Lelaki yang Menjelma Api

Ripangkana ia diremasi sedih. Tangisnya meruah dalam penantian. Rasa takut memalut dirinya—taku kamu tak akan pulang. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggumu. Seakan kamu adalah napas ter...

Lelaki yang Menjelma Api
Bacakan Artikel

Ripangkana ia diremasi sedih. Tangisnya meruah dalam penantian. Rasa takut memalut dirinya—taku kamu tak akan pulang.

Tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggumu. Seakan kamu adalah napas terakhir yang harus diembuskan sebelum mautnya tiba. Ia tak mungkin lepas tanpamu. Dadanya terasa dililit temali.

Jalanmu adalah jalan lurus itu, dan semua orang tahu itu jalan menuju ruang lain yang tak kasat mata.

Jika dihitung baru dua puluh satu orang yang berhasil kembali setelah menjejakinya. Padahal jalan itu tiap hari dilewati warga yang hendak ke kebun.

Namun, pada waktu tertentu jalan tersebut jadi penentu kelangsungan napas ketiga kampung yang bertetangga, Sassang, Pa’mae’, dan Singara.

Detak ketiga kampung bertetangga itu ada di Sinosino—tempat yang kamu tuju . Cukup sulit menemukan Sinosino, kampung yang tak berpenghuni. Sebab jalannya hanya terlihat pada waktu tertentu.

Jika ripangkana—jalan bercabang itu, jika dari Kampung Singara—timur ke barat lambusu ‘lurus’ saja sebab belok kiri menuju Kampung Sassang, dan ke kanan akan menuju kampung Pa’mae’.

Ripanggana  ia menunggu dan menangis dengan cemas. Sarung batik terlilit di pinggangnya. Ia duduk di pos ronda yang berbau kencing anjing.

Pos itu tak lagi berfungsi sebagaimana seharusnya. Tak ada warga yang rela ronda, berjaga hingga subuh agar pencuri tak memasuki ketiga kampung tersebut.

Doa yang tak menyerah

Setiap tahun, tetua ketiga kampung akan berunding menentukan siapa yang akan memasuki Sinosino. Jalan menuju Sinosino yang tak berpenghuni itu akan berbentuk jalan raya jika kabut turun, sekali dalam setahun.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: