Menghidupkan Air

Mulutmu bergerak-gerak. Ia menatapnya. Kau lalu meniup air bening yang dituang di dalam gelas. Kau meniupnya tiga kali. Telapak tanganmu bertautan. Saling menggenggam rapat. “Minumlah! Ambil berkah...

Menghidupkan Air
Bacakan Artikel

Mulutmu bergerak-gerak. Ia menatapnya. Kau lalu meniup air bening yang dituang di dalam gelas. Kau meniupnya tiga kali. Telapak tanganmu bertautan. Saling menggenggam rapat.

“Minumlah! Ambil berkahnya!” katamu dengan suara datar. Namun, ia bisa rasakan ada getar di sana—pada suaramu.

Diterimanya air itu tanpa menatap matamu—meminumnya tiga teguk lalu menyerahkannya kembali kepadamu. Setelahnya, kamu memercikkan ke matanya tiga kali lalu memercikkan ke beberapa tempat dalam rumah.

“Ambilkan botol!” pintamu kepada ibunya. Dan perempuan yang kepalanya telah melahirkan rambut putih itu bergegas ke dapur mengambil botol plastik.

[irp]

Kamu menatap botol plastik itu. Seolah ingin protes, tapi menerimanya. Kamu menuanginya air yang telah dituangi doa-doa dengan sangat hati-hati agar tidak tumpah.

“Jangan biarkan air ini mati, apalagi habis!” Saranmu masih dengan suara datar. Kali ini ia berani menatap wajahmu. Bekas sarussu ‘jerawat’ menghias di sana, namun tidak menyiratkan kesangaran sebab ditutupi matamu yang sayu.

“Bagaimana cara menghidupkan air ini?” tanyanya sambil menatap air yang telah berpindah ke dalam botol plastik itu, yang telah kamu rapali doa-doa leluhur.

“Air itulah yang harus menambah bukan ditambah. Jangan ditambahkan dengan air yang telah dimasak, sebab air yang sudah dimasak telah mati,” jawabmu. Dan wajahnya terasa lecek karena tidak mengerti. Namun, ia harus mengangguk pura-pura mengerti agar tidak tampak bodoh di hadapanmu.

Kamu menjelaskan singkat, air yang telah dimasak tidak bisa digunakan mengobati. Sifatnya telah berubah. Tidak bisa lagi dipakai bersuci—berwuduh dan mandi wajib. Mengobati adalah menyucikan dari penyakit.

“Karenanya, kita perlu menjaga setiap mata air. Jangan sampai tercemar. Kalau sudah tercemar harus dimasak dulu baru sehat diminum,” jelasmu.

Perihal kedutan tubuh

Jelang pukul dua puluh dua malam di malam Jumat itu kamu pulang. Tidak sempat untuk berbincang lama. Padahal banyak hal yang ingin ditanyakan. Salah satunya perihal tubuhnya yang hampir tiga pekan ini sering berkedut. Dalam masyarakatnya kedutan anggota tubuh adalah pengirim kabar.

Kedutan tubuh adalah penanda dari Tuhan. Apakah kamu juga percaya dan bisa menjelaskan, misalnya kedutan pada perutnya yang sebelah kiri, konon akan mendapat kesenangan bersama keluarga, tapi di waktu yang bersamaan telapak tangan kirinya juga berkedut, dan itu artinya akan mendapat kebencian dan penghinaan dari orang lain. Bagaimana bisa hal itu terjadi secara bersamaan?.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: