Para Pembunuh Bumi

oleh -107 kali dilihat
12 Wabah Paling Mencekam dalam Sejarah Dunia Selain Covid-19
Tragedi paling mengerikan dalam sejarah dunia-Foto/Jurnal Bumi
Nona Reni

Hujan sejak sore masih menyisakan cuaca basah. Apparalang sudah ditutup sejak magrib tadi, tapi lampu pijarnya masih dibiarkan tetap menyala, meremangi meja dan bangku panjang. Angin berembus begitu kencang di atas ketinggian tebing—mengantar gigil.

“Akhirnya kita bisa ngecamp juga di sini,” ucapku mengawali percakapan.

“Hmmm…,” balasmu tidak terlalu jelas, terbawa angin yang tak henti berembus. Kau menatap sekelilingmu, lalu berhenti pada mataku.

Kita berbalas tatap. Namun aku kalah, aku melarikan diri dari tatapanmu.

KLIK INI:  Beburung di Mata Ngantukmu

“Jadi, kau menulis apa hari ini?” tanyaku. Pertanyaan itu melerai tatapanmu dariku. Aku selamat. Kau alihkan tatapanmu ke ujung sepatumu.

“Belum ada, buntu.”

“Bah, bagaimana bisa? Padahal ada berbagai macam peristiwa besar baru saja terjadi, tetapi kau bilang buntu?”serangku.

“Tidakkah cukup video-video pendek, berita, foto-foto pembalak liar hutan, perdagangan ilegal satwa, krisis iklim, bencana, sampah berserakan membangkitkan nuranimu?” lanjutku dengan sedikit gusar. Nada suaraku bergetar.

“Kuperhatikan kau belakangan ini juga jarang menulis, apakah karena kamu juga tidak yakin ide yang kau dapat itu layak buat ditulis?” bantahmu.

“Aku lebih menyukai menampung semua dalam kepalaku saja. Akan lebih baik jika kita tidak menjalani satu profesi yang sama. Kita hanya akan lebih banyak bersaing nantinya,” jawabku, sambil menatap kumis tipismu yang disamarkan remang.

“Tetapi, aku sama sekali tidak tertarik menulis isu-isu seperti itu. Bukan karena tidak peduli. Hanya saja bencana atau kejahatan manusia terhadap alam tidak bisa selesai dengan sepenggal cerita pendek, artikel, maupun puisi,” suaramu terdengar putus asa. Kau meneguk air dari tumblermu—membasahi kerongkonganmu.

“Kau bisa membongkar semua bau  busuk di dalam sana. Kalau kau siap, aku bisa saja memberi data siapa saja oknum yang terlibat,” tukasku penuh semangat.

“Tolonglah! Jangan lagi memintaku menulis apa pun tentang itu, tentang lingkungan.” Kali ini suaramu benar-benar terdengar memohon. Kau berjalan beberapa langkah menuju tumpukan persiapan camp, lalu mengeluarkan tenda. Berniat mendirikannya. Aku menatap punggungmu.

KLIK INI:  9 Puisi Sapardi Djoko Damono dengan Metafora Alam yang Menyentuh

“Dasar pecundang. Itu kenapa aku tidak pernah suka dengan para penulis sepertimu yang seolah-olah peduli dengan lingkungan, tapi kenyataannya hanya mencari cuan.” Teriakku, beberapa orang yang berniat camp di Apparalang ini terlihat menoleh ke arahku. Aku abai saja.

“Kamu pikir menulis itu cuma memoles kata-kata atau hanya memangkas rumput, ranting, memunguti dedaunan kering, menanam mangrove, memungut sampah atau hanya bercerita tentang selokan-selokan dengan segala bau tainya, seolah  bumi akan benar-benar kiamat 20 tahun mendatang!” bentakmu.

Aku mematung mendengar bentakanmu. Deburan ombak Apparalang seolah berhenti di kepalaku. Aku gemetaran. Itu pertama kalinya aku mendengar bentakanmu. Keras sekali benturannya. Roboh aku, tegarku seolah terbang terseret ombak.

“Hahahha, kau memang tak peduli sama sekali, kau pikir bumi baik-baik saja dalam ancaman krisis iklim, perubahan iklim, dan kau pikir hubungan kita akan baik-baik saja bila bumi ini rusak!”

“Hush, lancar kali muncung kau, Non!  Kau minum apa tadi sore, kok mabuknya sekarang, hah?” bentakmu lagi.

“Mana bisa kau memaksaku menulis yang bukan minatku, kau pikir aku netizen yang maha tahu? Kita di sini untuk ngecamp kan? Bukan saling berdebat!” lanjutmu.

“Halah, bilang saja kau tidak punya nyali. Takut dijerat Undang-undang, takut dikriminalisasi, takut karena kau  juga turut andil barangkali merusak bumi, mengacaukan lingkungan? Atau memang ilmumu masih cetek,” balasku, rasa takutku perlahan memudar. Ombak keberanian berdebur-debur dalam dadaku.

“Ingat, peristiwa-peristiwa seperti ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang betul cinta pada keberlangsungan hidup ciptaan Allah. Bukankah Allah menyuruh kita berbuat adil? Kenapa kau tidak mampu berbuat adil dengan menuliskan keadilan itu sendiri? Adillah juga kepada bumi ini!,” tambahku sambil menatap matamu dengan geram. Kali ini kau yang kalah. Kau melarikan diri dari mataku.

KLIK INI:  Memanfaatkan Internet untuk Mengurangi Penggunaan Kertas di Kampus

“Dari dulu kau betul-betul salah menyimpulkan filsafat maupun sastramu itu,” keluhmu. Kau melepas jaketmu, barangkali kau gerah dengan perdebatan kita. Darahmu didih. Padahal cuaca Apparalang sehabis hujan, saat malam begini cukup gigil.

“Sastra tidak cuman berurusan dengan keindahan kata, tetapi juga alam, juga bertanggung jawab pada kebodohan, pada ekologi, pada kemanusiaan. Karena kebodohan itu dangkal, sastra bisa nyelam lebih dalam ke alam makna. Kau bisa menulis apa pun yang mampu memengaruhi mereka untuk tidak lagi melakukan perusakan di atas bumi.”

“Sejak kapan tulisan kau anggap sebagai senjata, Non?” tanyamu tanpa menoleh ke arahku. Kau hanya sibuk memeriksa tenda berwarna laut itu.

“Ya, sejak tulisan kau sempitkan jadi pemuja tubuh perempuan kasmaran dan patah hati yang membuatku takluk padamu, pada cintamu,”

“Yang kau katakan itu tidak objektif! Kau tidak lihat akar masalahnya. Siapa yang membacking dan bertanggung jawab jika aku dipidanakan nantinya? Kau ingin pernikahan kita tertunda untuk kesekian kali?”

“Menunda pernikahan bukan soal rumit. Menunda kepunahan manusia dan beragam spesies itu baru hal yang rumit,” balasku sengit.

“Heleh tidak usah sok tahu, Non. Aku tulis atau tidak pun tidak ada manfaatnya, tulisan itu tidak akan  berarti banyak. Apalagi di atas meja kekuasaan.”

“Tapi setidaknya tanggung jawab moralmu kau tunaikan,” tegasku.

KLIK INI:  Meresapi Puisi-Puisi Goenawan Mohamad dengan Metafora Alam yang Memikat

“Jiwa kepedulianmu itu betul-betul bisa menjadikan kau intelek kritis. Yang bisa menguak borok-borok di balik peristiwa,” balasmu.

“Bukankah mengkhawatirkan nasib  generasi kita lebih baik dari mengkhawatirkan diri sendiri yang  barangkali sudah cukup muak dengan pembodohan dan kecurangan yang terjadi di negeri kita ini. Pemilik-pemilik perusahaan  maupun orang-orang pemburu cuan tentu tidak akan menyesali tindakannya dalam merusak alam. Mereka malah lebih berpikir bagaimana jabatan dan dapurnya selamat. Kekuasaannya langgeng dan kekayaannya kekal,” ujarmu melunak.

“Apa kau pun sudah seperti mereka?” tanyaku dengan nada gemetar dikepung amarah.

“Cukup, bumi tidak butuh tulisan!” bentakmu

“Pohon-pohon itu mati tanpa sempat menyadari kalau pembunuh sebenarnya bukanlah polusi, tetapi manusia. Tuliskanlah!” balasku sambil menunjuk pohon yang telah ditebang. Kau abai saja. Aku melangkah mendekatimu, lalu menarik leher bajumu dari belakang. Kau terpaksa berdiri. Kita bertatapan dalam remang. Beberapa pasang mata mengarah ke kita. Barangkali mereka menanti bibir kita bersentuhan.

“Jadi apa maumu?” tanyamu, nada suaramu juga bergetar. Aku rasakan ada ombak amarah menderu-deru di sana.

“Menulislah dan bungkamlah mereka!” ujarku lembut

“Kita kecil di balik meja kekuasaan,” balasmu dengan lemas.

“Ah, sudahlah! Kau memang tidak pantas jadi penulis! Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini, kau terlalu pecundang untuk menegakkan kebenaran, untuk membela bumi. Kau membiarkan bumi mati, kau seorang pembunuh, kau sama saja dengan para penguasa, membunuh bumi,” bentakku.

“Pergi saja! Kau memang keras kepala,” bentakmu lagi.

Aku melangkah meninggalkamu.  Menuju tepi tebing Apparalang. Angin berembus kencang menerbangkan jilbab biru laut yang kukenakan. Aku mengambil ancang-ancang sambil menghitung, satu, dua, tiga…..

Soppeng, 2022.

KLIK INI:  Tanah Duka, Tanah Luka