Sebab Angin Tak Mengenal Wangi Tubuhmu

oleh -73 kali dilihat
Sebab Angin Tak Mengenal Wangi Tubuhmu
Ilustrasi-foto/Fixbay
Nona Reni
Latest posts by Nona Reni (see all)

Sebab Angin Tak Mengenal Wangi Tubuhmu

 

Angin bulan Desember biasanya bertiup agak kencang, katamu sembari mengalungkan tanganmu di pundakku.

Bulan yang senantiasa ingin kuhilangkan dari kalender tersebab tak mampu melihat salju dari negeri tetangga.

Bulan yang senantiasa menambahkan pekerjaan baru untuk membereskan halaman dari daun gugur
Dan juga ingatan panjang tentangmu.

Namun, bukankah merutuki angin sama saja merutuki takdir?
Apakah kita tidak akan lebih sabar dari nelayan yang gagal melaut?
Apakah kita tidak akan lebih sabar dari isi perut yang jarang diberi isi?
Ataukah kalah menghadapi tangis anak-istri?

Tidak kah kita tahu bahwa angin tak pernah ingin dijadikan sahabat
Bahkan ia tak seperti anjing yang mengenal bau tubuh tuannya dengan sempurna.
Maka biarkan dia berkeliaran, tanpa harus menarik tali kekang.

Agustus 21

=====
KLIK INI:  7 Puisi Tema Lingkungan dengan Metafora Terbaik dan Menyentuh

Tumbuhlah!

 

Agustus katamu bulan terbaik untuk menumbuhkan sesuatu.
Darah pejuang menjadi wangi, begitupun warna merah menjadi lebih berani. Lalu putih?
Seperti awan-awan itu, yang katamu pandai menafsirkan cuaca.

Tapi….
Apa yang coba mereka tumbuhkan di bumi yang tandus ini?
Amarah?
Kesedihan?
Kebodohan?
Atau sesuatu yang belum Tuhan berikan nama?

Lalu apa yang besok akan tumbuh begitu semua bibit telah habis mereka semai?
Jagungkah?
Padikah?
Ataukah keadilan yang dapat digadai dalam segelas kopi dan juga rasa lapar?

Kurasa aku terlalu banyak bertanya
Dan kau tidak akan dapat menjawab apa-apa
Maka biarkan aku mengutuk bumi dan apapun yang mereka tanam.
Maka tumbuhlah! Meskipun kau tak menemukan tanah untuk itu.

=====
KLIK INI:  Apakah Kau Kekasih?

Pada Puncak Peradaban

 

Begitu pena memulai kata dari kapital, maka kertas tak lagi mampu meloloskan diri darinya.

Buku-buku akan menumpuk memenuhi lemari, yang sewaktu-waktu akan menjadi pesawat terbang di tangan-tangan mungil anak tetangga.

Kita pernah sama bermimpi, membangun taman baca pada satu puncak gunung di desa.
Lalu menamainya dengan sesuatu yang memang pantas untuknya.

Lalu satu pertanyaan singkat terlintas dalam kepalaku
Kau pernah melihat puncak gunung, bukan?
Tinggi menjulang. Seakan-akan ia ingin menantang langit.

Tapi manusia bahkan bisa melampaui terjalnya.
Bahkan Fir’aun pun pernah berkeras akan membangun istana setinggi langit.
Namun, kadang kala kita harus menyerahkan kembali pengetahuan ke alam liar.
Sebab pada akhirnya manusia akan seperti hewan buas, saling menyakiti satu sama lain ketika rasa lapar melanda

Agustus 21

KLIK INI:  Mengenang Ajip Rosidi dalam 9 Puisinya yang Bercerita tentang Alam