Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah

Apa pun yang terjadi dalam cerita ini, kau musti percaya. Sebab ini kutulis dengan penuh kesadaran pada sebuah pagi yang lupa menyiapkan sarapan. Maka kau harus percaya, aku tak mungkin mengisahkan ce...

Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah
Bacakan Artikel

Mereka tak sabar menunggu barang mereka ditimbang dan dibayar dengan lembaran uang. Tampak mata Sahdan berbinar melihat setumpuk uang yang dikeluarkan lelaki berjubah itu. Muhidin pun tak pernah berkedip dan pandangannya lebih banyak ke tumpukan uang itu. Apalagi, Muhidin berjanji pada Maisarah. Perempuan yang tiga hari lalu menjadi kekasihnya. Jikalau besok mereka akan pergi kencan dan makan bakso yang sudah lama Muhidin idam-idam kan.

Hampir setengah hari, baru antrian mereka habis dilayani. Lelaki berjubah itu tersenyum, kereta kencananya berjalan, berlalu pergi, dan terbang ke langit. Warga melepas kepergiannya dengan penuh syukur. Semua berucap dalam hati, agar lelaki berjubah itu kembali lagi dalam waktu yang tak lama. Masing-masing berjalan pulang dan masuk dalam rumah.

***

Begitulah seterusnya, orang-orang tetap mengumpulkan sampah. Lelaki berjubah itu tetap datang. Kadang seminggu sekali ia datang. Kadang dua Minggu sekali. Kadang satu bulan sekali. Hingga bertahun-tahun lamanya ia tetap datang. Meski warga merasa kesulitan entah di mana membeli kebutuhan pokok. Para pedagang malas jualan.

Para petani malas ke sawah. Para tukang sayur, membiarkan rombongnya nganggur. Mereka lebih memilih mencari sampah, ke sungai, jembatan, ke sawah, ke kebun, ke tempat mana saja yang kira-kira ada sampahnya. Tak jarang satu warga bertengkar dengan warga lain sebab merebutkan sampah yang bersamaan mereka temukan. Kadang warga satu masuk malam-malam ke rumah warga yang lain untuk mencuri sampah. Begitu seterusnya.

Hingga pada suatu hari, Sahdan mengeluh. Ia sudah mengumpulkan hampir dua kamar full bermacam sampah. Tapi si lelaki berjubah sudah dua bulan tak kunjung datang. Begitupun warga yang lain, semua mengeluh.

"Apa mungkin lelaki itu tak datang lagi?" Tanya Muhidin dalam hati.
"Kenapa lelaki berjubah itu tak kunjung datang?" Gerutu Mariam dalam hati.

[irp]

Bahkan sampai genap satu tahun, lelaki berjubah tak pernah muncul. Warga mulai kesal. Sahdan, yang sudah mengumpulkan sampah sampai semua rumahnya terisi sampah, akhirnya memilih mengangkut semua sampah itu dan dibuang ke sungai. Warga lain yang melihat pun ikutan. Satu-persatu mengangkut sampah yang sudah dikumpulkan dan dibuang ke sungai. Mereka kecewa sebab lelaki berjubah tak pernah datang lagi. Sampah-sampah itu menumpuk di sungai.

Pada suatu malam, kilat terlihat di langit. Suara besar memekakkan telinga terdengar. Warga kaget, jangan-jangan si lelaki berjubah datang lagi. Namun hanya gerimis yang turun. Gerimis yang tiba-tiba berubah menjadi hujan yang deras. Deras sekali. Hujan itu tak kunjung henti. Sampai genap tujuh hari. Dusun itu diguyur hujan. Air sungai melimpah. Akhirnya sesuatu terjadi........

***

Kini, semua warga dievakuasi di dataran yang lebih tinggi. Tenda besar didirikan untuk tempat warga sementara tinggal. Hujan masih saja datang. Muhidin, Sahdan, Mariam dan warga lain duduk membentuk lingkaran. Entah apa yang mereka sedang obrolin. Yang pasti, setelah sekitar sepuluh menit, aku melihat mereka sama-sama beranjak berdiri. Kemudian berjalan ramai-ramai mendekat ke arahku. Aku melihat wajah mereka semuanya begitu geram. Mereka terus berjalan dan mendekatiku. Setelah mereka berada hanya satu meter saja di depanku, Sahdan angkat bicara.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: