Pohon Terakhir di Bumi

Gerah. Keringat tak ada lagi yang tersisa dari tubuh. Sejak bumi hanya memiliki satu pohon besar yang tersisa. Pohon besar itu kini diincar seorang Profesor. Ia akan menjadikannya rak buku.  Profesor...

Pohon Terakhir di Bumi
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Gerah. Keringat tak ada lagi yang tersisa dari tubuh. Sejak bumi hanya memiliki satu pohon besar yang tersisa. Pohon besar itu kini diincar seorang Profesor. Ia akan menjadikannya rak buku.  Profesor itu adalah penulis buku dan jurnal ilmiah perihal lingkungan.

Rak buku di rumahnya telah penuh. Ia ingin menambah rak bukunya. Namun, harus artistik, memiliki nilai seni tinggi. Dan harus terbuat dari kayu.

Memang begitu pembaca, semakin tinggi pengetahuan, gelar, jabatan, dan status sosial seseorang, seleranya juga akan semakin melangit. Seperti halnya Profesor itu.

Karena kebelet ingin punya rak buku dari kayu. Diperintahkanlah anak buahnya mencari pohon besar itu—pohon terakhir di Bumi.

Anak buahnya tersebar ke berbagai penjuru bumi. Namun, mereka tak menemukan pohon yang diinginkan. Pohon-pohon memang banyak, tapi tak layak dijadikan papan maupun balok.

Pohon-pohon itu hanya dijadikan hiasan menghiasi taman dan halaman rumah. Sebagian telah dikerdilkan atas nama keindahan, atas nama seni.

“Tak ada lagi pohon besar yang tersisa di dunia ini. Hutan Amazon bahkan telah gundul. Berganti beton dan lahan gandum,” lapor anak buah sang Profesor.

“Hutan Kalimantan pun habis, Papua juga demikian, berganti kelapa sawit dan tambang,” lapor yang lain.

Gerah meliar

Gerah kini semakin meliar menjelajahi tubuh. Keringat dirampas paksa dan terkuras habis. paying tak bisa melindungi dari sengatan matahari jika keluar rumah. Sementara di rumah, kipas angin Tambah menggerahkan ruangan. Hanya AC satu-satunya cara untuk mendinginkan diri.

Di ruang perpustakaan Profesor itu, AC tak pernah jeda mengirim dingin. Namun, tumpukan buku tanpa rak membuatnya terasa sesak.

Buku-buku sang Profesor  dari hari ke hari semakin menumpuk, tak ada tempat. Sementara rayap dan banjir mulai mengincarnya. Tak ada jalan selain harus menemukan kayu untuk dijadikan rak—rak yang estetik secepat mungkin.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2