Menghidupkan Air

Mulutmu bergerak-gerak. Ia menatapnya. Kau lalu meniup air bening yang dituang di dalam gelas. Kau meniupnya tiga kali. Telapak tanganmu bertautan. Saling menggenggam rapat. “Minumlah! Ambil berkah...

Menghidupkan Air
Bacakan Artikel

Kedutan  tubuhnya pun menghilang jauh. Bayangan lelaki itu pun tak pernah lagi muncul, dan rindu yang sekian lama menggebrak perlahan pudar.

Di hari ia akan kamu mandikan di sapa kaloro. Rasanya aneh, ia yang tidak bisa berdiri lama mampu berjalan menuju sungai dengan jalan terjal dan licin.

Sejak hari itu, ia merasa  benar-benar akan sembuh dari sakit anehnya. Tapi, ada penyakit lain yang dirasa sedang menggantikannya, itu disebabkan oleh matamu. Ia acap memikirkanmu.

Tersiar luas

Pagi tiba, dan wajah ibunya kusut sebab harus ke pohon besar itu melepas ayam hitam. Ayahnya menghentikan gelas kopinya yang hampir sampai di bibirnya. Ia memperbaiki sarungnya, masuk ke ruang dapur mengambil jagung lalu keluar rumah.

Dari luar rumah, suara kur,kur, kur terdengar. Itu suara ayahnya yang akan menangkap ayam.

Kabar kesembuhannya tersiar luas. Awalnya dari tetangga ke tetangga lalu merebak tidak terkendali. Banyak orang datang mencari Daenta untuk berobat.

Banyak pula ke pohon besar itu melepas ayam dan mengikat janji, meski telah ada larangan agar tidak melakukannya.

Karena tidak ingin hal lebih dahsyat melanda kampung, pohon beringin tua itu terpaksa di tebang. Dan hal aneh terjadi. Sehari setelah ditebang, burung-burung beterbangan liar dan labboro tiba membawa membawa petaka, membawa kebun kopi warga meluncur ke dalam jurang dan menimbuni kebun warga dan sungai—tempat Ratina dimandikan oleh Daenta.

Rumah kekasih, 13/8/2017

[irp]

Pilih Halaman: