Membaca 7 Puisi Beraroma Laut dari Tri Astoto Kodarie

Klikhijau.com –  Dalam buku kumpulan puisinya Hujan Meminang Badai,  Tri Astoto Kodarie banyak bercerita tentang laut. Lelaki kelahiran 29 Maret  1961 di Jakarta itu, menjadikan laut sebagai ladang...

Membaca 7 Puisi Beraroma Laut dari Tri Astoto Kodarie
Bacakan Artikel

menatap hidup menatap nasib keterlanjuran hakekat
saat ditempuhnya usia di dalam hati yang pekat
tapi tak pernah sangsikan keyakinan yang erat
meskipun masa lalu telah tumbang dan sekarat

o, nelayan-nelayan perkasa yang menaklukkan kejemuan
masihkah melagukan gelegar gelombang?

parepare, 1988

[irp]

Meditasi Batu Karang


 

kapan kupanggil angin samudera menari-nari
mempermainkan camar, gelombang pasang menabur
isyaratkan senja bakal berbenih malam
o, lapar mengorek luka
merasuk pada gigil tubuh di puncak keheningan

kapan kuraup milyaran ikan yang berloncatan
di sukmaku
lalu berenang dengan sirip menyentuh karang
perjalanan bukan hanya berhenti sampai batas impian
kematian hanya terminal yang tercermin
di dasar samudera

kapan bisa kukunyah-kunyah batu karang
agar dapat kurasakan perihnya
o, angin samudera
jangan kau robek-robek heningnya

parepare, 1987

 

Sajak Gelombang


 

di laut ini
gelombang selalu saling mendahului
tak ada yang sama
sementara kita masih saja
sendiri, sendiri

setiap pagi kita di sini
dan tanpa kita sadari
kita menaiki gelombang
yang selalu memecah itu
yang selalu menghantam batu
yang kita pandang itu

tapi setiap hari, setiap waktu
kita masih saja
sendiri
selalu

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: