Cerita Guru SMP di Bulukumba, Kenalkan Tanaman Berkhasiat yang Mulai Langka

oleh -145 kali dilihat
oleh
Cerita Guru SMP di Bulukumba, Kenalkan Tanaman Berkhasiat dan Mulai Langka
Tanaman langka dan berkhasiat obat di Bira - Foto: Ist

Klikhijau.com – Setelah melakukan kegiatan aksi Balantieng bersama Komunitas Si paling SMPN 10 Bulukumba(14/9/2024). Peneliti yayasan Ecoton kemudian mengunjungi pantai Bira yang merupakan kawasan wisata andalan Kabupaten Bulukumba.

Amiruddin Muttaqin, peneliti senior Ecoton yang ikut ke Bira menyampaikan jika di Bira bertemu Arzak Rizal (53) Guru IPS  yang juga seorang seniman teater.

Arzak atau biasa di panggil Pak Ical sebelumnya mengajar di SMPN 1 Bulukumba yang berada di kota, kemudian saat ini di pindah tugaskan ke SMPN Satap 13 yang lokasinya berada di Desa kahaya, bagian hulu sungai Balantieng.

Perjalanan dari rumah Pak Ical untuk menuju sekolah di kahaya setidaknya memakan waktu sekitar satu jam untuk sampai sekolah, hal tersebut di lakoninya setahun terakhir sejak beliau bertugas di kahaya.

Namun justru di Kahaya Amiruddin kemudian bertemu dan kenal Pak Ical karena sama sama terlibat mendampingi kegiatan penelitian kualitas air bersama komunitas Laskar Balantieng SMPN satap 13 Bulukumba yang dilakukan di hulu Sungai Balantieng.

KLIK INI:  Dengan Tinja, Masana Selamatkan Lingkungan Selama Hampir 50 Tahun

Dalam pertemuan pertama, Pak Ical cukup tertarik dengan metode maupun alat uji kualitas air yang kami gunakan untuk menguji kualitas air di mata air danau lurayya. Total dissolved solid (tds) atau kandungan ion yang terlarut dalam air sekitar 52 mg/lt yang masih jauh dari batas baku mutu.

Hal tersebut yang membuat ketertarikan Pak Ical untuk berdiskusi dengan Tim Ecoton terkait batas aman air konsumsi dan ancaman alih fungsi lahan yang bisa berdampak terhadap kualitas air.

Dari diskusi dan banyaknya cerita yang di sampaikan Pak Ical tentang Desa Bira dan lahan yang di kelola keluarga, Tim Ecoton tertarik dengan cerita keahlian nenek Pak Ical (ute muna dan ote’ nimo) dalam memanfaatkan tanaman berkhasiat obat di Bira. Nenek Pak Ical merupakan seorang ahli dalam meramu obat tradisional di Bira dengan bahan baku tanaman liar.

“Bukan hanya keluarga saja yang memanfaatkan tanaman sebagai obat tradisional, tetangga kami dulu juga banyak meminta nenek kami untuk mengobati jika ada yang sakit,” jelas Pak Ical.

Sejak tahun 1943, Nenek Pak Ical (ute muna dan ote’ nimo) sudah menggarap lahan berbatu di desa Bira untuk menghidupi keluarga. Lahan yang di kelola sampai sekarang masih di pertahankan keluarga Pak Ical untuk berkebun pisang dan tanaman lainnya termasuk tanaman berkhasiat yang mulai hilang di Bira karena masifnya pembangunan.

KLIK INI:  Apa Itu Folu Net Sink 2030?

Amiruddin menyampaikan Ketika berkunjung ke tempat Pak Ical di Bira, nama lokasinya disebut dengan Matangin atau mata angin. Disebut Matangin karena angin di lokasi terbilang sangat kencang karena berada di tebing yang menghadap ke laut.

Pak Ical mengenalkan ke Amiruddin dan peneliti yayasan Ecoton lainnya jenis tanaman dara dara, tambaroggo dan palasari yang ada di lahan keluarga.

“Jenis tanaman ini sekarang sangat susah di temukan di Bira, namun sebagian berhasil kami tanam kembali. Bahkan jenis tanaman dara dara sekarang banyak dicari oleh masyarakat karena harganya mahal mencapai 100rb/liter,” tambahi pak Ical.

Amiruddin juga menambahkan ketika di Bira, ia pun sempat mencicipi masakan khas Bira yang dibuat Pak Ical, kepala ikan dengan campuran bahan daun kadieng yang di petik dari lahan yang di garapnya. Masyarakat Bira menyebut masakan ini  “palu kadieng”. Yang artinya masakan kadieng.

“Ini adalah masakan khas masyarakat Bira sejak dulu, mungkin karena dulu orang tua kita tidak punya bahan bumbu masakan, sehingga memakai bahan yang tersedia di alam.  Masaknya pun sederhana. ikan di masak dengan hanya menggunakan daun kadieng sebagai gantinya penyedap dan garam,” terang pak Ical.

KLIK INI:  Duta Remaja Sulsel 2025, Andi Azzaza Tanam 100 Mangrove di Luppung

Pak Ical mengatakan jika saat ini ada sekitar 20 jenis tanaman yang sudah teridentifikasi oleh beliau di Desa Bira, rata rata merupakan tanaman memiliki manfaat untuk pengobatan tradisional.

Dari banyaknya tanaman yang teridentifikasi di Bira, paling khas dan diingat dari neneknya adalah tanaman dara dara karena memiliki khasiat untuk mengobati sakit cacingan ketika pak Ical masih kecil, serta jenis tambaroggo yang juga sering di gunakan untuk mengobati batuk yang sudah lama pada anak anak.

Dari pengalaman kecil dan pengetahuan lokal neneknya inilah kemudian Pak Ical tertarik untuk melakukan budidaya dan melestarikan tanaman lokal Bira di lahan keluarganya.

“Saya sangat tertarik untuk budidaya dan mengembangkan tanaman ini sudah sejak dari dulu, tujuannya adalah untuk melestarikan tanaman supaya tidak punah. Tanaman yang ada di Bira ini harus di ketahui banyak orang karena memiliki manfaat dan menjadi ciri khas Bira. Tanaman ini sudah langka di bira sehingga perlu di budidayakan,”terangnya.

Saat ini tanaman yang terdapat di lahan keluarganya, sudah diidentifikasi bersama dengan peneliti dari yayasan Ecoton. Ia dikenalkan cara identifikasi tanaman dengan aplikasi supaya mudah dalam mengidentifikasi tanaman. Selain itu, ia juga sudah melakukan budidaya tanaman yang mulai punah di Bira.

Pak Ical berharap tempat ini bisa berfungsi sebagai fasilitas belajar bagi pelajar sekolah dan masyarakat.

“Kami juga berencana menjadikan lahan keluarga bukan hanya untuk berkebun, tetapi bisa di manfaatkan sebagai sekolah alam yang bertujuan untuk melestarikan tanaman supaya generasi mendatang mengetahui jika ada tanaman di Bira yang memiliki banyak manfaat,” tambahnya.

“Untuk mendukung kegiatan konservasi, kami sudah menyiapkan lahan sekitar 1 hektar supaya semua orang bisa belajar disini,” tuturnya.

Amiruddin menambahkan jika Pak Ical juga berkeinginan untuk menguji setiap kandungan yang ada di dalam tanaman berkhasiat yang didata.

KLIK INI:  Jajanan Sehat Bebas Plastik, Upaya Kolaborasi Bebaskan Bulukumba dari Kepungan Plastik

Untuk mendukung kegiatannya, bibit maupun biji tanaman dicari dari seluruh kawasan Bira untuk dapat di jadikan koleksi tananam di Matangin.

Amiruddin Muttaqin mengatakan jika di Bira tanaman lokal berkhasiat mulai ditinggalkan oleh masyarakat dikarenakan pengetahuan tersebut mulai pudar, bahkan masyarakat yang ahli pun sudah banyak yang tidak ada, sehingga pengetahuan menjadi terputus.

Pemanfaatan tanaman berkhasiat obat sudah jarang digunakan oleh masyarakat kita saat ini. Pengetahuan lokal yang sudah di miliki oleh nenek moyang kita jika tidak didokumentasikan akan hilang dan tegerus oleh waktu. Dengan melakukan identifikasi tanaman dan mendokumentasikan dalam bentuk buku akan menjadikan pengetahuan bermanfaat dan bisa di wariskan bagi generasi selanjutnya melalui cerita dan praktek langsung.

“Bahkan kegiatan ini sebenarnya bisa untuk mendukung pengembangan pariwisata yang berbasis pendidikan dan konservasi tananam atau istilahnya “ekowisata”  supaya ada keseimbangan dalam pengelolaan pariwisata,” terang Amiruddin.

Upaya dilakukan Pak Ical untuk menjadikan kawasan Matangin sebagak fasilitas belajar tanaman berkhasiat Bira merupakan langkah yang bagus untuk di dukung semua pihak agar generasi kita tidak terputus terhadap pengetahuan lokal dan manfaat tanaman di Bira.

KLIK INI:  Ecoton Desak BPOM atas Temuan Microbeads pada Produk 'Personal Care' Bayi