Memetik Sensasi Hijau di Ujung Tabbinna Coko, Kahayya

oleh -105 kali dilihat
Memetik Sensasi Hijau di Ujung Tabbina Coko, Kahayya
Memetik Sensasi Hijau di Ujung Tabbina Coko, Kahayya/foto-Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com –  Jika kamu ke Desa Kahayya, setelah menaklukkan tabbina Coko atau tanjakan Coko. Kamu akan merasakan sensasi hijau di sebelah kanan jalan.

Kehadiran  tabbinna Coko atau tanjakan Coko belum terlalu.   Dibuat dengan cara ‘tak sengaja’. Sebab bukan rancangan awal jalan utama Desa Kahayya.

Jika bukan karena Puang Tuho, salah seorang warga Kahayya yang ngotot tak mau tanahnya dibuat jalanan. Tanjakan atau tabbina Coko ‘tebing Coko’ tak pernah ada.

Jika pun tak ada tanjakan Coko, jalanan Desa Kahayya—yang masuk desa destinasi wisata itu kurang menantang. Bagi saya, tantangan untuk menjamah keindahan alam Kahayya adalah tanjakan Coko.

KLIK INI:  Di Dego-dego na Bira, Buang Sampah ke Laut Denda Rp 500 Ribu

Penamaan tabbinna Coko entah berawal di mana,  entah siapa yang memulai menamainya demikian. Pastinya penamaan tersebut tidak melalui musyawara mufakat.

Penamaan itu dicopot begitu saja dari nama seorang warga Kahayya yang bernama Puang Coko. Bila saya tak salah ingatan, yang pertama menamainya tabbinna Coko  adalah Gassing, yang merupakan warga Kahayya sendiri.

Dekat rumah Puang Coko

Di namai tabbinna coko karena rumah Puang Coko dekat dengan tebing tersebut. Ada kebiasan unik di kampung saya, yakni menamai tebing/tanjakan yang terjal dengan nama orang yang bertempat tinggal di dekat tebing tersebut.

Tak sembarang tanjakan atau orang bisa mendapat ‘kehormatan’ diabadikan namanya menjadi tanjakan. Sebab hanya tanjakan yang membuat bulu berdiri karena takut, hanya tanjakan yang membuat pengendara gentar karena kendaraan bisa mundur di tengah tanjakan.

Dan Puang Coko, bisa jadi menjadi lelaki yang cukup beruntung sebab berumah di dekat tanjakan yang cukup terjal di jalan  Kahayya. Namanya pun akhirnya abadi menjadi nama tanjakan.

Seharusnya hal itu jadi sesuatu yang harusnya patut dibanggakan. Namun, tak semua orang yang mendapat ‘kehormatan’ itu bisa berbangga. Ada yang menganggapnya sebagai ejekan. padahal Bukankan yang berhak mendapat nama jalan di kota-kota hanya pahlawan nasional.

Nah, penamaan tebing atau tanjakan di kampung saya dengan nama orang adalah sebagai pengingat bahwa ada orang yang cukup berani menjagai tanjakan itu.

Setelah menaklukkan tanjakan coko yang membuat sport jantung itu, kamu bisa menikmati pemandangan eksotis yang hijau. Jika sedang musim hujan dan mendung biasanya akan turun kabut, yang berarti kamu bisa menemukan gumpalan awan.

Kamu akan merasa berada di negeri ‘di atas awan’. Pemandangan itu sungguh menarik dengan hamparan bukit hijua. Di bawah jurang terdapat sungai Balantieng yang mengular dengan airnya yang jernih

Ujung tanjakam coko, menjadi tempat yang ‘wajib’ disinggahi para pengunjung Desa Kahayya. Sebuah tempat yang akan membuatmu menyesal jika tidak berselfie ria.

KLIK INI:  7 Kendala Pengembangan Desa Wisata yang Harus Diurai
Sekilas tentang Kahayya

Desa Kahayya adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.

Jarak dari ibu kota kabupaten berkisar 40 kilometer dari pusat kota Bulukumba. Memiliki ketinggian sekitar 900 hingga 2800 mdpl sehingga akan membuat desa satu ini berpotensi untuk menghasilkan berbagai jenis tumbuhan ataupun tanaman produksi, khususnya kopi.

Selain ujung tanjakan Coko, kamu juga bisa memanen sensasi hijau di banyak tempat di Kahayya. Ada Donggia, Lembah Lannying, Baruttung Tinggia, Danau Lurayyah, dan lain sebagainya.

Di sepanjang jalan Kahayya, jika kamu berkunjung. Matamu akan memetik hijau memesona. Sebab Kahayya adalah desa yang dikarunia alam yang indah dan hijau.

Jika kamu penasaran, berkunjunglah…!

Selepas tanjakan Coko, saat kabut/foto-Ist
KLIK INI:  Pulau Racun, Destinasi Bahari Terbaik di Ujung Minahasa Tenggara