Yang Pertama Mengencingi Bumi

oleh -71 kali dilihat
Ilustrasi-foto/Pinteres
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Dingin menyambar-nyambar, mengiris tiap inci tubuh. Perut terasa berat, isi kantong kemihku ingin segera tumpah.

Sejak kedatanganku ke Ale Lino—dunia tengah, tak sekalipun aku membuang kencing, mengeluarkan air dari kelaminku. Aku menahannya.

Di tempatku bermula, setiap penghuni tak perlu kencing dan membuang tahi, makan dan minum saja sebanyak yang ia bisa.

Namun, sejak tiba di Ale Lino—kolong langit tiga hari lalu banyak hal berubah dalam tubuhku. Aku mulai merasakan ingin kencing dan membuang tahi.

KLIK INI:  Kencani Rindu

Perutku terasa ingin meledak, menghamburkan isinya. Kembung dan rasa asing menyergap dari segala arah.

Aku ingat, di Boting Langiq—dunia atas, resah menyambar dan menetap pada napasku yang sulit diembuskan. Ketika siur kabar, ayahku, Patotoqe  akan menetapkan tunasnya di dunia tengah yang gulita, tanpa kehidupan. Tempat menyabung kilat, tempat segala asing bertumbuh.

Aku yang sedang berada di bilik yang dipeluki cahaya ketika mendengar kabar itu langsung mengernyitkan dahi dan menebalkan doa—aku tak ingin jadi yang terpilih, aku tak rela meninggalkan Boting Langiq yang akan diwariskan Ayah kepadaku, kelak ketika waktu itu sampai pada seharusnya.

Bukan hanya diriku, tapi kedelapan saudaraku pun mengalami gamang serupa, kecuali si bungsu, Batara Unruq Aji Mangkauq yang hanya sesekali tampak wajah gelisahnya. Ia masih terlalu bocah untuk mengerti.

KLIK INI:  Bunga Badaria di Musim Hujan
We Nyiliq Timoq

Tepat pada delapan malam terbitnya bulan, saat hari pasar di Boting Langiq. Saudara, sepupu dan ponakan ayah dan ibuku datang.

Mereka berkumpul di Rualette, di istana Sao Kuta Parappaqe. Ayah mengundang mereka secara khusus untuk musyawara. Siapa yang akan diutus ke kolong langit untuk menumbuhkan tunas dewata.

Harusnya, ayah To Palanroe—sang penguasa langit tak perlu meminta persetujuan mereka. Ayah memiliki kehendak yang tak bisa ditentang, tak bisa diabai, tapi beliau tetap membuka hati, menerima saran dari siapapun.

Kebijaksanaan Ayah itu selalu ingin aku teladani—sebagai anak sulung, yang akan mewarisi kerajaan langit. Aku harus mengayomi kedelapan saudaraku dan semua makhluk hidup yang ada dengan penuh cinta dan kebijaksanaan, agar tak ada luka, tak ada merasa dimamah khianat dan abai.

KLIK INI:  Hutan Senja

Saat mereka berkumpul, awalnya kudengar namaku tak disebutkan. Aku senang. Kumainkan cahaya—kebentangkan dan aku berayun di atasnya.

Hanya saja kegembiraan itu luntur seketika. Ketika ayah dan ibuku, Datu Palingeq memutuskan, akulah, Batara Guru yang akan diturunkan ke Ale Lino (bumi).

“Batara Guru lebih dewasa, arif, berpikir tenang, meski terkadang emosi. Ia dapat membimbing penghuni Ale Lino. Aku akan menempatkannya di Ale Luwu,” ujar Ayah.

Tubuhku bergetar hebat, napasku tersendat dan mataku berubah hujan. Sedih menanakku sedemikian rupa ketika mendengar keputusan itu. Aku tak ingin meninggalkan boting langiq—milikku—warisan dari ayahku, Patotoqe

Kedelapan saudaraku berhamburan masuk ke kamar. Mereka memelukiku. Kami bertangisan riuh. Hujan dan kilat menyambar-nyambar.

Rasa sedih itu meluntur ketika ibuku datang. Beliau kabarkan jika yang akan jadi pasanganku di Ale Lino nanti adalah We Nyiliq Timoq. Sepupuku, anak dari Sinauq Toja dan Guru ri Selleq—penguasa dunia bawah, Peretiwi.

KLIK INI:  Tidak Ada Senja di Hutan Camba

Kecantikan, kebaikan, dan kebijaksanaan calon istriku itu telah lama tersiar di Boting Langiq, dan diam-diam aku selalu ingin bertemu dengannya.

Membuang kencing sembarangan

Tak mungkin aku kencing di dalam bambu betung yang kukendarai dari Boting Langi’. Bambu itu telah jadi rumah, menjadi tempat tidurku.

Namun, lebih tak mungkin lagi jika aku mengencingi tanah. Sementara aku tahu, kamu, We Nyiliq Timoq ada di bawah sana—di dunia bawah, di Peretiwi.

Bagaimana jika kencingku merembes hingga ke kamarmu dan kamu tak bisa tidur, terusik bau pesing yang pusingkan kepalamu.

Karenanya, tiga hari ini aku menahan kencing, karena tak ingin mengotori tanah, tempat  kita akan bermukim. Menyebarkan keturunan.

Di dalam bambu betung, gelisah merekam jejaknya dalam tiap hela napas. Angin menyusup masuk mengantar gigil, pakaian kebesaran yang kukenakan tak bisa mengisir gigil Ale Lino.

Jika aku keluar, maka hanya asing dan sepi yang menerkam. Tapi tinggal di bambu betung pun akan menyiksaku.

KLIK INI:  6 Puisi Presiden Malioboro “Umbu Landu Paranggi” yang Bernapas Alam
Rindu mendebar

Aku berharap kamu segera naik ke Ale Lino menemaniku. Mungkin kamu tahu, di mana aku akan kencing agar tak mengotori tanah. Agar aku bisa kencing dengan leluasa ke bumi. Tak perlu takut atau malu kencingku merembes ke kamarmu.

Namun, hingga kantong kemihku terasa penuh. Kamu belum juga muncul. Aku berjalan jauh, mencari tempat kencing yang cocok. Aku tak mungkin, sekali lagi tak mungkin mengencingi bumi.

Rasanya air kemihku akan tumpah ketika sampai di sebuah batu besar. Aku memanjatnya. Tapi ketika sampai di puncak, tak ada lubang untuk menyimpan kencingku.

Aku edarkan pandangan, menelusuri batu itu, dan di sudut yang tersembunyi. Terdapat lubang yang cukup untuk menampung kencingku. Tapi, aku gamang. Bagaimana jika hujan tumpah dan air kencingku merembes ke tanah, terus turun ke kamarmu di dunia bawah?.

KLIK INI:  Di Suatu Hari yang Hujan
Rahasia yang tersimpan

Sengaja tak kubuka rahasia, bagaimana aku membuang kencing. Itu akan jadi rahasiaku. Namun, aku pastikan kencingku tak merembes ke kamar We Nyiliq Timoq.

Pun tak mungkin aku mengotori Ale Lino. Tempat kehidupanku akan bertumbuh, tempat keturunanku akan bernapas.

Ale Lino dan segala isinya, sejak aku diturunkan dewata adalah aku. Tak terpisah. Tak mungkin aku mengencingi diriku sendiri.

Namun begitu, akulah orang yang pertama membuang kencing di dunia ini. Ketika We Nyiliq Timoq datang menemuiku, menjadi pakaianku. Aku akan mengajari cara kencing di Ale Lino tanpa mengotorinya.

KLIK INI:  Segala yang Hanyut ke Laut