Menghidupkan Air

Mulutmu bergerak-gerak. Ia menatapnya. Kau lalu meniup air bening yang dituang di dalam gelas. Kau meniupnya tiga kali. Telapak tanganmu bertautan. Saling menggenggam rapat. “Minumlah! Ambil berkah...

Menghidupkan Air
Bacakan Artikel

Jujur saja, hal-hal menakutkan kerap tiba di pikirannya tiga pekan terakhir. Berumah di sana dipagari rimbunan prasangka. Ia sulit tidur atau fokus ketika melakukan pekerjaan.

[irp]

Tanda yang datang bercerita

Sepulang dari pesta kerabat tujuh bulan lalu. Gelisah memenjarakannya. Ia tidak betah di rumah, selalu ingin pergi. Seolah ada tangan yang menyeretnya dan suara-suara aneh menuntun langkahnya.

Ia selalu ingin lari menuju pelukan lelaki itu. Lelaki yang mengembuskan asap rokok kepadanya, yang bahkan namanya tidak pernah ia tahu.

Mereka hanya bertatapan sejenak, asap rokok lelaki berambut agak gonrong itu menerpa wajahnya yang membuatnya berpaling sambil batuk-batuk. Lelaki itu berdiri dari duduknya dan melangkah keluar menuju jalan.

Tatapannya mengikuti langkah lelaki itu yang tidak menoleh kepadanya. Tapi, hatinya serasa telah ikut bersama dengan lelaki yang berbaju kemeja biru itu.

Awalnya ia abai saja karena tidak percaya jika seseorang bisa terpikat kepada orang lain hanya karena asap rokok. Ia tidak percaya baca-baca ‘mantera’ penakluk perempuan.

Aroma rokok lelaki itu rasanya lebih wangi dari rokok mana pun. Tiga hari setelah kejadian di pesta itu. Ia mudah marah serupa sedang  datang bulan. Ia juga malas makan, suka membentak orang tuanya yang terlalu cerewet. Yang diingininya hanya satu,  bertemu lelaki itu.

Ketika orang tuanya membawanya ke dokter, dokter menyerah tidak berhasil mendeteksi penyakitnya. Ia hanya disarankan istirahat. Sebuah basi-basi yang membosankan. Orang tuanya dilanda cemas

Tiga bulan pasca menghisap asap rokok lelaki itu tubuhnya drop. Tidak kuat berjalan dan berdiri terlalu lama. Jika tidur kakinya harus menyanggah bantal. Ia juga takut dengan air, tubuhnya mudah gigil.

Ibunya yang cerewet percaya hal itu terjadi  karena keringat tidak pernah keluar dari tubuhnya. Ibunya menggunakan terapi unik untuk memancing keringatnya mengucur—membakar batu, tapi bukan batu sembarangan, hanya batu yang biasa dipakai menyanggah panci ketika memasak.

Setelah batu memerah. Ibunya meletakkan di atas loyang besi. Lalu ia menutupi loyang tersebut dengan sarung yang telah menutupi seluruh tubuhku, bombo’.

Kemudian air dipercikkan ke batu yang panas bara itu. Asap yang keluar serupa sauna. Dan memancing keringatnya keluar. Asap yang menyembur tidak bisa lolos keluar dari sarung.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: