Enno, Pilot Perempuan Bidang Pemetaan KLHK dan Kisahnya yang Maskulin

Klikhijau.com - Betapa pun jua, budaya Indonesia memang berbau maskulinitas. Dalam banyak konteks, semisal berkaitan dengan profesi dan pekerjaan budaya kita cenderung bias gender. Pria diasumsikan...

Enno, Pilot Perempuan Bidang Pemetaan KLHK dan Kisahnya yang Maskulin
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Betapa pun jua, budaya Indonesia memang berbau maskulinitas. Dalam banyak konteks, semisal berkaitan dengan profesi dan pekerjaan budaya kita cenderung bias gender.

Pria diasumsikan lebih kuat, dan berkonsentrasi pada kesuksesan material. Sebaliknya, wanita diharapkan lebih rendah hati, penuh kasih, dan memperhatikan mutu kehidupan. Kultur ini juga tak lepas dalam dunia pekerjaan, sebut saja penerbangan.

Indonesia memiliki banyak pilot, mulai yang menerbangkan pesawat sayap tetap, helikopter, pesawat ringan, hingga pesawat militer. Namun jumlah perempuan Indonesia yang mengawaki pesawat berbagai jenis boleh dikata masih sangat sedikit, jika dibanding dengan pria.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki divisi pemetaan udara yang bekerja dengan dukungan belasan pilot trike. Dan di dalamnya Enno (sapaannya) adalah satu-satunya perempuan pada barisan perempuan di ketinggian.

Theresia Irna Susilojati

Terlahir dengan nama Theresia Irna Susilojati, wanita yang menghabiskan masa kanak-kanak hingga SMA di Jakarta itu membenarkan pandangan sebagian pendapat bahwa maskulinitas tidak pernah berhubungan dengan gender, atau jenis kelamin.

[irp posts="3925" name="Tyas, Perempuan yang Bertarung Menyelamatkan Hutan di Sumatera dan Kalimantan"]

Pilot berlatar belakang pecinta alam yang dikenal dengan nama Silvagama di Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada ini juga memiliki hobi fotografi, traveling, dan handal sebagai barista.

Segudang aktivitas luar ruang digeluti lajang kelahiran Jakarta, 2 September 1984 ini. Sebut saja, hutan, gunung, sungai, gua hingga bermain mobil gardan ganda adalah hobi yang sempat digelutinya.

Selepas kuliah pada tahun 2008, Enno bekerja sebagai marketing dan public relation pada sejumlah perusahaan selama 2 tahun.

Merasa tidak menemukan kecocokan, ia mendaftar saat ada seleksi pegawai di Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XII Kementerian Kehutanan, dan ditempatkan di Tanjungpinang, tahun 2010 silam.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: