Kemenhut Beberkan Tantangan Pemadaman Kebakaran Hutan di TN Way Kambas

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menghadapi tantangan serius dalam memadamkan kebakaran hutan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, akibat lokasi bergambut, akses sulit, dan sumber air yang jauh. Upaya pemadaman masih berlangsung dengan kolaborasi berbagai pihak, di tengah kekhawatiran area terbakar tahun ini akan lebih luas dari sebelumnya.

Kemenhut Beberkan Tantangan Pemadaman Kebakaran Hutan di TN Way Kambas
Ilustrasi kebakaran hutan-foto/ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com -  Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) membeberkan upaya pemadaman kebakaran hutan yang melanda wilayah Resort Kuala Penet, Kabupaten Lampung Timur, masih terus berlangsung hingga Sabtu siang, 22 Agustus 2026.

Peristiwa kebakaran yang telah terjadi sejak Jumat siang, 21 Agustus 2026, ini disebut menghadapi berbagai kendala signifikan yang mempersulit tim di lapangan.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD Zaidi, menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam penanganan kebakaran ini adalah karakteristik lokasi yang berada di kawasan bergambut.

Lahan gambut dikenal sangat rentan terhadap kebakaran dan sulit dipadamkan karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah, membara dalam waktu lama, dan sewaktu-waktu dapat muncul kembali di titik lain.

Kondisi ini memerlukan metode pemadaman khusus dan intensif yang berbeda dengan kebakaran di lahan mineral biasa.

Selain faktor lahan gambut, tim pemadam juga dihadapkan pada kesulitan akses menuju lokasi kebakaran. Jarak tempuh yang jauh dan medan yang tidak memungkinkan dilalui kendaraan memaksa sebagian tim untuk berjalan kaki.

Hal ini tentu saja memperlambat proses mobilisasi peralatan dan personel, serta menambah beban fisik bagi para petugas yang bertugas di garis depan. Keterbatasan akses ini menjadi penghalang serius dalam merespons api dengan cepat dan efektif.

MHD Zaidi menambahkan bahwa kendala lain yang tak kalah penting adalah jauhnya sumber air dari titik kebakaran. Ketersediaan air yang memadai adalah kunci dalam operasi pemadaman, terutama untuk mengendalikan api di lahan gambut yang membutuhkan volume air besar.

Jarak sumber air yang jauh mengharuskan tim untuk mencari alternatif atau menggunakan metode estafet, yang memakan waktu dan sumber daya lebih banyak. Situasi ini secara signifikan menghambat upaya pemadaman yang maksimal.

"Kondisi lapangan yang sulit, sumber air yang jauh, serta karakteristik lahan yang bergambut menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan," ujar Zaidi dalam pernyataan resminya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2