Menyelami Sensasi Ketakjuban

Klikhijau.com - Cuaca cerah dalam suatu penerbangan siang dari Makassar ke Jakarta membuat laju pesawat jadi tenang seolah tak bergerak. Dalam suasana baik dan menenangkan itu, rasa kantuk dan letih u...

Menyelami Sensasi Ketakjuban
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Cuaca cerah dalam suatu penerbangan siang dari Makassar ke Jakarta membuat laju pesawat jadi tenang seolah tak bergerak. Dalam suasana baik dan menenangkan itu, rasa kantuk dan letih usai berjalan mengitari lajur panjang Bandara Sultan Hasanuddin juga lenyap seketika. Godaan membaca buku menggerogoti setelahnya. Yah, pada suasana baik, buku adalah objek pencarian terbaik melebihi candu kopi susu siang hari.

Saya berterima kasih pada diri atas kebiasaan baik menaruh buku di dalam tas setiap bepergian. Kemanapun itu. Diantara buku kesukaan, ada satu buku yang beberapa pekan ini serasa wajib bertengger di dalam tas ransel saya: “The Anthropocene Reviewed” karya John Green. Pujian selangit saya berikan untuk John Green yang membuat saya sakau mondar-mandir setiap waktu membaca halaman demi halaman di bukunya. Tidak jarang ada buku yang membuat kita merasa merdeka menjelajahi halamannya secara arbitrer. Acapkali buku John Green saya baca dari belakang ke tengah, atau sebaliknya, berkali waktu saya buka dengan random. Selain buku “Tempat Terbaik di Dunia” yang ditulis antropolog Roanne van Voorst atau cerpen-cerpen Akutagawa Ryunosuke, buku John Green ini memikat rasa takjub saya.

Sebelum akhirnya menulis catatan ini, saya baru saja tiba di halaman 40-an buku “The Anthropocene Reviewed” . Tepat di kepingan artikel berjudul “Ketakjuban Kita”. John Green sejatinya menulis review atas Novel fenomenal F Scott Fitzgerald the Great Gatsby. John Green mengulas ringkas isi Novel namun sebagian besarnya menulis perihal kisah-kisah bagaimana novel Gatsby terbit dan bermetamorfosa dari waktu ke waktu—lagi, suatu cara tak lazim seorang me-revieu buku.

Ketakjuban saya berikutnya justru pada frase “takjub” di sesi tulisan itu. John berkata, kita (manusia) tidak pernah jauh dari ketakjuban. Karena memang, keajaiban tidak pernah berhenti (kata John di bagian lainnya). Hanya saja, perhatian kita semakin berkurang dalam memakna rasa ketakjuban. John Green memberi penilaian tiga bintang untuk rasa takjub manusia yang tanpa disadari terus melemah. Padahal kemampuan untuk takjub sejatinya satu potensi ber-manusia yang sangat pantas diakui.

[irp]

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: