Enno, Pilot Perempuan Bidang Pemetaan KLHK dan Kisahnya yang Maskulin

Publish by -105 kali dilihat
Penulis: Kartika Puspitasari, S.Hut
Enno, Pilot Perempuan Bidang Pemetaan KLHK dan Kisahnya yang Maskulin
Theresia Irna Susilojati

Klikhijau.com – Betapa pun jua, budaya Indonesia memang berbau maskulinitas. Dalam banyak konteks, semisal berkaitan dengan profesi dan pekerjaan budaya kita cenderung bias gender.

Pria diasumsikan lebih kuat, dan berkonsentrasi pada kesuksesan material. Sebaliknya, wanita diharapkan lebih rendah hati, penuh kasih, dan memperhatikan mutu kehidupan. Kultur ini juga tak lepas dalam dunia pekerjaan, sebut saja penerbangan.

Indonesia memiliki banyak pilot, mulai yang menerbangkan pesawat sayap tetap, helikopter, pesawat ringan, hingga pesawat militer. Namun jumlah perempuan Indonesia yang mengawaki pesawat berbagai jenis boleh dikata masih sangat sedikit, jika dibanding dengan pria.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki divisi pemetaan udara yang bekerja dengan dukungan belasan pilot trike. Dan di dalamnya Enno (sapaannya) adalah satu-satunya perempuan pada barisan perempuan di ketinggian.

Theresia Irna Susilojati

Terlahir dengan nama Theresia Irna Susilojati, wanita yang menghabiskan masa kanak-kanak hingga SMA di Jakarta itu membenarkan pandangan sebagian pendapat bahwa maskulinitas tidak pernah berhubungan dengan gender, atau jenis kelamin.

KLIK INI:  Tyas, Perempuan yang Bertarung Menyelamatkan Hutan di Sumatera dan Kalimantan

Pilot berlatar belakang pecinta alam yang dikenal dengan nama Silvagama di Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada ini juga memiliki hobi fotografi, traveling, dan handal sebagai barista.

Segudang aktivitas luar ruang digeluti lajang kelahiran Jakarta, 2 September 1984 ini. Sebut saja, hutan, gunung, sungai, gua hingga bermain mobil gardan ganda adalah hobi yang sempat digelutinya.

Selepas kuliah pada tahun 2008, Enno bekerja sebagai marketing dan public relation pada sejumlah perusahaan selama 2 tahun.

Merasa tidak menemukan kecocokan, ia mendaftar saat ada seleksi pegawai di Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XII Kementerian Kehutanan, dan ditempatkan di Tanjungpinang, tahun 2010 silam.

Menghadapi pilihan adventure yang terbatas saat tiba di Tanjungpinang, untuk menyalurkan minat, Eno bergabung ke dalam klub fotograri dan offroad. Dunia kerja akhirnya membawa Enno pada hobi baru, terbang.

Enno adalah pilot yang sudah memiliki Sport Pilot License (SPL) dan bekerja di BPKH Wilayah XII Tanjungpinang untuk pemantauan kawasan hutan melalui udara, serta cross country seperti terlihat pada dokumentasi yang selama ini direkamnya (sumber : Facebook Theresia Irna Susilojati).

Tidak hanya dalam lingkup KLHK, Eno juga dipercaya sebagai Ketua Bidang Microlight Trike di Federasi Aero Sport Indonesia Daerah (FASIDA) Tanjungpinang dan sering diundang dalam acara Pengurus Besar (PB) FASI Pusat di Jakarta.

Sampai dengan saat ini, Enno telah memiliki jam terbang diatas Pilot BPKH lainnya, dan pernah melakukan penerbangan di berbagai tempat yaitu di Purbalingga, Taman Nasional Alas Purwo, Jember, Aero Asia Tech, Cibubur, Jakarta, Tegal, Papak, Banten, Tanjung Lesung, Banten, Atambua, Nusa Tenggara Timur, dan Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

KLIK INI:  Ayo Tiru Gaya Hidup Mantan Putri Indonesia, Agni Pratistha yang Ramah Lingkungan!
Memetakan hutan dan lahan dengan trike Microlight

Saat menjalankan tugas memetakan hutan dan lahan, Enno menerbangkan trike Microlight bermesin Rotax 912 buatan Australia Airborne.

Pesawat dengan kode panggilan di udara Papa-Kilo-Sierra 1-7-1 itu memiliki motor pendorong berkekuatan 80 tenaga kuda yang mampu dipacu hingga kecepatan 70 knots (setara dengan 140 kilometer perjam).

Trike adalah pesawat yang diciptakan untuk olahraga. Jangan membayangkan instrumen radar cuaca, avionik maupun alat komunikasi yang rumit tertanam di konsol kokpit trike.

Hanya beberapa instrumen sederhana seperti altimeter, penunjuk putaran mesin, dan kecepatan. Penunjuk arah terbang menggunakan perangkat Global Positioning System (GPS) yang ditempelkan pada bagian depan pilot. Trike itu terbang visual, jadi kebanyakan serba manual.

Tapi di situ asyiknya, ucap Enno. Enno adalah pilot di bagian pemetaan kawasan hutan, perubahan dalam penggunaan lahan dan mendeteksi satwa liar di daerah pedalaman dan daerah yang sulit diakses.

Penggunaan Microlight Trike ini bermanfaat dalam mendukung kegiatan pengelolaan hutan dan lingkungan. Antara lain untuk pengamanan hutan, patroli udara, serta pengawasan dan pengendalian kawasan hutan dan lingkungan (forest and environment surveilance).

Microlight trike dapat digunakan juga dalam pemantauan hotspot, pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan, pemetaan tata batas serta percepatan proses penetapan kawasan hutan.

Kemudian untuk inventarisasi dan pemantauan sumber daya hutan, survey udara untuk areal Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), dan potret udara untuk koreksi Informasi Geospasial Database. Selanjutnya berguna juga dalam Tanggap Cepat bencana alam, penebaran benih, serta pengendalian hama dan penyakit.

KLIK INI:  Baik Ditiru, Traveler Cantik Ini Berbagi 7 Tips Ramah Lingkungan Saat Berwisata Alam

Kamera yang dipasang di pesawat microlight trike akan menyajikan foto udara dengan resolusi 13 cm yang sangat detail. Sehingga sangat berguna untuk mengetahui kondisi hutan penelitian Haurbentes. Serta menjadi dasar penyusunan rencana pengelolaan dengan merancang peta situasi dari foto udara tersebut.

Harapan Enno

Bagi Theresia Irna Susilojati, perempuan bukanlah orang yang memiliki keterbatasan, baik secara fisik maupun kemampuan yang tidak kalah dengan seorang pria.

Penyetaraan gender sangat penting. Jika kita mau dan bersungguh-sungguh pekerjaan berat apapun bisa dilakukan asal kita menyukai dan mencintai pekerjaan kita ujarnya.

Perempuan dan olahraga ekstrim bukan perpaduan baru. Namun saat ini masih cukup sedikit yang perempuan yang menggeluti olahraga kedirgantaraan dan memegang lisensi pilot.

Enno berharap, suatu saat Tanjungpinang akan ramai dengan pilot-pilot olahraga seperti dirinya.Kuncinya jangan takut, jangan pesimis, jangan mikir aneh-aneh, latihan yang rajin, pasti bisa, katanya memberikan tips.

Rasa takut tidak dapat dikalahkan, hanya dapat dialihkan, hanya saja cara masing-masing orang untuk mengalihkan akan berbeda. Saat panik dan takut melanda, Enno berupaya mengenyahkan itu dari pikirannya dengan mengunyah permen karet dan tetap mengingat kembali prosedur baku yang dikenalnya.

Sinkronisasi rasa gugup dengan prosedur standar baku bukan hal yang mudah, apalagi bagi seorang perempuan yang cenderung lebih histeris saat tertekan. Namun Enno yakin, semua akan berhasil karena seiring bertambahnya jam terbang, akan semakin sigap reflek yang dimiliki oleh penerbang.

Enno adalah salah satu dari sekian perempuan yang terlibat dalam bidang lingkungan khususnya lingkungan hidup dan kehutanan.

Enno seorang pekerja, penikmat petualangan, pecandu adrenalin dan sekaligus seorang pengusaha. Waktu yang padat betul-betul harus diakalinya dengan ketat agar tetap dapat dinikmati. Dalam sehari, ia dituntut untuk cermat membagi waktu antara pekerjaan, usaha dan hobinya.

Kodrat sebagai perempuan tidak diingkari Enno. Ia tetaplah seorang dengan kepekaan seorang perempuan, dengan kebiasaan perempuan dan pembawaan yang tetap feminin.

Hanya saja, dia membatasi betul waktunya untuk melakukan rutinitas perempuannya. Mandi sama dandan cukup lima menit lah, celetuknya.

Celetukan itu cukup masuk akal jika melihat padatnya kegiatan yang harus dijalaninya. Sehabis jam kantor, Enno hanya punya waktu 30 menit untuk menyiapkan diri membuka cafe dan toko perlengkapan outdoornya di Komplek Bintan Centre, Tanjungpinang.

KLIK INI:  Risma Putantri, Traveler Muda yang Beberkan Keindahan Pantai Manganti Kebumen
Editor: Anis Kurniawan
Sumber: beberapa sumber

KLIK Pilihan!