Leuwigajah dan Kita yang Belum Berbenah?

Klikhijau.com - Masa lalu selalu aktual, kata P Swantoro menyematkan judul pada bukunya yang menulis tentang jurnalisme sejarah. “Dalam masa sekarang kita mendapati masa lalu, dalam masa sekarang juga...

Leuwigajah dan Kita yang Belum Berbenah?
Bacakan Artikel

[irp]

Lalu, setahun sebelum peristiwa naas itu, sejumlah peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Dinas Lingkungan Hidup telah mengingatkan mengenai kondisi TPA Leuwigajah yang perlu segera ditangani. Ketika itu, umur TPA tersebut memang masih sekitar lima tahun lagi, namun perlu dibenahi dan ditata.

Betapa pun, kita sudah mengambil pelajaran besar dari Leuwigajah. Banyak catatan penting mendesak untuk semua pihak berbenah. Pertama, urusan sampah adalah tanggungjawab bersama. Tetapi, di situ diperlukan suatu kebijakan serius dari pemerintah. Kedua, sampah dapat menjelma menjadi tragedi bila tidak ditangani serius. Maka, semua orang harus ikut andil menyelesaikan masalah ini.

Faktanya, di banyak daerah di Indonesia, TPA-nya masih open dumping. TPA juga masih dianggap sebagai katub terujung dari lalu lintas sampah. Pemerintah sudah berupaya keras membuat banyak gerakan penanganan sampah semisal pemilahan dari rumah—tetapi TPA kita masih saja menjadi tempat yang mencemaskan setiap saat.

Leuwigajah sejatinya dijadikan narasi berbenah secara serius dan konsisten. Apa pun kebijakan atau gerakan penanganan sampah yang dilakukan perlulah dijalankan dengan sepenuh hati. Tak sekadar suatu program yang serba simbolis.

Betapa perlu kita menjadikan tragedi Leuwigajah sebagai sesuatu yang selalu aktual dalam pikiran. Seperti kata P Swantoro, masa lalu selalu aktual. Historia docet! Sejarah itu memberi pelajaran kepada kita—kata Sindhunata. Sejarah sejatinya meuntun kita berbenah…..! Apakah kita sudah melakukannya?

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: