Akar Leluhur

Sibuk.  Kata itu tertulis di pintu rumahnya. Beberapa hari ini ia memang jarang kelihatan. Ia tak pernah lagi berkumpul dengan warga lainnya. Apalagi menerima tamu di rumahnya. Daeng Kulle dan keluarg...

Akar Leluhur
Bacakan Artikel

Namun sekarang sisa sawah tak lagi ditemukan. Telah ditanami beton, untuk kantor dan perumahan. Sementara rumah warga  tetap sama, terbuat dari dinding gamacca dan papan yang menempel seadanya.

Bukit telah diratakan untuk menimbun sawah.  Sehingga kalau hujan sehari bahkan setengah hari saja maka akan ditemukan genangan air yang cukup tinggi. Bahkan tak jarang air masuk ke rumah warga.

*****

Wajar kalau keluarga Dg kulle cukup disegani dan dikenal baik di desaku.  Tapi bukan berarti Daeng Kulle dan keluarganya lantas berbangga dan seenak perutnya saja. Daeng Kulle sangat menghormati orang lain. Di darahnya mengalir darah Bugis-Makassar yang kental.

“Daeng Kulle ke mana, Nek?” tanyaku kepada nenek pagi tadi.
“Kurang tahu juga, Nak,” jawab nenek
“Apakah dia terlibat kasus teroris nek?
“Ah jangan berprasangka buruk pada orang lain. Daeng Kulle itu orang baik-baik, tidak mungkin  melakukan hal seperti itu.”
“Tapi banyak orang bilang, Nek?”
“Jangan percaya omongan orang sebelum ada bukti”
“Tapi, Nek”
“Sudah, tidak usah dipikirkan. Daeng Kulle pasti akan kembali. Kamu ke rumah Dg Sattu  beli  minyak tanah!”
“Iye, Nek”

[irp]

Aku melangkah menuju rumah H. Sattu, dia merupakan raja minyak tanah di desaku. Meski minyak tanah susah, di pangkalam H. Sattu tak pernah ada habisnya
Tabe Haji, ada minyak tanahta?” Tanyaku
“Habis, Nak”
“Kok bisa? Padahal di panggalan ini kan selalu tersedia?”
“Iya kurang tahu juga kenapa bias.”
“Di mana ada?” Tanyaku lagi, padahal kutahu tak akan ada penjual lagi karena kalau di pangkalan H. Sattu telah habis pasti yang lainnya juga akan habis.

Aku harus pulang dengan kepala tertunduk dan siap-siap, asap tidak mengepul di dapur kami. Karena ibuku takut menggunakan tabung kompor gas tiga kilogram yang dibagikan pemerintah. Bukan hanya ibuku, hampir semua warga takut menggunakannya. Katanya tingkat keamanannya kurang baik. Rawan meledak. Tidak ada juga yang tahu kenapa minyak tanah bisa kembali langka. Seperti juga Daeng Kulle tidak ada yang tahu keberadaannya.

Padahal tempat tinggal kami, sebuah desa tapi kayu bakar sudah susah didapat. Pohon telah ditebang. Demi meraih predikat desa bersih. Lalu dibuatlah taman yang indah. Taman yang banyak tertulis “DILARANG MELINTAS”.

[irp]

*****

Aku masih tertunduk menatap ayunan kakiku. Bayangan Salmia, anak tunggal Daeng Kulle yang berparas menawan bermain manja di benakku. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba ada rindu menikamku tentangnya. Padahal Salmia seperti sauadaraku sendiri. Tapi sejak kata sibuk tertulis di pintu rumahnya, sejak itu aku mulai mengkhawatirkannya.

Aku senang menghabiskan senja dengan memandang bangku panjang yang terletak di taman belakang rumahnya. Biasanya kalau jingga mulai lahir di lazuardi, Salmia akan duduk di bangku itu sambil membaca novel kesukaannya. Aku senang mengganggunya, ketika dia serius melahap bacaannya. Dia kelihatan tambah cantik kalau pipinya memerah karena marah, lalu cahaya jingga menyempurnakannya.

Tanpa kusadari ayunan langkahku hampir melewati rumahku. Karena bayangan Salmia kian menggugah perasaanku. Kian sempurna.
“Nek, minyak tanah habis di pangkalan H Sattu,”
“Apa…..???” Sahut nenek terkejut, ibuku juga tidak kalah terkejutnya.
“Lalu dimana kita bisa dapat minyak tanah,  Sudding?” Tanya ibu dan nenekku bersamaan. Aku hanya menggelengkan kepala. Rasanya tidak perlu kujawab dengan kata tanya mereka, karena kedua orang yang amat kukasih itu pasti tahu, di desa kami tidak ada lagi yang minyak tanah.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: