Perihal Pakkai' dan Lelaki yang Penasaran pada Kopi

Perihal Pakkai' dan Lelaki yang Penasaran pada Kopi
Pakkai/Pengait yang digunakan untuk memetik kopi-foto/Ist
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Seorang lelaki sedang duduk sendiri di sebuah kafe. Ia memilih meja paling sudut.  Pada ruang terbuka yang membuatnya leluasa mengembuskan asap rokoknya. Tanpa perlu membuat orang batuk-batuk atau memerihkan matanya.

‎‎Di depannya tersaji segelas kopi susu dari jenis robusta. Masih mengepul. Baru tiga kali ia sesap.  Ia lebih memilih kopi robusta daripada arabika. Selalu begitu. Ada cerita tak akan menua kenapa pilihannya demikian.

‎‎Jatuh cintanya pada kopi robusta adalah jatuh cinta yang aneh bin ajaib, karena seorang perempuan. Perempuan itu memperkenalkan kopi robusta dari Selatan kotanya. Awalnya, ia hanyalah penikmat teh. Lalu semuanya berubah begitu ia bertemu perempuan itu.

Lambungnya yang awalnya tak cocok dengan kopi tetiba saja bisa berdamai tanpa syarat. Sejak saat itu, ia menyukainya sepenuh-penuhnya.

‎‎Sejak saat itu pula, ia mulai tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan kopi. Terkadang ia berpikir apakah dirinya benar-benar tertarik pada kopi atau pada perempuan itu? Jawabannya selalu saja menggantung.

Setiap ia mengingat perempuan itu, pada saat bersamaan ia ingin menyesap kopi, dan setiap menyesap kopi, pikirannya akan mengunci pada perempuan itu.

Keduanya menjadi tak terpisahkan. Dan rasa penasaran kian tumbuh—menyuburkan dirinya sendiri.  Ia selalu penasaran, bagaimana kopi robusta itu sampai ke hadapannya. Meresap lembut ke lambungnya dan berdamai.

Namun, rasa penasaran itu akan segera menguap. Perempuan yang membuatnya jatuh cinta pada kopi robusta tak lama lagi akan sampai.  Tujuh belas menit yang lalu, perempuan itu sedang menuju kafe di mana ia berada.

‎‎Ia tahu, kopi robusta di kampung perempuan itu tak dipangkas, dibiarkan tumbuh meninggi saja. Sementara batangnya cukup besar. Entah bagaimana cara petani di sana memetik buahnya. Apakah dipanjat atau ditebangi atau hanya dirundukkan saja, tapi dengan alat apa?.

‎‎Saat perempuan itu dan ia menjelaskan cara memetiknya, maka akan menggenapi data yang dibutuhkan untuk tesisnya. Data yang akan mengantarnya menyegel gelar Magister Pertanian. Ia memilih meneliti kopi robusta. Baginya, kopi bukan sekadar minuman, lebih dari itu, adalah pengepul asap dapur jutaan orang.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Tim Redaksi

Artikel ini disusun oleh tim redaksi