Mengejutkan, Kemasan Produk Plastik dari Thailand dan China Menghuni Pantai Babana, Bulukumba

oleh -134 kali dilihat
Kemasan produk plastik dari Thailand dan China-foto/ist
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Setelah bertanya empat kali pada empat orang yang berbeda. Saya akhirnya bisa sampai di pantai Babana. Pantai yang terletak di Ujung Loe, Bulukumba.

Sebelumnya Amiruddin Mutaqqin, peneliti Ecological Observation and Wetland Conservations (ECOTON) telah mengirim lokasi pantai tersebut via WhatsApp. Namun, saya memilih tidak menggunakan Google Maps untuk sampai ke lokasi

Saya mesti menyusul langsung ke lokasi karena telat tiba di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 10 Bulukumba sebagai titik kumpul.

Begitu sampai di lokasi, aktivitas membersihkan pantai dari sampah sedang berlangsung. Saat di jalan Amiruddin Mutaqqin menelepon dua kali. Saya tak mengangkatnya. Setelah sampai lokasi baru saya tahu kalau beliau telah menelepon.

Ketika masuk area pantai, saya langsung bertemu dengan Dr. Daru Setyorini, M.Si. Beliau sedang memunguti sampah sambil membawa karung. Saya langsung bergabung dengannya memunguti sampah sambil ngobrol.

Awalnya saya mengira beliau adalah warga lokal. Namun, setelah berbincang sejenak. Saya tahu beliau bukan warga lokal. Beliau adalah direktur eksekutif ECOTON.

Perbincangan saya dengan Dr. Daru tak jauh dari masalah sampah. Menyoroti banyaknya sampah di Pantai Babana. Pantai yang menjadi muara atau hilir dari sungai Balantieng.

Babana, dalam Bahasa Konjo bisa diartikan mulutnya. Pantai Babana masih alami dan sepertinya jarang ada pengunjung mengunjunginya.

Meski jejak pengunjung nyaris tak ada, namun sampah berserakan menghuni pantai yang lautnya dijadikan tempat budidaya rumput laut itu.

“Sampahnya didominasi produk lokal, ya,” keluh Dr. Daru saat tahu jika sampah plastik yang berada di pantai Babana didominasi oleh merek lokal pada sampah jenis gelas plastik.

Banyaknya sampah yang menghuni pantai Babana yang relatif sepi itu. Bisa jadi disebabkan oleh kesadaran masyarakat yang masih kurang dalam membuang sampah.

Kesadaran masyarakat masih kurang, di jembatan sebelum jalan masuk ke pantai ini. Setiap subuh warga berjejer membuang sampah ke sungai,” beber Gusnadi, salah satu guru SMPN 10 Bulukumba.

Kemasan produk plastik asal Thailand-foto/Klikhijau
Sampah datang dari luar negeri

Aktivitas memungut sampah di pantai, bukan sekadar membersihkan pantai. Tetapi juga “mengejar” kejutan. Setiap aktivitas, selalu menawarkan kejutan yang membuat kita tercengang dan terkejut

Pada kegiatan bersih dan audit sampah yang digagas oleh ECOTON dengan melibatkan 35 siswa SMPN 10 Bulukumba itu, banyak kejutan yang ditemukan.

Namun, di antara kejutan yang mengejutkan itu adalah ditemukannya kemasan produk plastik  dari dua negara, Thailand dan China.

Bagaimana kedua kemasan plastik itu bisa sampai ke Pantai Babana. Siapa yang membawanya. Amir (sapaan akrab Amiruddin Mutaqqin) mengungkapkan bahwa sampah dari negara lain sangat mungkin ditemukan di negara lainnya.

“Sampah dari Indonesia kan bisa ditemukan di Afrika,” katanya.

Sampah, khususnya sampah plastik memiliki sifat yang ringan, sehingga sangat mudah di bawa ombak ke mana pun lalu ditelantarkan di pantai mana pun juga. Selain ringan, sifat plastik yang kuat atau awet membuatnya mampu bertahan di laut bertahun-tahun sebelum terdampar ke pantai.

Penyebab lain, bagaimana bisa kemasan plastik datang dari jarak yang jauh adalah, para awak kapal atau penumpang bisa saja ada yang membuang sampah ke laut. Sampah itu diantar ombak ke pantai

Faktor lainnya adalah lalu lintas perdagangan online memungkinkan orang lokal membeli produk luar negeri dan setelah isinya habis akan di buang ke lingkungan dan terdampar di pantai.

Namun, apa pun faktornya. Sampah kemasan plastik dari Thailand dan China yang ditemukan pada aksi bersih dan audit sampah pada hari Sabtu, 14 Sept 2024 itu sangat mencengangkan dan memprihatinkan.

Penemuan sampah tersebut membawa arti penting bagi kita, bahwa sampah yang kita buang sangat potensial mengganggu kenyamanan negara lain.

Kemasan produk plastik dengan tulisan China/foto-Ecoton
Memberi banyak pelajaran

Kegiatan aksi bersih pantai dan audit sampah tersebut diakui oleh Erniati Saleh, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 10 Bulukumba memberikan banyak pelajaran untuk menyadari bahwa sampah adalah musuh bersama. Ketika sampah-sampah tidak terkelola dengan baik, maka akan mencemari lingkungan salah satunya seperti yang terjadi penumbukan sampah di pantai Babana.

Erniati berharap melalui kegiatan tersebut para anggota Siswa Pecinta Lingkungan (Si Paling) SMPN 10 Bulukumba tergerak melakukan kegiatan-kegiatan serupa ke depannya.

Selain itu, para siswa juga menerapkan gaya hidup minim sampah dan menjadi pioneer yang mengajak teman-teman di sekolahnya.

“Kami harap anak-anak kami yang tadi (ikut aksi bersih) bisa jadi penggerak di sekolah untuk membiasakan membuang sampah pada tempatnya, makan makanan dari alam kalau bisa bawa bekal dari rumah kemudian bawa tumbler dengan moto tolak plastik sekali pakai,” harapnya.

Randa, salah satu siswa SMPN 10 Bulukumba mengaku senang dengan kegiatan tesebut. Ia berharap bisa kembali ikut berpastisipasi jika ada kegiatan serupa.

“Kegiatannya seru, saya akan ikut lagi dan saya tidak akan membuang lagi sampah di sembarang tempat, harus pada tempatnya,” katanya

Untuk meminimalkan sampah plastik di sekolah, khsusunya di SMPN 10 Bulukumba. Dr Daru menyarankan agar kembali menggunakan kemasan alami yang bukan dari plastik. Termasuk kembali memperkenalkan jajanan tradisional yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

KLIK INI:  Sampah di Lokasi Bencana Sulbar Menumpuk, Komunitas Laut Biru Turun Tangan, Aksinya Inspiratif!