Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah

Apa pun yang terjadi dalam cerita ini, kau musti percaya. Sebab ini kutulis dengan penuh kesadaran pada sebuah pagi yang lupa menyiapkan sarapan. Maka kau harus percaya, aku tak mungkin mengisahkan ce...

Sumpah, Ini Hanya Cerpen Sampah
Bacakan Artikel

"Kita harus kumpulkan lebih banyak lagi. Siapa tau secepatnya lelaki itu akan datang kembali" Jawab Mariam dengan wajah merah, seperti masih tak percaya dengan segala kejadian barusan.

"Ia pasti akan kembali. Ia diturunkan langit dan orang yang dari langit tak mungkin berbohong." Timpal Muhidin, yang mendengar obrolan Mariam dan Sahdan. Muhidin tadi hanya dapat seratus ribu sebab barangnya hanya sedikit. Tapi ia tetap bersyukur, sebab ia hanya lelaki pengangguran yang hanya menghabiskan waktu main kartu di pos ronda. Uang seratus ribu lebih dari cukup baginya.

***

Sejak itu, Sahdan yang punya sawah beberapa hektar tak lagi sibuk mengurus sawahnya. Ia lebih sering ke sungai, mencari sampah apa saja untuk dipungut. Kadang ia temukan bekas pampers bayi, kadang ia temukan pula bekas kardus mi instan. Ia masukkan semuanya ke dalam karung. Tak jarang pula ia berpapasan dengan Muhidin yang juga menenteng karung dengan tujuan yang sama. Sahdan memberi senyum, Muhidin pun membalas.

[irp]

Sementara si Mariam berniat ke warung Mpok Sadnah untuk membeli apa saja yang bisa menyisakan sampah, seperti air mineral, permen, snack dan nasi bungkus. Tapi sayang, Mpok Sadnah tak buka warung. Mpok Sadnah sibuk membuka semua bungkus barang dagangannya untuk dijual nanti pada lelaki berjubah jika ia datang lagi.

Mariam pun melanjutkan perjalanan ke kebun mencari bekas botol air mineral yang ditinggalkan para pemuda yang biasa minum tuak di sana. Hampir satu jam, Mariam hanya menemukan tak kurang dari sepuluh bekas botol air ukuran tanggung. Ia pun memungut dan memasukkannya di dalam warung.

Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Haji Kosim cemberut. Pembantunya sulit mendapatkan kios untuk membeli air mineral. Haji Kosim terbiasa minum pakai air mineral. Ia sangat anti meminum air sumur yang dimasak. Haji Kosim marah-marah dan mengutuk kedatangan si lelaki berjubah itu.

***

Tepat dua minggu, lelaki berjubah itu datang lagi. Seperti biasa, langit sedang cerah, kilat tiba-tiba menyambar. Suara besar yang memekakkan telinga terdengar. Kemudian langit terbelah dan lelaki berjubah dengan kereta kencana muncul. Senyumnya pun masih sama. Warga berteriak gembira, semua keluar dari rumah membawa semua barang yang akan dijual. Warga berebutan agar dapat antrian lebih dulu. Sebuah timbangan berwarna emas dikeluarkan. Warga satu persatu mulai ditimbang barangnya dan dibayar langsung. Kali ini, harga satu kilo barang bekas itu seharga 680 ribu. Naik 20 ribu, sebab harga emas juga naik.

"Bener kan, memang sesuai harga emas," bisik Sahdan pada Mariam, sembari mereka menunggu antrian. Tampak Sahdan membawa barang dua karung ukuran tanggung. Sedangkan Mariam hanya membawa 1 karung saja. Muhidin di belakang mereka, ada sekitar satu karung setengah yang dipunya Muhidin.

[irp]

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: