulisan ini merefleksi tentang selera humor dan kebiasaan orang Indonesia merespons rumor setiap waktu. Pada pukul 21.36 WIB, saya menerima broadcast...

Telur Anti Corona: Humor dan Rumor dalam Masyarakat Indonesia
Bacakan Artikel

Kehebohan ini tidak hanya terjadi di Saumlaki, Tobelo, Galela, dan Ternate, tapi juga melanda masyarakat di Sanana, Ambon, Donggala, Majene, Makassar, dan Singkawang. Dari mana asalnya?

Ada yang bilang info itu dari Saumlaki, tapi ada juga yang bilang itu dari Sumatera, bahkan yang lebih jauh ada yang bilang: "Itu dari Bangladesh." Jauh dan cepat betul info ini beredar. Anehnya, kita yang tinggal di Depok ini tidak banyak dapat broadcast tersebut.

[irp]

Humor dan Rumor

Dalam banyak hal, ilmuwan sosial sepakat bahwa masyarakat Indonesia masih berkutat dalam budaya oral atau lisan. Kisah-kisah sejarah, desas-desus, gosip, humor, hingga rumor tersebar lewat tulisan. Dari mulut ke mulut, istilahnya. Mungkin yang tepatnya: dari mulut ke telinga dan disebarkan lewat mulut.

Otak pertama kali pembuat dan penyebar broadcast itu tidak ditemukan sampai sekarang. Namun, bisa jadi apa yang dilakukannya itu bertujuan untuk humor atau sekedar rumor.

Humor berarti dia ingin memecah ketegangan akibat pandemi coronavirus dengan cerita aneh itu. Atau bisa berarti rumor, sekadar kabar burung yang sifatnya iseng. Dibroadcast ke grup terbatas, tapi sialnya itu broadcast tersebar disusul dengan adanya video tahun 2017. Seorang anak kecil yang berbicara dalam bahasa yang tidak kita pahami--sebagai penguat--konten tersebut.

Sebagian orang percaya, rumor ini dibuat oleh penjual telur. Katanya, agar masyarakat berbondong-bondong beli telur.

Di Juragan Sinda, tempat saya, harga telur sekarang berkisar antara Rp. 26.000 sampai Rp. 29.000. Sebelumnya, hanya Rp. 24.000. Waktu pejabat pemerintah bilang bahwa jahe merah ampuh mencegah corona, tiba-tiba harga jahe melonjak di pasaran mulai dari Rp. 90.000 sampai Rp. 150.000.

[irp]

***

Menanggapi cerita "telur anti corona" itu, seorang apoteker alumni Unhas di Sultra, menulis: "Kalau itu telur bisa nyembuhin covid-19..Saya tutup apotik...beralih jadi penjual telur." Tentu dia sekedar guyon sekaligus kritis terhadap fenomena orang-orang yang cepat percaya sama rumor.

Kembali ke rumor tadi, pertanyaannya: kenapa sebagian masyarakat percaya? Bahkan sampai mama-mama itu panik memecah keheningan malam hanya untuk temukan itu telur yang kalau direbus bisa jadi penangkal corona.

Ini menjelaskan betapa cepatnya info viral ketimbang kapasitas petugas penangkal berita hoax. Sejauh ini peran tim penangkal hoax di daerah tidak terdengar, kecuali yang dari Jakarta.

[irp]

Folklor Indonesia

Dari sudut antropologi, humor dan rumor itu dapat dijelaskan dalam ilmu folklor Indonesia. James Danandjaja, antropolog UI, adalah pioneer di bidang itu.

Murid dari bapak antropologi Indonesia, Koentjaraningrat tersebut bahkan jauh-jauh menuntaskan masternya di University of California, Berkeley, pada 1972, dengan riset tentang folklor Jawa. An Annotated Bibliography of Javanese Folklore.

Mulyawan Karim, seorang jurnalis-cum-antropolog, pernah menulis di Kompas (10 Desember 2007) pendapat Danandjaja bahwa folklor atau cerita rakyat di Indonesia lahir dari proses sejarah.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: