Leuwigajah dan Kita yang Belum Berbenah?

Klikhijau.com - Masa lalu selalu aktual, kata P Swantoro menyematkan judul pada bukunya yang menulis tentang jurnalisme sejarah. “Dalam masa sekarang kita mendapati masa lalu, dalam masa sekarang juga...

Leuwigajah dan Kita yang Belum Berbenah?
Bacakan Artikel

Dalam sekejap mata, perkampungan yang sebelumnya riuh ramai menjelma sepi dan air mata. Tidak sedikit yang kehilangan keluarga dan kerabatnya. Lalu, harus berkawan dengan trauma mendalam setiap kali terbayang TPA Leuwigajah.

Doa-doa dipanjatkan keluarga korban dan warga sekitar setiap 21 Februari yang kemudian dikonversi menjadi Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

[irp]

Lima belas tahun lalu, waktu yang sudah cukup lama tapi ingatan kita terus terkenang. Walau Kampung Adat Cireundeu, di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, telah bertransformasi menjadi salah satu tempat paling menarik di Kota Cimahi. Tidak bagi ingatan dan luka mendalam yang karang dalam hati.

HPSN dan upaya terus berbenah

Maka, peringatan HPSN adalah refleksi tentang kita yang lengah dan tidak pandai belajar pada kesalahan masa lalu. Seperti sebuah narasi: biasanya kesadaran manusia muncul setelah merasakan dampak dari kerusakan alam yang telah dibuatnya, setelah itu barulah manusia mencari cara untuk melakukan upaya memperbaiki kerusakan alam yang ada.

Apa yang terjadi di Leuwigajah bukanlah sesuatu yang serta merta terjadi. Menurut catatan yang dihimpun Itoc Tochija dan Budiman dalam bukunya Tragedi Leuwigajah (2005), sebelumnya Leuwigajah telah mengalami dua kali longsor.

Longsor pertama terjadi pada tahun 1990. Ketika itu tidak menelan korban jiwa dan harta benda karena longsorannya berskala kecil. Maklum, saat itu volume sampahnya juga relatif masih sangat rendah. Kejadian kedua, terjadi tahun 1994. Lonsoran sampah itu juga tidak merenggut jiwa manusia tetapi menimbun tujuh rumah penduduk.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: