Kenalkan Crunomys Tompotika, Spesies Baru Tikus Hutan dari Sulawesi

oleh -31 kali dilihat
Tengkorak kepala spesies baru tikus hutan endemik Sulawesi-foto/Brin

Klikhijau.com – Ukuran tubuhnya sedang. Ekor relatif pendek dari pada panjang tubuhnya. Bulunya rapat dengan tekstur khas kelompok Crunomys.

Itulah gambaran singkat dari Crunomys tompotika. Spesies baru tikus hutan endemik Sulawesi yang belum lama ini ditemukan.

Tikus ini ditemukan di kawasan Gunung Tompotika, Sulawesi Tengah. Penemunya adalah Tim peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama mitra riset dari Amerika Serikat, Australia, Prancis, dan Malaysia.

Penemuan Crunomys tompotika sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut, baik terkait ekologi maupun interaksinya dalam ekosistem hutan Sulawesi.

KLIK INI:  Spesies Baru Katak Pohon Kembali Ditemukan di Tanah Sulawesi

“Data ini diharapkan menjadi pijakan penting memperkuat kebijakan konservasi dan memacu riset lanjutan dalam mendokumentasikan kekayaan hayati Indonesia,” ujar Peneliti PRBE BRIN, Anang Setiawan Achmadi

Anang juga menjelaskan,  habitat Crunomys tompotika  berupa hutan pegunungan alami dengan vegetasi lebat yang relatif masih terjaga.

“Penemuan ini menambah daftar panjang mamalia endemik Sulawesi yang terus bertambah seiring eksplorasi lapangan yang lebih intensif,” kata Anang.

Lebih jauh, Anang menguraikan bahwa penemuan spesies baru Crunomys dari Sulawesi ini membuka jendela baru terhadap sejarah evolusi hewan kecil di wilayah Wallacea, serta menegaskan pentingnya klasifikasi ulang pada tingkat genus untuk memahami keanekaragaman mamalia Indonesia secara lebih akurat.

KLIK INI:  Perihal Raden dan 7 Fakta Unik Anoa yang Jarang Terungkap

Selain mendeskripsikan spesies baru, jelas Anang, penelitian ini merevisi taksonomi besar dengan menyatukan seluruh anggota Maxomys (tikus berduri/spiny rats) ke dalam genus Crunomys.

“Analisis ribuan penanda DNA, termasuk data genomik resolusi tinggi, menunjukkan bahwa Maxomys tidak membentuk kelompok yang utuh (non-monofiletik) jika dipisahkan dari Crunomys. Oleh karena itu, revisi ini dianggap paling tepat untuk mencerminkan hubungan evolusi sebenarnya,” jelas Anang.

KLIK INI:  Ruang Hijau Perkotaan Lebih Berdampak bagi Kesehatan Mental Perempuan
Pentingnya penelitian biodiversitas secara berkelanjutan

Penelitian ini merupakan bagian dari kajian sistematika dan biogeografi mamalia Asia Tenggara yang menyoroti keragaman tikus hutan. Hasil studi menunjukkan bahwa Sulawesi, dengan sejarah geologinya yang unik, kembali menghadirkan temuan penting bagi dunia sains.

“Penemuan Crunomys tompotika menunjukkan pentingnya eksplorasi lapangan dan kolaborasi internasional dalam mengungkap keragaman mamalia di Sulawesi. Hasil ini menjadi bukti nyata bahwa masih banyak kekayaan hayati Indonesia yang menunggu untuk dipelajari lebih dalam,” kata Anang.

KLIK INI:  Malnutrisi, Krisis Kesehatan Anak Terburuk di Dunia

Kolaborasi lintas negara, sambung dia, memungkinkan pemanfaatan teknologi genomik terkini serta memperluas cakupan data biogeografi, sehingga menghasilkan kesimpulan yang lebih komprehensif mengenai sejarah evolusi mamalia di Asia Tenggara.

Sejak 2012, lebih dari 20 spesies baru mamalia berhasil dideskripsikan dari Sulawesi, menunjukkan betapa kayanya fauna endemik yang terus diungkap melalui penelitian.

Dengan adanya tambahan spesies baru, para ahli menegaskan pentingnya upaya eksplorasi biodiversitas di kawasan Wallacea, yang hingga kini masih kurang terwakili dalam studi biologi dibandingkan kawasan lain di Indonesia.

KLIK INI:  Kenapa Penting Mengompos Sendiri dan Apa Keuntungannya?