Akar Leluhur

Sibuk.  Kata itu tertulis di pintu rumahnya. Beberapa hari ini ia memang jarang kelihatan. Ia tak pernah lagi berkumpul dengan warga lainnya. Apalagi menerima tamu di rumahnya. Daeng Kulle dan keluarg...

Akar Leluhur
Bacakan Artikel

Sibuk.  Kata itu tertulis di pintu rumahnya. Beberapa hari ini ia memang jarang kelihatan. Ia tak pernah lagi berkumpul dengan warga lainnya. Apalagi menerima tamu di rumahnya. Daeng Kulle dan keluarganya memang sibuk sekarang.

Aku pernah melihatnya keluar rumah ketika hari masih subuh buta. Pulang ketika kokok ayam pertama mulai terlantun. Kira-kira dini hari. Tapi, mungkin hanya aku sendiri yang pernah melihatnya. Dan hanya Daeng Kulle yang kulihat. Entah di mana Daeng Ci’nong, istrinya dan Salmia anak tunggalnya.

Ia tetanggaku, hanya dibatasi tembok. Temboknya terbuat dari bambu, kira-kira hanya   satu meter tingginya. Ada jalan khusus yang dibuka, jadi memudahkan kami jika ingin ke rumahnya, atau keluarga Daeng Kulle ingin ke rumah kami.

Hampir tiap pagi Daeng Kulle berkunjung ke rumah. Sebelum berangkat mengajar. Bertemu  ayahku sambil menikmati kopi hitam tanpa gula. Atau kami sekeluarga ke rumahnya untuk menonton, karena di rumah tidak ada TV. Jadi, keluarga Daeng Kulle cukup akrab dengan keluargaku.

[irp]

*****

Namun sejak tulisan sibuk menempel di pintunya, tak ada lagi tradisi itu. Anehnya tak ada juga warga yang mau bertanya kenapa Daeng Kulle sibuk terus? Apa kerjanya?

Padahal beliau sudah digadang-gadang untuk menjadi kepala desa, karena orangnya bersahaja dan disegani. Mungkin karena saking diseganinya, tak ada yang berani bertanya. Hanya bisik-bisik yang terdengar. Semua warga di desa Passibajikang  menciptakan opini sendiri tentang Daeng Kulle.

Ada yang mengira Daeng Kulle jadi gerbong teroris., ada yang menganggap Daeng Kulle jadi babi ngepet dan ada juga yang mengatakan Daeng Kulle jadi penjaga setia di perbatasan kampung desa. Ia jadi pengintai untuk melacak gerbong teroris yang sewaktu-waktu bisa memasuki wilayahnya.

Jika yang terakhir itu benar. Alangkah mulianya hati Daeng kulle dan keluarganya. Menyabung nyawa demi tanah tumpah darahnya. Jarang bisa ditemukan orang sepertinya.

Pekerjaan sebagai tenaga pengajar, membuatnya gampang berinteraksi dengan orang sekelilingnya. Dia juga telah lama berdiam di desa itu. Bahkan menurut nenekku, leluhur Dg Kulle yang pertama menempati  Desa Passibajikang.

[irp]

*****

Dinamai Passibajikang karena di tempat itu ada  batu besar, dulu kalau ada yang berselisih, maka di atas batu itulah diselesaikan permasalahannya. Dulu juga masih menurut nenekku Desa Passibajikang adalah hamparan sawah yang luas. Dengan bukit-bukit yang indah.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: