Lelaki Penjaga Kebun

Sore, sekitar pukul enam belas. Seorang lelaki tua sering datang silaturahim dengan keluarga atau sekadar membelikan sesuatu di kios pinggir jalan di kampungnya. Orang-orang di kampung memanggilnya Gu...

Lelaki Penjaga Kebun
Bacakan Artikel

Sore, sekitar pukul enam belas. Seorang lelaki tua sering datang silaturahim dengan keluarga atau sekadar membelikan sesuatu di kios pinggir jalan di kampungnya. Orang-orang di kampung memanggilnya Guru Tua. Ia sudah berumur lima puluh tujuh tahun.

Anak-anaknya tak lagi tinggal serumah dengannya. Ia memiliki tiga orang anak, ketiga anaknya sudah merantau dan bekerja di daerah lain, profesi mereka pun tak sama dengan dirinya yang jadi petani-ladang musiman.

Anak pertamanya yang lelaki kini tinggal dan berkerja di sebuah kota sebagai pegawai negeri sipil di kantor kementerian. Kemudian anak keduanya menjadi tentara yang bertugas di perbatasan negara, tetapi yang membuatnya sedih sehingga sering meneteskan air mata, ketika merenungi nasib anak perempuan satu-satunya.

Seorang perempuan yang paling dia sayang, lebih-lebih setelah istrinya meninggal. Pada umur tujuh belas tahun, anak perempuannya menikah dengan seseorang di kota seberang. Semenjak menikah tujuh tahun yang lalu belum ada kabarnya.

[irp]

Guru Tua yang telah ditinggal mati oleh istrinya, serta tiga anak sebagai simbol cintanya, ia berjarak dengan keluarganya dalam ketidakpastian. Guru Tua hanya tinggal sendiri saja, selain bertani-ladang, ia memilih tinggal di kebun, terletak sekitar tiga kilometer dari kampungnya. Di kebun ia ditemani oleh seekor anjing, seekor kucing, belasan ekor ayam dalam kandang di belakang gubuknya.

Hidupnya tak dihibur oleh musik yang diputar dari radio, televisi, atau handphone, melainkan tiap malam dia hanya mendengar suara jengrik disekitar kebunnya, sekali-kali anjingnya menggonggong jika ada firasat yang membahayakan bagi mereka. Satu hal lagi yang menjadi pelipur laranya, ia membaca Al-qurโ€™an, berzikir, dan salat. Pagi harinya ritual mendengar kicauan burung dan kokokan ayam yang baru saja turun untuk mematok cacing atau biji-bijian.

*****

Keberadaan Guru Tua membuatku tertantang untuk mengenalnya lebih-jauh, tak mudah bagi seorang manusia memilih tinggal jauh dari kebisingan kampung, jika tak ada nilai yang dijaganya. Cara guru tua mengasingkan diri mengundang rasa penasaran bagi sebagian orang, termasuk aku. Untuk apa dia harus menetap di kebun, sementara di kampung ada tanah dan rumahnya, sikap yang dia tunjukan sungguh aneh. Tetapi jika dilihat dari raut-wajahnya yang cerah, maka kita pastikan dia tak sedang stres. Atau mungkin dia ingin bertapa, segalanya bisa mungkin saja.

Suatu malam aku berkunjung ke kebunnya, kuajak seorang teman untuk menemani. Jam delapan malam di kebunnya sungguh sepi, suara daun pisang dan bambu saja yang terdengar. Itupun jika anginnya bertiup kencang, kalau angin berhembus pelan maka tak ada yang suara apa-apa. Gerbang kebunnya tak dikunci, kami langsung masuk saja. Ketika semakin dekat dengan gubuk, seekor anjing menggonggong keras, menyebabkan kami harus berhenti melangkah, takut digigit anjingnya.

"Siapa?," suaran guru tua.
"Saya," jawabku.
"Mari, tak perlu takut," panggilnya dengan lembut. "Husss....husss," diusirnya anjing yang menggonggong tadi. Kami pun berjalan mendekat ke gubuk setelah anjingnya menjauh. Guru tua di depan gubuknya, sedang duduk di bale-bale bambu.
"Oh, kamu. Saya kira siapa," sebutnya setelah melihat wajahku.
"Iya, maaf datang pada malam hari. Mungkin mengganggu istirahatnya, Guru," ucapku merendah.
"Tak apa-apa. Silakan duduk," ucapnya sambil menggeser posisinya agar ada tempat buat kami.

[irp]

Kami pun terdiam sebentar. Guru tua hanya menatap sekelilingnya, lalu kembali melihat wajah kami. Setelah itu wajahnya ditundukan melihat tanah. Aku pun diam, kadang mengusir dan menggarukan kulit tangan bekas gigitan nyamuk. Ia bergerak lalu bergegas naik ke gubuknya. Mengambil pisang yang sudah matang.

Silakan dicoba!" ajaknya ramah setelah pisang diletakan di bale-bale.
Kami mencicipi pisang yang disajikan oleh guru tua.
"Simpan saja di sini kulitnya,โ€ ia melarang kami membuang kulit pisang.
โ€œBesok bisa diberi makan kambing. Supaya mereka juga menikmati yang kita makan," sarannya yang cukup bermakna, aku kagum bahasanya.

Ucapan yang kedengarannya sederhana tapi maknanya cukup dalam. Dia sangat menghargai binatang sekali pun. Kuanggukan kepala tanpa mengucapkan apa-apa.

*****

Guru Tua kembali bergerak dari tempat duduk, setelah merapikan sarung yang dililitnya pada pinggang. Ia naik digubuknya kemudian membawa periuk kecil. Diletakan periuk itu disebuah tungku, lalu masuk dikolong untuk mengambil kayu bakar.

"Saya masak air dulu. Enaknya kita minum kopi," jelasnya setelah menyalakan api pada tungku itu.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: