Menghidupkan Air

Mulutmu bergerak-gerak. Ia menatapnya. Kau lalu meniup air bening yang dituang di dalam gelas. Kau meniupnya tiga kali. Telapak tanganmu bertautan. Saling menggenggam rapat. “Minumlah! Ambil berkah...

Menghidupkan Air
Bacakan Artikel

Ia akan membuka sarung yang menutupi tubuhnya jika batu itu telah dingin. Saat menyembulkan kepala dan ibunya melihat keringat dari porinya. Senyum ibunya mengembang dan ia melihat cahaya kesembuhannya di mata ibunya. Tapi, bayangan lelaki itu tidak pernah lekang. Tidak ingin pergi. Bandel.

[irp]

Suara mistik yang misteri

Suara aneh itu tertangkap pendengaran Hamia ketika sedang memetik kopi di dekat sebuah pohon beringin tua. Dulu pohon beringin itu sering dijadikan tempat menggelar syukuran atas panen jagung yang diperoleh.

Pohon tersebut tidak pernah berubah besarnya bahkan ketika Hamia masih kecil. Ukurannya tetap sama, berdiri kokoh di pinggir jurang. Pohon itu dikeramatkan warga. Dulu, sebelum dan sesudah panen jagung harus ke pohon beringin tersebut—mengucapkan syukur kepada pencipta.

Akar pohon beringin tua itu diyakini pula yang menjaga tanah agar tidak lobboro ‘longsor’ meluncur ke dalam panisiri ‘tebing yang curam’ menimbuni kebun warga dan sungai.

Hamia mengabaikan suara yang didengarnya, hingga seminggu kemudian seorang lelaki mengunjunginya dalam mimpi. Lelaki berjenggot dengan wajah dan pakian pute ‘putih’ mengkilap.

Lelaki itu menyebut satu nama, Daenta. Ia mengaku jika Daenta adalah cucunya yang bisa menyembuhkan Ratina dari sakitnya. Dari asap rokok yang buatnya cemas dan dirumahi rindu. Aneh.

Namun ada satu syaratnya, setelah Ratina sembuh ia harus ke pohon beringin tua itu melepas ayam berwarna hitam.

Hanya air saja

Daenta, entah kenapa ibumu memberi nama itu. Umurmu bertaut sembilan atau sepuluh tahun darinya. Menurut ibumu, sewaktu kamu berumur sebelas tahun, kamu sakit parah selama dua tahun empat puluh hari.

Kamu tidak mau makan, hanya tiga kali sehari saja minum. Tidak ada makanan selama dua tahun itu bertandang ke perutmu, hanya air saja. Dan ajaib kamu mampu bertahan hidup hingga sekarang. Benar saja bahwa air adalah sumber kehidupan.

Setelah sembuh mendekap, kamu banyak mengalami hal gaib di luar nalar normal. Kamu lebih rajin menghadapkan wajahmu ke kiblat dengan khusyu dan yang lebih gaib lagi kamu bisa menyembuhkan pepuragam penyakit hanya dengan air putih yang kamu tuangi doa-doa. Penyakit yang membuat dokter  menyerah karena tidak bisa menyembuhkannya.

[irp]

Berember-ember air mata

Setiap kamu ke rumahnya, kamu acap bercerita hal-hal gaib sambil menikmati kopi bersama ayahnya. Ia acap memasang telinga mendengarnya. Ia tertarik pada hal gaib itu. Apalagi setelah  dilanda sakit yang gaib juga. Sakit yang disebabkan asap rokok yang melahirkan berember-ember air mata rindu pada lelaki yang entah bernama siapa. Lelaki pengecut.

“Ratina kena baca-baca cewek. Baca-baca yang cukup tangguh dari sekelompok orang yang menyukai warna hitam,” katamu datar sebelum pamit.

Ia mendengar kata itu, dan pikirannya mengarah ke timur. Tapi, ia tidak ingin mengutarakan kecurigaannya sebab tak mau dikatakan sok tahu. Maka ia mengurung rasa ingin tahu itu di kepala.

Rasa yang menyerbu tubuh

Tiga hari ia meminum air yang mau raoali doa-doa. Rasa segar menyerbu ke dalam tubuhnya. Apalagi setelah di hari ketiga kamu memandikannya di sapa kaloro ‘sungai bercabang’. Kesehatannya perlahan pulih.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: