Senapan Angin dan Burung

Senapan Angin dan Burung
Bacakan Artikel
Anis Kurniawan

Penulis, Editor in Chief Klikhijau

Klikhijau.com - Waktu persisnya, saya lupa. Bila tak salah ingat, antara tahun kedua atau ketiga saya di sekolah dasar. Benda asing pertama yang kulihat begitu mencengankan itu adalah senapan angin.

Syahdan, betapa terkesima menatap “sanjata” itu terpajang di ruang tamu rumah kami. Mengingatkan saya pada senjata api laras panjang yang ditembakkan seorang tentara ke udara suatu waktu jelang tahun 90-an—menandai seruan keras wajib ikut program suntik KB ala rezim Orde Baru yang menggegerkan nyali emmak-emmak—suatu pengalaman mendebarkan di masa pra sekolah yang justru membuat sebagian besar kawan kami berangan-angan kelak jadi tantara.

Senapan angin itu seperti tamu yang datang tiba-tiba. Persis kisah orang-orang yang datang silih berganti di rumah kami untuk sekadar berbagi obrolan di lego-lego. Bapak kami menyukai perjumpaan, lebih tepatnya percakapan. Ia bahkan membebaskan anak-anaknya sesekali terlibat pada keriuhan pembahasan segala rupa topik. Tak jarang kami diminta menjauh lantaran ada pembicaraan serius dan barangkali sediit rahasia. Meski begitu, sayup-sayup kami tetap mendengarkan isi percakapan mereka dari balik kamar berdinding gamacca sembari kami pura-pura tidur.

Senapan angin itu hanyalah sebagian dari keramahan yang berbuah. Di kolong ranjang besi tempat tidur Bapak, terdapat lusinan parang juga badik aneka bentuk juga ikko pari’. Bahkan di dekat kandang ayam samping rumah, bertumpuk peralatan pertanian seperti bingkung, tarungeng bingkung, rakkala dan banyak lagi. Benda-benda itu dipakai Bapak hanya pada saat benar-benar dibutuhkan. Ia menaruhnya kembali dengan rapi dan tak membiarkan kami anak-anaknya merusak tata letaknya, apalagi memakainya.

Koleksi benda-benda itu beririsan dengan banyak orang. Semacam pertukaran barang dengan barang. Pertukaran kebaikan atau penanda perjumpaan. Jadi, seberapa banyak benda yang datang, sebilang itu pula benda-benda milik Bapak yang keluar untuk diberikan pada orang-orang. Drama kenangan barterian cukup apik yang kami cermati sejak kanak-kanak.

***

Berbeda dengan benda-benda lainnya, senapan angin dibawa oleh kerabat jauh. Sepeda BMX andalan taruhannya. Sepeda yang hanya diparkir di ruang tamu dan dirawat layaknya anak kandung. Sepeda yang belum cukup setengah tahun jadi idola di rumah. Sepeda yang memantik fantasi saya dapat berkeliling kampung mengunjungi rumah kawan maupun kerabat. Bahkan berangan-angan menyusuri bukit-bukit terjal menuju ladang dengan sepeda. Apa daya, sepeda antik yang memiliki jambul warna-warni dari tali rumput jepang di bagian gagang stirnya itu pergi sebelum saya kendarai.

Senapan angin, penggantinya. Di kemudian hari, saya mendengar dari percakapan Bapak dan kawannya bahwa senapan angin punya nama lain yakni senapan burung. Nama ini disematkan sebagaimana fungsinya kala itu, menembak burung. 

Ya, di masa itu burung-burung melimpah bahkan mendekat ke ranting-ranting pepohonan dekat rumah. Menyimpan sarang-sarangnya dengan apik. Jika angin barat menghempas, sarang burung itu kadang terjatuh ke tanah. Selain telur-telurnya yang mungil, anakan burung yang lucu kadang jadi mainan menggemaskan. Senapan burung adalah benda tercanggih melumpuhkan burung, meski banyak cara tradisional menangkap burung untuk sekadar menikmatinya di masa panen padi tiba.

Suatu hari, Bapak menunjukkan kami peluru-pelurunya yang kecil-kecil mirip biji kacang hijau. Diperlihatkan pula cara memasukkannya di perut senapan. Dikokang, ujung senapan diarahkan ke sasaran, pelatuknya ditarik lalu terdengarlah dentuman keras. Tak ada bayangan secuilpun, bagaimana peluru menerabas meninggalkan muzzle senapan. Hanya kilatan kecil sekelabat kilat. Dedaun yang berlubang dari kejauhan menandakan bahwa peluru telah bekerja menembus dan menyasar.

Meski begitu, Bapak melarang keras kami mencoba menggunakannya. Kenapa? Pokoknya tidak bisa, bahayya! Kami patuh atas hal itu. Selain karena senapan itu agak seram, juga karena perlu tenaga ekstra mengangkatnya untuk ukuran anak-anak belasan tahun.

Jadi, senapan itu benar-benar hanya pajangan. Perlakuannya tak jauh beda dengan sepeda balap BMX kami. Hanya sesekali saja dipakai menembak burung yang bertengger dekat rumah. Namun, tak sekalipun pernah menerpa sasaran. Tentu saja selain karena Bapak bukanlah penembak jitu, juga karena memang tidak diniatkan secara serius menembak burung. Lagi pula kalau ada burung yang kena peluru, akan diapakan setelahnya? Kami masih lebih bergairah menikmati olahan ikan-ikan dari sungai, ketimbang memanggang burung bertubuh kecil. Sekali lagi, Bapak hanya menyimpannya sebagai benda antik. Bahasa lainnya pajjaga bola.

Senapan Berpindah Tuan dan Satu Kisah

Pada masanya, Bapak merelakan senapan itu itu pergi tanpa pernah mengenai seekor burung pun. Mengapa tak pernah dipakai menyasar burung? 

Suatu waktu, beberapa bulan setelah senapan itu berpindah tuan, Ibu berkisah begini: seorang anak karena durhaka pada Ibunya kemudian menjelma burung. Burung itu mendatangi seorang petani yang sibuk mencangkul di ladang. Burung itu berkicau bahkan mendekat mengitari Pak Tani. Seolah ingin menyentuh kepala dan membisikkan suatu pesan. Gelagat itu membuat Pak Tani terperangah. Dalam hatinya bergumam, apakah burung ini membawa pertanda buruk atau seekor burung jelmaan. Ia segera pulang ke rumahnya. Betapa terkejut mendengar cerita dari istrinya, tentang anak lelakinya yang menjelma burung karena durhaka telah menghardik Ibunya saat disuruh angkat air dari sumur. Sang Bapak, menangis tersedu-sedu. Ia yakin betul bahwa burung yang mendatanginya di sawah tadi adalah jelmaan anak lelakinya satu-satunya. Kisah ini telah tersebar seantero kampung. Menjelma suatu mitos untuk tidak sembarang menangkap burung.

Kisah ini rupanya jadi alasan mengapa senapan burung itu hanya jadi pajangan. Kata Ibu, tidak boleh sembarang menangkap burung. Ibu sangat terinspirasi dari kisah itu.

Lalu, tiga atau lima tahun setelahnya. Saat saya duduk di Sekolah Menengah Pertama. Semakin banyak orang berlalu Lalang mengintai burung-burung di pepohonan. Burung-burung berjatuhan layaknya buah mangga masak terkena peluru panas. Tragedi kematian burung yang justru membanggakan para pemilik senapan. Di kios-kios klontong, peluru-peluru senapan diperjualbelikan bebas. Bagaimana kabarnya senapan kami setelah berpindah tangan? Mungkin sudah membunuh puluhan atau ratusan burung-burung. 

Tak lama berselang, kabar kematian dua anak lelaki kembar menggemparkan kampung halaman. Keduanya meninggal mendadak, sehari setelah pesta makan ratusan burung-burung hasil buruan. Mereka menangkap burung dengan memakai getah pohon Nangka. Menyantapnya dengan buas tanpa timbang-timbang. Bersama beberapa kawan, kami jadi saksi hidup bagaimana kedua anak itu melahap burung-burung kecil. Itulah kali pertama saya melihat burung-burung disajikan sebegitu banyaknya.

Hanya berselang beberapa tahun setelahnya, kampung kami seolah ditinggalkan kawanan burung. Senja hari saat baru pulang dari Sekolah Menengah Atas, saya tersadar betapa hanya ada belasan ekor burung yang melintas malu-malu di langit-langit. Sementara jumlah senapan yang beredar di kampung bahkan sudah lebih banyak dari spesies burung yang dijadikan sasaran. Kelangkaan burung seolah menandai rapuhnya ruang kebebasan manusia. Dari layar smartphone dan televisi, kabar buruk beredar tiada henti tentang senjata api yang pelurunya menyasar orang-orang tanpa kendali. Apa karena manusia memang terbiasa menggunakan senjata untuk merampas jiwa-jiwa?