Wabah Corona, Gejala Psikosomatis, dan Imajinasi Penyakit

Klikhijau.com - Wabah corona (covid-19) tidak hanya memunculkan kekhawatiran dan kecemasan bagi masyarakat, tapi secara individu gejala psikosomatis juga ada yang mengalami. Tentang Psikosomatis Psi...

Wabah Corona, Gejala Psikosomatis, dan Imajinasi Penyakit
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Wabah corona (covid-19) tidak hanya memunculkan kekhawatiran dan kecemasan bagi masyarakat, tapi secara individu gejala psikosomatis juga ada yang mengalami.

Tentang Psikosomatis

Psikosomatis berasal dari dua terma Yunani, psyche yang berarti pikiran dan soma yang berarti tubuh. Yaitu suatu penyakit yang disebabkan karena pikiran, kemudian pikiran tersebut menyebabkan tubuh menjadi sakit. Antara apa yang dirasakan dan bahaya nyata sudah tidak bisa lagi dibedakan.

Perasaan cemas ini lebih cepat menyebar dan menularnya dibandingkan dengan penyakit itu sendiri. Paparan kecemasan bisa Anda dapat darimana saja di dalam kondisi pandemi seperti sekarang. Terutama melalui informasi yang berseliweran di lingkungan terdekat hingga media sosial.

Kecemasan yang berbahaya

Kecemasan diserap oleh pikiran yang kemudian diteruskan ke tubuh.

Kecemasan mengakibatkan seseorang yang sebenarnya tidak terinfeksi wabah corona karena kecemasan bisa menyebabkan dirinya menderita gejala “mirip” dengan wabah corona.

Bisa jadi orang yang menderita psikosomatis ini datang ke petugas medis. Tapi tak menemukan penjelasan ilmiah yang tepat akan penyakit yang dialami.

Kompas sebagaimana melansir dari Psychology Today menulis, meskipun penyakit psikosomatis literally tak menular secara fisik, tapi penyakit ini dapat menular secara emosional.

Dari sumber yang sama dikutip, penelitian Wheaten dengan judul Psychological Predictors of Anxiety in Response to the H1N1 (Swine Flu) Pandemic menyatakan ketika suatu wabah dipublikasikan secara luas, bisa menyebabkan penyakit psikogenik massal.

Jika kondisi “psikogenik massal” ini terjadi, bisa menyebabkan dampak yang tak baik. Di antaranya seseorang bisa kehilangan pekerjaan akibat tak bisa bekerja dengan maksimal di tengah pandemi.

Mobilitas menjadi sangat terbatas, keinginan bermalas-malasan dan rebahan meningkat, serta untuk pekerjaan tertentu yang mengharuskan keluar rumah jadi terhambat.

Belum lagi dampak konsumerisme yang jadi kian tinggi bisa menjadikan seseorang banyak menggunakan sumber daya medis dan penimbunan pangan secara berlebihan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2