Tempe sumber Protein Terbaik yang Tidak dimiliki Negara Lain

oleh -19 kali dilihat
Menanti Terobosan Tempe sebagai Warisan Kuliner Budaya UNESCO
Tempe-foto/Pixbay

Klikhijau.com – Kesederhanaan sepotong tempe yang tersaji di meja makan, tersimpan narasi panjang tentang kecerdasan leluhur bangsa Indonesia dalam mengolah pangan.

Tempe bukan sekadar lauk pauk pendamping nasi, melainkan sebuah mahakarya bioteknologi tradisional yang lahir dari rahim budaya Jawa dan kini diakui sebagai salah satu sumber protein nabati terbaik di dunia.

Berbeda dengan tahu yang teknik pembuatannya dibawa oleh imigran Tiongkok, tempe adalah produk asli Nusantara. Catatan dalam Serat Centhini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa telah mengonsumsi tempe setidaknya sejak abad ke-16, menjadikannya warisan kuliner yang tidak dimiliki secara historis oleh negara lain mana pun di dunia.

Kekuatan utama tempe terletak pada proses fermentasinya yang unik menggunakan kapang Rhizopus oligosporus. Melalui proses ini, kedelai yang keras bertransformasi menjadi padatan putih bertekstur empuk dengan aroma kacang yang khas.

KLIK INI:  Ditunjuk Kembangkan P2L Oleh Kementan, UNHAS Ajak Masyarakat Menanam di Pekarangan

Secara ilmiah, proses fermentasi ini bukan sekadar mengubah tekstur, melainkan melakukan “prapencernaan” terhadap nutrisi kedelai. Kapang tersebut memecah senyawa kompleks seperti protein, lemak, dan karbohidrat menjadi molekul yang lebih sederhana.

Hal inilah yang membuat protein dalam tempe jauh lebih mudah diserap oleh tubuh manusia dibandingkan dengan kacang kedelai rebus biasa atau sumber protein nabati lainnya.

Kekayaan Kandungan Tempe

Penelitian yang dipublikasikan dalam berbagai jurnal pangan internasional sering kali menyoroti profil nutrisi tempe yang luar biasa. Salah satu keunggulan yang sulit ditandingi adalah kandungan vitamin B12-nya.

Secara umum, vitamin B12 hanya ditemukan pada produk hewani, namun berkat aktivitas bakteri yang menyertai proses fermentasi tempe, makanan ini menjadi satu-satunya sumber nabati yang mengandung vitamin penting tersebut dalam jumlah signifikan.

Kehadiran vitamin B12 menjadikan tempe sebagai penyelamat bagi kelompok vegetarian dan vegan di seluruh dunia untuk menghindari risiko anemia dan kerusakan sistem saraf tanpa harus mengonsumsi daging.

KLIK INI:  Sekolah Lapang Permakultur Bangun Kemandirian Pangan Warga Pesisir Tanakeke

Selain protein yang tinggi, tempe kaya akan senyawa isoflavon yang berfungsi sebagai antioksidan kuat. Isoflavon dalam tempe, seperti genistein dan daidzein, telah terbukti secara klinis dalam berbagai studi medis memiliki kemampuan untuk menangkal radikal bebas, menjaga kesehatan jantung, hingga menurunkan risiko kanker tertentu.

Uniknya, kadar isoflavon aglikon dalam tempe jauh lebih tinggi daripada kedelai mentah karena proses enzimatik selama fermentasi. Hal ini membuktikan bahwa tempe bukan sekadar makanan pengenyang, melainkan pangan fungsional yang bekerja aktif menjaga metabolisme tubuh dari dalam.

Keistimewaan lain yang sering luput dari perhatian adalah peran tempe sebagai probiotik dan pengaruhnya terhadap kesehatan usus. Meskipun sebagian besar bakteri baik mati saat tempe dimasak, struktur serat pangan dan senyawa hasil fermentasinya tetap memberikan efek prebiotik yang mendukung pertumbuhan mikrobiota usus yang sehat.

Dalam dunia kedokteran modern, kesehatan usus dianggap sebagai kunci utama sistem kekebalan tubuh. Dengan rutin mengonsumsi tempe, masyarakat Indonesia secara tidak sadar telah mempraktikkan pola makan sehat yang menjaga keseimbangan sistem imun mereka sejak berabad-abad yang lalu.

Dilihat dari sisi ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, tempe menawarkan solusi protein masa depan yang sangat efisien. Dibandingkan dengan produksi daging sapi yang membutuhkan lahan luas dan air dalam jumlah masif serta menghasilkan emisi karbon tinggi, produksi tempe jauh lebih ramah lingkungan.

Tempe mampu menyediakan jumlah protein yang setara dengan daging dengan jejak karbon yang sangat minimal. Hal ini menjawab tantangan krisis pangan global di mana dunia mulai beralih mencari alternatif protein nabati yang berkelanjutan. Indonesia, sebagai negara asal tempe, memegang kunci utama dalam diplomasi kuliner dan solusi gizi global ini.

Namun, tantangan besar muncul ketika negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa mulai melirik potensi besar tempe.

Banyak ilmuwan asing yang melakukan riset mendalam terhadap Rhizopus oligosporus dan mencoba mematenkan proses pembuatan tempe di negara mereka. Inilah mengapa perlindungan terhadap indikasi geografis dan pengakuan internasional terhadap tempe sebagai warisan budaya takbenda dari Indonesia sangatlah krusial.

Tempe adalah identitas nasional; ia mencerminkan filosofi kesederhanaan yang menyimpan kekuatan besar. Tanpa upaya pelestarian dan riset yang berkelanjutan dari dalam negeri, kita berisiko kehilangan kedaulatan atas makanan yang kita ciptakan sendiri.

Secara tekstur dan rasa, tempe memiliki fleksibilitas luar biasa dalam dunia kuliner. Ia bisa digoreng renyah, dibacem dengan bumbu manis, disayur, atau bahkan diolah menjadi steak dan burger dalam sajian modern.

Kemampuan tempe untuk menyerap bumbu dengan sempurna menjadikannya favorit para koki internasional yang kini mulai memasukkan tempe ke dalam menu restoran bintang lima di London, New York, dan Paris. Namun, bagi masyarakat Indonesia, tempe tetaplah “makanan rakyat” yang egaliter, yang bisa dinikmati oleh semua lapisan ekonomi tanpa sekat sosial.

Pemanfaatan tempe dalam mengatasi masalah gizi buruk seperti stunting juga menjadi fokus riset kesehatan di Indonesia. Kandungan kalsium dalam tempe hampir setara dengan susu sapi, yang sangat penting untuk pertumbuhan tulang anak-anak.

Dengan harga yang terjangkau, tempe menjadi senjata paling ampuh bagi pemerintah dan tenaga kesehatan untuk memastikan kecukupan gizi generasi mendatang. Integrasi tempe ke dalam program gizi nasional bukan hanya soal penghematan biaya, tetapi juga soal mengoptimalkan potensi lokal yang sudah teruji secara empiris dan ilmiah.

Penting bagi kita untuk melihat tempe dengan sudut pandang baru yang lebih bangga. Tempe adalah superfood atau pangan super yang diakui dunia karena kelengkapan nutrisinya. Dunia sedang belajar dari Indonesia tentang bagaimana cara mengubah kacang kedelai menjadi emas nutrisi.

Sebagai pemilik sah warisan ini, sudah sepatutnya kita terus mendukung inovasi pengolahan tempe agar tetap relevan dengan zaman tanpa kehilangan jati diri tradisionalnya. Tempe adalah bukti nyata bahwa teknologi pangan paling maju sekalipun tidak selalu lahir dari laboratorium modern yang dingin, melainkan dari kearifan lokal yang hangat di dapur-dapur rumah tangga Nusantara.