Energi Biomassa, Jalur Cepat dalam Transisi ke Energi Baru Terbarukan

oleh -21 kali dilihat
Energi Biomassa, Jalur Cepat dalam Transisi ke Energi Baru Terbarukan
Ilustrasi-foto/Unsplash

Klikhijau.com –  Untuk mencapai target Energi Baru Terbarukan (EBT). Pembangkit listrik tenaga biomassa dapat memainkan peran penting di masa mendatang, termasuk yang berbasis kayu akan

Karena itu, agar tercapai target EBT maka pemerintah berupaya mempercepat transisi dari batubara ke energi terbarukan.

Khusus kebutuhan energi biomassa berbasis kayu ditargetkan sekitar 60 juta ton per tahun, dan saat ini masih di bawah kapasitas. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) Kementerian LHK, Agus Justianto

“KLHK mendukung program pemanfaatan biomassa dengan mempromosikan hutan tanaman untuk pengembangan energi dan mengoptimalkan limbah kayu dari hutan dan industri kayu,” kata Agus, Minggu, 6 November 2022 lalu.

KLIK INI:  Bangun Peradaban Ekologis, China Kurangi Pemakaian Batu Bara, Indonesia Kapan?

Agus menyampaikan hal tersebut saat menjadi Pembicara Kunci pada Sesi Takkshow “Opsi Co-firing pada Pengurangan Emisi dan Pembangkit Listrik”, yang digelar di Paviliun Indonesia COP27 UNFCCC, di Sharm El  Sheik, Mesir.

Saat ini Kementerian ESDM bersama Kementerian LHK, Kementerian Keuangan, Perusahaan Listrik Negara dan Pemerintah Daerah, serta Badan Usaha Milik Negara sedang menyusun peraturan tentang pengembangan kebijakan biomassa untuk energi. Hal ini mencakup sistem insentif dan disinsentif untuk pengembangan biomassa untuk energi.

“Kami berharap regulasi tentang biomassa untuk mendukung upaya co-firing dapat segera diberikan,” ujar Agus.

KLIK INI:  Empat Bank di Indonesia Abaikan Komitmen Atasi Krisis Iklim
Mendorong biomassa berbasis kayu

Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi bersama Indika Nature, PLN dan ITMG juga turut mendorong pemanfaatan biomassa berbasis kayu dalam transisi energi. Dukungan Kemenko Marves ditegaskan oleh Deputi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Nani Hendiarti.

Dalam paparan yang disampaikan,  Nani memaparkan The Needs to Restore Degraded Lands in Indonesia While Creating Economis Opportunity.

Dalam paparan tersebut, diungkapkan luas hutan produksi 1.3 juta ha dan sedikitnya 32 unit bisnis kehutanan merupakan potensi pemanfaatan hutan lestari yang dapat menghasilkan biomassa berbasis kayu.

Bahkan dengan skema multiusaha kehutanan, pemanfaatan hutan industri dapat lebih dioptimalkan. Tidak hanya dari pengelolaan hutan produksi. Lahan-lahan tidak produktif seperti lahan ex pertambangan juga dapat diberdayakan sebagai lahan untuk pengembangan industri biomassa berbasis kayu.

KLIK INI:  Peneliti Menemukan Cairan Perut Sapi Bisa Hancurkan Sampah Plastik

Begitu juga pemulihan lahan ini dapat dipercepat dengan budidaya tanaman energi seperti kaliandra, agar lahan terdegradasi tetap bisa memiliki nilai ekonomi melalui biomass berbasis kayu.

Didampingi perwakilan Indika Nature, Dominicus Wimbuh Wibowo, dan perwakilan ITMG, Ignatius Wurwanto, Deputi Nani menjawab keraguan media perihal kekhawatiran pengembangan biomassa akan menambah eksploitasi hutan alam.

Nani juga menegaskan pengembangan biomassa berbasis kayu akan menggunakan pemanfaatan hutan produksi dan pemanfaatan lahan yang rusak dan tidak produktif, sehingga tidak perlu melakukan alih fungsi dari hutan alam.

KLIK INI:  Krisis Iklim Makin Memburuk, Pendanaan Bank untuk Batu Bara Harus Dihentikan
Memanfaatkan kaliandra

Dominicus Wimbuh Wibowo menegaskan Indika Nature mengembangkan biomassa berbupa wood chip dan wood pellet dari hutan produksi PBPH (Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan) di Kalimantan Timur dengan menanam kaliandra. Kaliandra sangat ekonomis karena cukup sekali penanaman dan dapat terus berproduksi selama 25 tahun.

Ignatius Wurwanto menambahkan bahwa sebagai perusahaan pertambangan batubara, ITMG mendorong pemanfaatan lahan terdegradasi dengan biomassa yang dapat dimanfaatkan di PLTU mandiri. Indika Nature bekerja sama dengan ITMG dalam pilot project kemitraan pengusahaan biomassa dan batubara yang sedang digagas Kemenkomarves.

Biomassa berbasis kayu juga akan berperan dalam transisi energi phase down PLTU batubara. Karakter biomassa berbasis kayu yang bersumber dari pengelolaan hutan lestari yang carbon neutral  mengurangi emisi karbon dibanding pemanfaatan energi konvensional.

KLIK INI:  Kicau Burung Dapat Mengurangi Kecemasan dan Paranoid

Pemanfaatan biomassa secara bertahap dalam co-firing (pembakaran bersama) akan mengurangi pemanfaatan batubara. Dengan karakter yang menyerupai batubara, dengan didukung oleh intervensi teknologi di PLTU, biomassa berbasis kayu ditengarai mempercepat transisi energi menuju phase down coal sesuai misi COP26 Glasgow yang telah disepakati Indonesia.

Prinsip sustainability menjadi hal yang utama didalam pengembangan dan produksi biomas juga dengan mengajak local community untuk bekerja sama sehingga berimplikasi terhadap penurunan angka kebakaran hutan, alternatif pemulihan lahan ex pertambangan ilegal dan pembalakan liar.

Kemenkomarves telah melakukan kajian untuk persiapan pelaksanaan pilot project kemitraan pengusahaan biomassa dan batubara dengan mendorong pengembangan biomassa dari hutan produksi dan biomass dari reklamasi/pemulihan lahan terdegradasi.

Pilot project tersebut sedang dipersiapkan untuk dilaksanakan di Bontang, Kalimantan Timur (ITMG dan Indika Nature) dan Tanjung Enim Sumatra Selatan (PT.BA).

Kehadiran pilot project ini dipersiapkan agar di masa yang akan datang dapat menjadi showcase transisi energi phase down coal dengan energi terbarukan sekaligus percepatan pemulihan lahan terdegradasi menjadi kembali bernilai ekonomi. ***

KLIK INI:  Dengan Cahaya, Penangkapan Kerang Lebih Mudah dan Tidak Merusak