Resistensi Perempuan sebagai Elan Vital Pergerakan Ekofeminisme di Indonesia

Klikhijau.com -  Resistensi perempuan Indonesia dalam melawan ketidakadilan sosial bertumbuh sebagai pertanda menguatnya kesadaran kultural yang murni mengartikulasi perjuangan arus bawah. Di saat...

Resistensi Perempuan sebagai Elan Vital Pergerakan Ekofeminisme di Indonesia
Bacakan Artikel

Scott menggambarkan perlawanan dalam pelbagai strukturnya. Setiap ada usaha untuk mengurangi kekuatan, disitulah ada perlawanan. Perlawanan adalah tentang bagaimana membatasi dalam penerimaan terhadap kekuasaan.

Setidaknya kita bisa simak tuturan menarik Scott ini di dua karyanya, Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance dan Domination and the Art of Resistance: Hidden Transcripts.

Dalam konteks pergerakan resistensi yang seperti yang penulis jelaskan di atas, merupakan salah satu bentuk implikasi apa yang disebut Scott sebagai “perlawanan pasif” atau “perlawanan sehari-hari”. Bahkan dalam hal kepasrahan sekalipun, sebenarnya kaum tani dan ibu-ibu daesa tak benar-benar pasrah. Melainkan mewujud dalam aksi-aksi perlawanan diam dan pasif yang berlangsung saban harinya, yang bahkan menjadi suatu subkultur.

Perlawanan petani ini muncul karena ada norma-norma yang diyakini dan harus selalu diperjuangkan. Tujuan perjuangannya adalah mempertahankan tata nilai yang selama ini mereka yakini.

[irp]

Menurut Scott, dalam skala yang berkelanjutan bisa efektif. Pun dapat menjelaskan bahwa dalam pasifitas yang terkesan tunduk. Bahkan para petani itu tetap menggigit lewat gerogotan-gerogotan kecil yang akhirnya mematikan.

Sebagai bukti, dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870. Studi Jan Breman tentang tanam paksa, disimpulkan bahwa keengganan para petani yang terus berkelanjutan untuk bertindak sesuai dengan yang diperintahkan oleh pemerintah kolonial merupakan hal yang sangat menentukan dalam memundurkan dan menjatuhkan sistem tanam paksa.

Yu Patmi, petani Kendeng yang menyemen kakinya dan meninggal pada 21 Maret 2017, tahu benar hal ini. Ia tak membutuhkan buku-buku tentang ekologi dan ekonomi-politik. Bukan karena hal itu tidak penting.

Melainkan karena ketubuhan dan keseharian mereka sendiri adalah kisah tentang kerumitan ekonomi politik yang mendesak hingga ke petak-petak sawah di pedalaman. Mereka tak perlu sekolah tinggi-tinggi bagi Yu Patmi untuk bisa melakukan pergerakan masif (yang katanya kemewahan itu khas kaum terdidik).

[irp]

Dan memahami dalil ekonomi-politik yang sangat penting. Sekali seseorang kehilangan faktor produksi (sawah bagi para petani), posisinya akan sangat rentan diisap mesin besar produksi (yang mengatasnamakan develompentalisme demi kehidupan lebih modernis, katanya).

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: