Lelaki Penjaga Kebun

Sore, sekitar pukul enam belas. Seorang lelaki tua sering datang silaturahim dengan keluarga atau sekadar membelikan sesuatu di kios pinggir jalan di kampungnya. Orang-orang di kampung memanggilnya Gu...

Lelaki Penjaga Kebun
Bacakan Artikel

[irp]

Dunia anak-anak mestinya menjadi pelajaran yang direnungi kembali, damai dan jujur menghargai satu sama lainnya.
Pada malam yang brutal kubayangkan kelak agar bisa mengabdi pada ibu kalau ia sudah tua. Mencucikan pakaiannya, menyediakan air mandinya dan jika dalam cuaca dingin akan kupanaskan airnya, memasak makanan yang ia sukai lalu menyuapnya, dan mengiringi dengan bacaan Al-qurโ€™an menjelang tidurnya.

Subuh baru saja membangunkan manusia untuk beribadah, menandakan kelahiran kehidupan yang harus dipacu. Aku masih berguling di atas dipan, di subuh itu Guru tua datang bertamu. Ibu membangunkan pada saat aku menyelesaikan mimpi. Aku tersentak ketika ibu menyebut ada Guru tua yang datang ingin berjumpa denganku. Saat kubangun ia sudah berada diruang tamu, melihatnya aku hanya senyum tipis dan merasa malu karena terlambat bangun.

โ€œAku ingin mengantar ini,โ€ ia berkata pelan sambil mengeluarkan sebuah buku yang dililit dalam sarungnya.
Aku terima saja, lalu membukanya. Kubaca beberapa kalimat yang ditulis secara manual oleh tangan manusia. โ€œTentang apa ini, Guru?,โ€ tanyaku.
โ€œBaca dulu. Akan kamu mengerti isinya dan suatu saat kamu juga akan merasakan manfaatnya. Baca dengan tenang dan diulang-ulang, kesabaran akan membukan pintu bagi seorang pencari,โ€ katanya pelan.

Aku dengar saja walau merasa bingung. Sebelum pergi ia berkata;

โ€œBelajarlah pada guru yang bijak. Guru menjadi wasilah antara kamu dengan Tuhanmu. Jika ke masjid bergurulah pada imam, kelak kamu di rumah berkhidmatlah pada orang tuamu, kalau kamu sendirian bertanyalah pada hatimu. Apabila bersama alam maka kamu lindungi pohon-pohon, jagalah kebersihan air dan sungai, rawatlah seperti kau menyayangi dirimu, dan paling penting berbagilah hasil alam sekecil apa pun, semakin banyak kamu berbagi akan membuat hatimu makin lembut. Semua hal itu yang akan menyelamatkanmu, apabila diyakini dengan sungguh.โ€

Titik merah dari ufuk mulai pecah.ย  *****

Penulis adalah penyuka sastra dan kajian sosial, lahir disalah satu desa di pelosok Bima-NTB, pernah menulis buku "Tuhan Tergadai dan Salunga; Nyanyian Alam Damai". Kini kuliah di Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, mengambil master Kesustraan Melayu.

[irp]

Pilih Halaman: