Benteng Senggang, Potensi Kopi Terbesar Kedua di Bulukumba

Klikhijau.com - Perkampungan Benteng Senggang berada di Kelurahan Borong Rappoa Kindang yang juga merupakan salah satu wilayah ketinggian antara 1.200 hingga 1.500 MDPL. Wilayah terluar Kabupaten Bulu...

Benteng Senggang, Potensi Kopi Terbesar Kedua di Bulukumba
Bacakan Artikel
Anjar S. Masiga

Pegiat Lingkungan. Ia Aktif di Komunitas Kolaborasi Biru

Klikhijau.com - Perkampungan Benteng Senggang berada di Kelurahan Borong Rappoa Kindang yang juga merupakan salah satu wilayah ketinggian antara 1.200 hingga 1.500 MDPL. Wilayah terluar Kabupaten Bulukumba yang berbatasan dengan Kabupaten Bantaeng dengan potensi kopinya yang perlu perhatian bersama.

***

Membincangkan kopi Bulukumba, ingatan kita mungkin akan tertuju ke Kahayya sebagai single origin yang brandnya sudah dikenal luas dan kini mulai bersaing di pasar mancanegara. Namun potensi kopi di wilayah Kecamatan Kindang sebenarnya juga besar di wilayah Borong Rappoa. Pada pertengahan Juli 2024, penulis ikut merasakan serunya panen dan menikmati seduhan kopi di tengah kebun kopi.

Benteng Senggang merupakan pedalaman yang masih terisolir dan minim fasilitas. Penduduk di sana memang tidak banyak. Jalannya  rusak, hanya bisa diakses motor dengan pengendara berpengalaman. Saya sendiri memilih yang lebih aman, yakni berjalan kaki. Setelah sampai, kita  disambut gapura dari bambu bertulis Benteng Senggang. Kira-kira di perkampungan ini hanya sekitar 30 rumah, kemudian terpisah ada satu perkampungan bernama Katimbang, hanya sekitar 7 rumah, rumah paling luar berbatasan dengan hutan dihuni perempuan parubaya bernama Daeng Aceh.

Sekalipun hanya sedikit rumah tetapi perkebunan kopi sejauh mata memandang. Kata masyarakat menutupi kaki Gunung Lompo Battang itu sendiri, selain dari tanaman kayu. Satu kepala keluarga petani standarnya menggarap 1 hektare kebun, tetapi ada juga yang lebih. Bisa dibayangkan luasnya lahan pertanian kopi di sana.

Suasana pagi di Benteng Senggang dengan kabut dan hujan gerimis namun warga tetap beraktivitas di luar ruangan, khususnya petani sibuk di kebun kopi mereka. Jaraknya ada yang dekat, hanya di belakang atau samping rumah mereka. Menurut Nopianto dan Suharpida, pasangan suami istri yang melakukan pendampingan di sana, banyak juga petani melewati tebing-tebing untuk sampai di kebun mereka.

"Sebentar kita juga akan ke kebun yang jauh untuk memetik kopi, di kampung sebelah," jelas Nopi, sapaan akrab pria kelahiran 1994 itu sambil menunjuk ke tebing sebelah.

Kami diberitahu untuk siaga dengan kemungkinan pacet atau lintah kecil karena jalur yang dilalui lembab dan juga melewati sungai. Kami membawa bekal ubi jalar, serta perlengkapan memetik seperti tas samping yang terbuat dari karung. Kami ditemani warga lokal dan juga anak-anak. Kami bergegas setelah menyantap pisang goreng.

Jalan menuju kebun yang kami kunjungi semakin jauh semakin terjal. Sungai yang dilalui terdapat mesin pembangkit listrik tenaga micro hidro (PLTMH) yang menyuplai listrik warga khususnya di Katimbang. Disisi kiri dan kanan jalan pohon kopi dengan buahnya yang memerah, siap dipanen.

"Ini biasanya sekali dipanen karena jaraknya jauh jadi petani juga repot kalau panennya berkali-kali," kata Nopi.

Setelah 1 jam berjalan kaki, kami tiba di rumah kebun milik Saenal. Ada yang mempersiapkan karung untuk hasil petikan kopi, ada yang tinggal untuk memasak ubi. Kami hanya memetik ceri merah untuk mendukung peningkatan kualiras kopi. Dijelaskan ada beberapa varietas kopi yang sedang diidentifikasi seperti typica, lini s, kartika. Ini semua masuk dalam jenis arabica termasuk yello cattura yang konon adalah varietas arabica tertua. Secara umum petani hanya mengenal dua jenis yakni kopi bodo' (kopi pendek) untuk arabika dan kopi mere (kopi tinggi) untuk robusta.

"Beberapa varietas kita coba kembangkan, jadi ada yang kita bikin indukan untuk memperbanyak," ungkapnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2