Ikan Asap Tritiro, Kuliner Khas Bulukumba yang Tumbuh dari Modal Rantau

Klikhijau.com - Aroma ikan asap menyambut di sebuah rumah permanen di Jalan Pendidikan, Desa Tritiro. Aromanya khas, membuat selera makan segera berontak. Usaha ikan asap yang telah ada sejak tahun...

Ikan Asap Tritiro, Kuliner Khas Bulukumba yang Tumbuh dari Modal Rantau
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Irhyl R  Makkatutu

Artikel terbaru dari Irhyl R Makkatutu (lihat semua)

Klikhijau.com - Aroma ikan asap menyambut di sebuah rumah permanen di Jalan Pendidikan, Desa Tritiro. Aromanya khas, membuat selera makan segera berontak.

Usaha ikan asap yang telah ada sejak tahun 1992 itu. Kemarin, Jumat, 7 November 2025 disambangi oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Bulukumba bersama 40 orang perwakilan dari 40 desa di Bulukumba.

Ke 40 orang itu adalah peserta pelatihan Pengelolaan Desa Wisata. Kegiatan yang awalnya dijadwalkan 3 hari itu, Jumat-Sabtu, 6-8 November 2025, karena berbagai pertimbangan, akhirnya hanya berlangsung selama 2 hari.

Meski ada "pemangkasan" waktu, semua agenda pelatihan berjalan sebagaimana mestinya. Kunjungan ke Desa Tritiro, Kecamatan Bontotiro menjadi  “agenda puncak” dari kegiatan pelatihan tersebut.

[irp]

Dipilihnya Desa Tritiro sebagai tempat studi lapangan, sebab desa tersebut memiliki keistimewaan, bukan hanya karena memiliki pantai Sapobatu yang indah, tetapi juga menjadi desa paling bungsu yang menyandang sebagai Desa Wisata yang ditetapkan oleh Bupati Bulukumba.

Desa Tritiro melengkapi angka infinity dari jumlah desa wisata Bulukumba, yakni angka 8. Sebuah angka yang tak mengenal kata putus, terus bersambung satu sama lain dan saling melengkapi.

Tempat pengasapan ikan bukan satu-satunya yang dikunjungi oleh peserta pelatihan, ada dua tempat sebelum sampai ke tempat yang kini "diasuh" oleh Evi Sulastri itu.

Jika semua perantau adalah petarung nasib, maka Evi juga demikian. Dan setelah cukup lama mencicipi aroma rantau di tanah Kalimantan, ia akhirnya memutuskan pulang kampung, meneruskan usaha pengasapan ikan orangtuanya, Siti Marniati.

[irp]

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2