Lelaki yang Menjelma Api

Ripangkana ia diremasi sedih. Tangisnya meruah dalam penantian. Rasa takut memalut dirinya—taku kamu tak akan pulang. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menunggumu. Seakan kamu adalah napas ter...

Lelaki yang Menjelma Api
Bacakan Artikel

Pada hari-hari biasa, hanya berbentuk jalan setapak. Jika tak mengutus seorang pemuda memasuki kabut, kabut tak akan pernah enyah dan akan membutakan mata semua warga.

Pernah dulu, pada tahun yang tak dicatat sejarah, hanya diiringi dengan kata bede’ yang menandakan ada keraguan di dalam kisahnya yang tersohor. Warga membandel, tak mengutus pemuda memasuki jalan lurus membentang tanpa ujung tepi itu, kabut tak pergi selama sembilan bulan, mata semua warga buta.

Di ujung Sinosino terdapat mata air, seorang pemuda yang dipilih tetua kampung harus mendatanginya, meneteskan air mata pada mata air itu, juga darah dari ujung jari telunjuknya. Namun, tak semua pemuda yang berhasil sampai pada mata air tersebut bisa menangis.

Jika itu terjadi, ia tak akan pernah menemukan jalan pulang, matanya hanya bisa melihat satu warna; hitam. Tak ada putih, tak ada merah, tak ada warna dalam hidupnya, dan ingatannya tergerus.

“Jika kamu sampai di mata air itu, ingat ada aku di sini, ripangkana menunggumu dengan segala doa yang bisa dipanjatkan seorang kekasih untuk kekasihnya. Aku akan menunggumu, melebihi matahari yang menunggu datangnya pagi agar cahayanya bisa tiba ke bumi. Aku akan menunggumu, melebihi bayi yang menunggu air susu ibunya menetes, aku akan menunggumu, aku menunggumu, menunggumu.” Suaranya menghilang di dadamu.

Saat memelukmu, ia memasukkan rokok dan korek ke saku jaketmu. Ia melakukannya karena tak ingin kamu kedinginan di dalam borong ‘hutan’. Padahal membawa korek dan rokok adalah pantangan.

Menangislah demi aku!

Sejak itu, ia tahu harus menjelma jadi perempuan tangguh. “Aku akan bawakan sepasang du’du pedo’ ‘capung memiliki corak indah yang menghuni sungai atau tempat berair’ di mata air yang akan kamu tuju.

Di sana, konon ada ribuan jenis du’du pedo’ . Sejak kecil, ia dan kamu sering bermain menangkap du’du’ ‘capung’. Kenangan masa kecil itu mengantarnya mencintaimu

Aku akan tunggu di situ,” katanya sambil menunjuk pos ronda yang dipenuhi batang kopi untuk kayu bakar.

Kamu hanya mengusap rambutnya lalu melangkah memasuki jalan yang membentang di hadapanmu –yang ia tahu bisa saja merampasmu darinya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: