Lelaki yang Menjelma Api

Ripangkana ia diremasi sedih. Tangisnya meruah dalam penantian. Rasa takut memalut dirinya—taku kamu tak akan pulang. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggumu. Seakan kamu adalah napas ter...

Lelaki yang Menjelma Api
Bacakan Artikel

Menangislah jika sampai di mata air itu, menangislah demi aku!” teriaknya.

Kabut turun menyelimuti ketiga kampung tersebut. Membuat warga saling menebak siapa di sampingnya. Cahaya berpendar dari arah Sinosino.

Ia telah dijemput tampa kora,” ungkap seseorang, dari suara orang itu. Ia tahu jika itu suara bapakmu. Suaranya berat, bergetar menahan sedih.

Namun, semua orang tahu pemuda yang terpilih memasuki jalan itu adalah pemuda pilihan. Tak sembarang yang terpilih, harus dilihat dari garis keturunan, kebaikan, dan tentu saja ia harus perjaka.

Ripangkana, ia menunggu dan menangis. Minggu pertama pergimu adalah pikulan paling berat baginya.

Air matanya berubah nanah, membusuk oleh luka. Dan di matanya hujan terus saja menderas. Tiap hari, ia akan menunggu ripangkana, duduk di pos ronda yang berbau kencing anjing

Ia duduk dan menangis ripangkana, tatapannya tak pernah berpaling dari jalan itu. Jalan yang kamu lewati tiga bulan lalu kembali seperti semula. Tak ada bentangan jalan raya, yang ada hanya jalan setapak serta belukar dan bau rumput yang disukainya. Banyak warga meyakini kamu belum temukan mata air yang menghidupi ke tiga kampung bertetangga itu. Rasa airnya belum berubah, masih pahit.

Perjalanan tumbal

Apa kamu akan menjadi orang kedua puluh dua yang kembali dari petualang tumbal tersebut atau menjadi santapan kampung Sinosino yang mengerikan. Tapi, kamu bisa bertarung dengan penunggunya, bukan? Kamu harus kembali, bagaimana cara ia melanjutkan hidup tanpamu. Sekembalimu nanti, kamu akan menikahinya.

Bagi pemuda yang kembali dari tualang tumbal, bebas memilih perempuan mana pun yang ingin dinikahinya. Dan pilihanmu jatuh kepadanya. Perempuan yang menunggumu dipos ronde dengan doa dan harapan yang terus saja melangit tanpa jeda.

Ripangkana ia menangis dan menunggumu. Di kampung Singara, kampungnya, tak ada kata menyerah dari menunggu. Tak ada kata tiada bagi yang pergi, kata kembali adalah kata wajib diucapkan sebelum kata amin menutup tiap doa. Tapi, ia berani mengganti kata “kembali” itu dengan namamu. Baginya namamu adalah perihal yang harus diucapkan dalam doanya sebelum kata amin menutupnya.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: