5 Kisah Haru di Balik Kehidupan Keluarga Pemulung

Klikhijau - Di kota-kota besar, hiduplah para pemulung yang menghabiskan waktunya di jalanan atau di tempat sampah. Keras kehidupan! Begitulah, banyak orang terpaksa hidup dengan mengandalkan kemampua...

5 Kisah Haru di Balik Kehidupan Keluarga Pemulung
Bacakan Artikel

Kisah Inaq Sahnun, Pemulung yang menabung untuk berkurban sapi

Medio 2019 ini, kabar dari Inaq Sahnun sangat menginspirasi banyak orang. Betapa tidak, perempuan yang berprofesi sebagai pemulung ini berhasil mewujudkan impiannya untuk berkurban sapi pada Idul Adha 1440 Hijriah lalu.

Inaq berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp 10 juta yang dikumpulkannya selama lima tahun. Setiap hari, Inaq sangat familiar bagi warga kota Mataram, ia kerap dijumpai mengumpulkan botol bekas dan sampah plastik. Lalu dijualnya ke pengepul.

โ€œDalam seminggu saya bisa menjual botol bekas dan sampah plastik Rp 10 ribu, kadang Rp 20 ribu bahkan hingga Rp 50 ribu,โ€ katanya seperti dilansir Antara Selasa 30 Juli 2019.

[irp]

Budiono, pemulung yang hidup di kolong jembatan Ibukota

Sulit membayangkan bagaimana Budiono dan keluarganya dapat bertahan hidup di bawah kolong flyover Slipi Jakarta Barat. Tetapi, itulah faktanya.ย  Bermodalkan ijazah SD, Budiono nekat merantau ke Jakarta di tahun 1990-an.

Di tengah kehidupannya yang berat, Budiono tetap optimis kelak dapat bernasib lebih baik. Sehari-hari ia memulung dengan pendapatan antara Rp. 50 ribu hingga Rp. 100 ribu per harinya. Budiono menghidupi istri dan anaknya yang sudah sekolah.

Kehidupan Jakarta yang berat membuatnya terbiasa hidup serba terbatas. Tetapi, impiannya luar biasa, ia terus ingin bekerja demi anaknya. Dilansir Kompas, Budiono bertutur: โ€œSaya nggak mau anak saya tinggal di jalan begini, saya mau anak saya lebih sukses dari saya. Sekolah yang tinggi, saya akan usahakan,โ€ katanya.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: