Jaga Fungsi Hutan, Solusi Cegah Bencana Banjir

oleh -120 kali dilihat
Jaga Fungsi Hutan, Solusi Cegah Bencana Banjir

Maros, Klikhijau.com – Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung hadiri workshop lingkungan hidup dan tanggap bencana yang digagas Ukhuwah Fondation. Workshop sehari ini berlangsung Minggu (17 Februari 2019) di Auditorium Prof. Dr. Ibrahim Marwan, Maros.

Bencana banjir bandang yang menimpa beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan akhir Januari lalu menjadi tema perbincangan. “Bencana Ekologi, Di Antara Maksiat dan Kejahilan Generasi,” adalah tema bahasan.

Sebanyak enam orang delegasi wakili balai taman nasional hadiri workshop lingkungan hidup ini. Panitia berhasil mendatangkan anggota DPR RI dari Komisi VII yang membidangi lingkungan hidup. Beberapa narasumber ekologi juga turut memaparkan materinya.

Suara merdu santri Darul Istiqomah, melantunkan ayat suci Al Quran membuka acara. Sekda Maros mewakili Bupati Maros menyampaikan sambutan, sekaligus membuka acara workshop. Sekda menyatakan banjir yang terjadi akibat cuaca ekstrem dan rusaknya ekosistem. Kerusakan akibat penebangan oleh oknum masyarakat sekitar hutan. Mereka yang kurang menyadari fungsi dan manfaat hutan tersebut.

KLIK INI: Kisah Sampah yang Menghuni Sepanjang Jalan Nusantara

Sambutan Bupati Maros secara tertulis, mengapresiasi atas terselenggaranya workshop ini. Memberikan pengetahuan dan meningkatkan persatuan masyarakat serta aparat pemerintah. Bersinergi melaksanakan tugas dan fungsinya dalam menjaga lingkungan. Berharap peserta workshop menjadi contoh dalam menjaga lingkungan kepada masyarakat di hulu dan hilir sungai, termasuk menjaga hutan mangrove.

Anggota Komisi VII DPR RI Dr. Andi Yuliana Faris juga menyampaikan sambutannya. “Sulawesi Selatan mengalami krisis air dan banjir yang disebabkan adanya penebangan hutan secara berlebihan,” pungkas Dr. Andi Yuliana Faris, anggota Komisi VII DPR RI.

Yuliana juga menyoroti perubahan alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman dan perladangan menyebabkan bagian hulu sungai rusak. Akibatnya air hujan yang turun langsung menuju hilir dengan cepat. Ia juga memerhatikan Sungai Marusu Baru, pada musim kemarau penuh dengan sampah plastik. Menumpuk hingga kemudian memberi sumbangsi terjadinya banjir.

“Kami himbau kepada ibu-ibu untuk mengganti kresek plastik dengan tas kain saat berbelanja. Pada sekolah-sekolah, guru dan siswa dibagikan tumbler. Termasuk bantuan energi terbarukan berupa energi tenaga surya pada desa yang belum masuk listrik, pembagian motor sampah, masyarakat bisa menjual sampah pada bank sampah, mengajarkan anak TK tentang lingkungan, adalah program-program yang saat ini dijalankan Komisi VII,” terang Yuliana.

KLIK INI: Kapus P3E Suma: Dua Strategi Pengurangan Sampah, Tetapi Perilaku Masyarakat Kuncinya

“Saat ini, komisi kami juga sedang merancang undang-undang energi terbarukan,” tambahnya.

“Untuk krisis air di Sulawesi Selatan, solusinya adalah menanam pohon sebanyak-banyaknya, bukan dengan membuat sumur sumur bor yang menelan biaya ratusan juta rupiah,” Yuliana memberi pencerahan.

Paparan materi workshop menampilkan tiga narasumber. Tamsil Linrung, selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, menyampaikan bahwa terjadi alih fungsi areal berhutan menjadi perumahan dan industri antara tahun 2003 hingga 2013. Karenanya, sangat tak dapat dipungkiri bahwa bencana alam yang terjadi adalah ulah tangan manusia itu sendiri.

Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar, Sekertaris Tim Geospasial Antisipasi Bencana Bakosurtanal, memaparkan tentang bencana ekologi. Memaparkan secara gamblang tipe-tipe bencana, manajemen penanganan hingga pemetaan resiko bencana. Menariknya, bahwa semua jenis bencana ada di Indonesia hingga layak disebut supermarket bencana.

Fahmi juga mengungkapkan bahwa dalam sejarah banjir bandang besar yang melanda Maros selama 23 jam adalah yang pertama kalinya dalam sejarah.

KLIK INI: Lestarikan Lingkungan Pesisir dan Laut, KLHK Gelar Aksi Bersih Pantai di Cirebon

Narasumber terakhir, Dr. Syahrir Nuhun Lc, M.Th.I, pakar hadits dan lulusan Al-Azhar Mesir. “Bencana yang melanda bumi sudah menjadi kehendak Allah SWT., di mana semua itu atas campur tangan manusia. Apabila manusia sudah melakukan kemaksiatan maka bencana akan melanda sebagaimana termaktub dalam kitab suci Al Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW,” terang Syahrir.

Kesimpulan yang dapat dipetik dari workshop ini, perlunya peran semua lapisan masyarakat untuk membantu pemerintah. Menjaga keberadaan kawasan hutan sebagai penampung air sementara. Menjaga air hujan tidak langsung menuju hilir dengan cepat. Dengan begitu bencana banjir dapat terhindarkan.

Sumber: Ramli – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung