Lelaki Penjaga Kebun

Sore, sekitar pukul enam belas. Seorang lelaki tua sering datang silaturahim dengan keluarga atau sekadar membelikan sesuatu di kios pinggir jalan di kampungnya. Orang-orang di kampung memanggilnya Gu...

Lelaki Penjaga Kebun
Bacakan Artikel

Aku mengangguk lagi, hanya senyum saja melihat tingkahnya. Usianya yang lanjut, ia masih kuat bergerak dengan cepat, walau tubuhnya tak tegak seperti masa mudanya. Kukagum bukan karena gerak cepatnya dalam beraktivitas tapi kebaikannya tanpa banyak bicara untuk melayani kami.

[irp]

"Mungkin ada hal yang penting, Nak. Sehingga kalian datang malam-malam," ucapnya.
"Mungkin tak bisa disebut penting, Guru. Kami ke sini hanya mau cerita-cerita saja. Apa yang guru ketahui mungkin masih banyak yang belum kami ketahui. Maklum keadaan anak muda sekarang lebih banyak habiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia saja," jelasku.

Mendengar ungkapan itu, dia memegang janggutnya sambil pelan-pelan membelai. Diperbaikinya letak kopiah, lalu berujar;

"Nak, tak baik menyebut tak penting sesuatu yang ingin kamu ketahui. Semua hal bisa jadi penting atau sebaliknya, terletak dari setinggi apa kita menjunjung hal itu. Penting atau tidaknya, bisa ditentukan setelah persoalan itu dibicarakan dulu. Sesuatu itu dianggap penting disesuaikan dengan keperluan kita. Jadi, kita bicarakan masalahnya. Jangan dulu memastikan itu tak penting atau penting."

"Iya, Guru."

Dia bangun lagi dari duduknya, tiga kopi gelas di atas piring ia letakkan diantara duduk kami.

"Silahkan diminum. Itu kopi hitam tanpa dicampur apa-apa."
"Terima kasih."
"Tadi mau tanya apa?" ia mengingatkan hal yang ingin kami bicarakan.
"Saya mau tanya tentang kehidupan. Bagaimana cara menjalani hidup yang baik, Guru?" tanyaku pelan dengan kepala tertunduk.

Aku harus aku, masih sangat segan bicara yang banyak di hadapanya.

"Jadi hanya mau tanya itu datang ke sini. Gelap-gelap jalan mengunjungiku."
"Sementara itu dulu, Guru," aku masih menunduk, sedikit malu mendengar ucapanya.
"Kamu tau apa yang kupelihara dan tanam di kebun ini," ia kembali bertanya.
"Tahu, Guru," aku semakin tak bisa berpikir, sepertinya nalarku mengalami kepanikan.

[irp]

Melihat kepanikan tergambar jelas di wajahku, Guru Tua melanjutkan petuahnya. Aku menyimaknya dengan saksama

"Baguslah. Begitulah hidup yang baik. Menjaga yang tumbuh di tanah ini. Yang butuh air maka kita sirami. Pohon tak perlu ditebang jika tak mengganggu yang lain. Kalaupun menghalangi tanaman lain, kita bisa menebangnya dan menanam lagi dilahan yang kosong sebagai penggantinya. Jangan biarkan tanah ini kosong tanpa fungsi apa-apa. Seperti itu juga kita menjaga yang bernyawa. Berilah makan kepada binatang dan hewan yang kita jaga. Apabila ada tamu sajikan minuman atau makanan yang terbaik sesuai yang kita nikmati tiap hari."
"Hanya begitu saja, Guru."
"Iya. Hidup yang kupahami seperti itu."
"Lalu, bagaimana kalau yang kita pelihara diambil orang lain. Atau dicurilah?" Kuberanikan diri bertanya dan sedikit mengangkat kepala.

Kulihat matanya sangat bercahaya. Serius.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: