Senapan Angin dan Burung

Senapan Angin dan Burung
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Waktu persisnya, saya lupa. Bila tak salah ingat, antara tahun kedua atau ketiga saya di sekolah dasar. Benda asing pertama yang kulihat begitu mencengankan itu adalah senapan angin.

Syahdan, betapa terkesima menatap “sanjata” itu terpajang di ruang tamu rumah kami. Mengingatkan saya pada senjata api laras panjang yang ditembakkan seorang tentara ke udara suatu waktu jelang tahun 90-an—menandai seruan keras wajib ikut program suntik KB ala rezim Orde Baru yang menggegerkan nyali emmak-emmak—suatu pengalaman mendebarkan di masa pra sekolah yang justru membuat sebagian besar kawan kami berangan-angan kelak jadi tantara.

Senapan angin itu seperti tamu yang datang tiba-tiba. Persis kisah orang-orang yang datang silih berganti di rumah kami untuk sekadar berbagi obrolan di lego-lego. Bapak kami menyukai perjumpaan, lebih tepatnya percakapan. Ia bahkan membebaskan anak-anaknya sesekali terlibat pada keriuhan pembahasan segala rupa topik. Tak jarang kami diminta menjauh lantaran ada pembicaraan serius dan barangkali sediit rahasia. Meski begitu, sayup-sayup kami tetap mendengarkan isi percakapan mereka dari balik kamar berdinding gamacca sembari kami pura-pura tidur.

Senapan angin itu hanyalah sebagian dari keramahan yang berbuah. Di kolong ranjang besi tempat tidur Bapak, terdapat lusinan parang juga badik aneka bentuk juga ikko pari’. Bahkan di dekat kandang ayam samping rumah, bertumpuk peralatan pertanian seperti bingkung, tarungeng bingkung, rakkala dan banyak lagi. Benda-benda itu dipakai Bapak hanya pada saat benar-benar dibutuhkan. Ia menaruhnya kembali dengan rapi dan tak membiarkan kami anak-anaknya merusak tata letaknya, apalagi memakainya.

Koleksi benda-benda itu beririsan dengan banyak orang. Semacam pertukaran barang dengan barang. Pertukaran kebaikan atau penanda perjumpaan. Jadi, seberapa banyak benda yang datang, sebilang itu pula benda-benda milik Bapak yang keluar untuk diberikan pada orang-orang. Drama kenangan barterian cukup apik yang kami cermati sejak kanak-kanak.

***

Berbeda dengan benda-benda lainnya, senapan angin dibawa oleh kerabat jauh. Sepeda BMX andalan taruhannya. Sepeda yang hanya diparkir di ruang tamu dan dirawat layaknya anak kandung. Sepeda yang belum cukup setengah tahun jadi idola di rumah. Sepeda yang memantik fantasi saya dapat berkeliling kampung mengunjungi rumah kawan maupun kerabat. Bahkan berangan-angan menyusuri bukit-bukit terjal menuju ladang dengan sepeda. Apa daya, sepeda antik yang memiliki jambul warna-warni dari tali rumput jepang di bagian gagang stirnya itu pergi sebelum saya kendarai.

Senapan angin, penggantinya. Di kemudian hari, saya mendengar dari percakapan Bapak dan kawannya bahwa senapan angin punya nama lain yakni senapan burung. Nama ini disematkan sebagaimana fungsinya kala itu, menembak burung. 

Ya, di masa itu burung-burung melimpah bahkan mendekat ke ranting-ranting pepohonan dekat rumah. Menyimpan sarang-sarangnya dengan apik. Jika angin barat menghempas, sarang burung itu kadang terjatuh ke tanah. Selain telur-telurnya yang mungil, anakan burung yang lucu kadang jadi mainan menggemaskan. Senapan burung adalah benda tercanggih melumpuhkan burung, meski banyak cara tradisional menangkap burung untuk sekadar menikmatinya di masa panen padi tiba.

Suatu hari, Bapak menunjukkan kami peluru-pelurunya yang kecil-kecil mirip biji kacang hijau. Diperlihatkan pula cara memasukkannya di perut senapan. Dikokang, ujung senapan diarahkan ke sasaran, pelatuknya ditarik lalu terdengarlah dentuman keras. Tak ada bayangan secuilpun, bagaimana peluru menerabas meninggalkan muzzle senapan. Hanya kilatan kecil sekelabat kilat. Dedaun yang berlubang dari kejauhan menandakan bahwa peluru telah bekerja menembus dan menyasar.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2