Menakjubkan, Begini Cara Baru Menyelamatkan Badak dari Kepunahan

Klikhijau.com – Perburuan dan perdagangan satwa liar masih saja terjadi. Karenanya, banyak satwa liar dilindungi yang semakin terancam punah. Badak salah satunya. Perburuan badak mencapai tingkat k...

Menakjubkan, Begini Cara Baru Menyelamatkan Badak dari Kepunahan
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Perburuan dan perdagangan satwa liar masih saja terjadi. Karenanya, banyak satwa liar dilindungi yang semakin terancam punah. Badak salah satunya.

Perburuan badak mencapai tingkat krisis sejak tahun 2008 ketika hampir 10.000 badak hilang akibat perburuan liar di Afrika Selatan, dan perdagangan satwa liar menjadi kejahatan terorganisir terbesar ketiga di dunia.

Profesor James Larkin mengungkapkan bahwa setiap 20 jam di Afrika Selatan seekor badak mati demi culanya. Cula itu kemudian diperdagangkan ke seluruh dunia dan digunakan sebagai obat tradisional, atau sebagai simbol status.

Hal ini menyebabkan cula mereka menjadi komoditas palsu yang paling berharga dalam perdagangan pasar gelap, bahkan lebih tinggi nilainya dibandingkan emas, platinum, berlian, dan kokain. Sayangnya, cula badak berperan besar dalam mendanai berbagai kegiatan kriminal secara global,” katanya.

Karena itu untuk mengatasi masalah tersebut, Profesor Larkin membentuk sebuah tik kecil untuk membuat Proyek Rhisotope di Wits.

Tim kecil tersebut terdiri dari individu-individu yang memiliki pemikiran serupa sebagai inisiatif konservasi yang berbasis di Afrika Selatan pada bulan Januari 2021.

Tujuannya adalah menjadi pemimpin global dalam memanfaatkan teknologi nuklir untuk melindungi spesies fauna dan flora yang terancam dan hampir punah. sebagai komunitas orang.

Setelah berjibaku selama waktu tiga tahun dengan kerja keras dan penuh dedikasi yang tinggi. Proyek Rhisotope di Universitas Wits itu telah berhasil memasukkan radioisotop dosis rendah ke dalam 20 badak hidup.

Keberhasilan itu dimulai Senin, 24 Juni 2004, Profesor Larkin dan timnya dengan hati-hati membius 20 badak dan membuat lubang kecil di masing-masing cula mereka untuk memasukkan radioisotop tidak beracun.

Badak-badak tersebut kemudian dilepaskan di bawah perawatan kru berkualifikasi tinggi yang akan memantau hewan-hewan tersebut selama 24 jam selama enam bulan ke depan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2