Kisah Perjuangan Perempuan Penyelamat Sawah Terakhir di Paddinging

KLikhijau.com - Hari masih pagi ketika kami tiba di rumah Irmawati Daeng So’na (35), lebih akrab memanggilnya Daeng So’na, di suatu waktu pada akhir Oktober 2021. Tepatnya di Desa Paddinging Kabupa...

Kisah Perjuangan Perempuan Penyelamat Sawah Terakhir di Paddinging
Bacakan Artikel

Namun, kerja keras dan konsistensi membuahkan hasil dengan menyingkirnya para penambang secara perlahan. “Paling tidak mereka paham bahwa kami warga desa menolak sawah-sawah kami dirusak,” tegas Daeng So’na.

“Keberhasilan perlawanan ini tidak lepas dari kebersamaan warga dan komunitas serta lembaga advokasi pendamping yang ikut mendukung seperti Walhi, komnas Perempuan dan Balai Perempuan Paddinging.

Berkat kegigihan dan solidaritas, pada tahun 2019, akhirnya lahirlah perjanjian bersama penolakan tambang yang ditandatangani secara bersama oleh warga dan pemerintah Desa. Ini menjadi konsensus dan aspirasi yang sangat kuat, setidaknya menunjukkan betapa perlawanan mereka tidaklah disulut dari orang per orang, tetapi berakar dari aspirasi kolektif.

“Sayangnya memang dokumen itu tidak sempat kami simpan arsipnya. Sudah tiga kali saya tanyakan ke pemerintah desa Paddinging namun belum mendapatakan hasil, kami tidak mengerti dimana dokumen perjanjian ini disimpan. Kabarnya dokumen ini diduga disimpan oleh Arifin selaku sekdes Paddinging,” jelas Daeng So’na.

[irp]

Apa pun itu, perjuangan mereka layak diapresiasi. Daeng So’na dan komunitasnya telah bersepakat untuk mempertahankan sawah yang tersisa dan akan menjadikan kawasan sawah tersisa tersebut sebagai pusat pendidikan pertanian alami, sistem pertanian yang berkeadilan, berkelanjutan dan berkearifan lokal.

Di sawah yang tersisa itu pula, komunitas SePAKat berencana akan membuat area wisata edukasi alam. “Tujuannya agar petani-petani yang belum melakukan pertanian alami mampu merasakan betapa nikmatnya bertani alami,” tuturnya.

Benar saja, dalam dua tahun terakhir, Daeng So’na telah menanam padi secara organik. Ini adalah hasil pembelajaran yang ia dapatkan di tahun 2015 dan lansung dipraktikkan. Demi memberi bukti pada petani lainnya bahwa pertanian yang ramah lingkungan bukan mustahil dilakukan. Alam raya menyediakan segala rupa untuk menghidupkan padi-padi dan sayuran bebas zat kimia—sumber pangan sehat yang didambakan. Daeng So’na dan komunitasnya di SePAKat telah membuktikannya, jadi tak sekadar wacana dan kata-kata.

[caption id="attachment_23696" align="alignnone" width="840"]sawah alami sawah milik Daeng So'na yang digarapnya sendiri dengan sistem pertanian alami - Foto/Ist[/caption]

Semangat bertani alami

Daeng So’na dan komunitas SePAKat terus bergerak menanam dan menanam. Mereka juga belajar dan terus belajar. Mereka berani mencoba ide-ide dan pengalaman pertanian alami yang dilihatnya dari berbagai tempat untuk diterapkan di desanya. Visinya jelas, tanah adalah harapan yang harus dijaga demi masa depan.

Kini, SePAKat  sedang giat-giatnya menuai hasil panen cabai organik yang ditanam komunitasnya. Hasil olahannya sudah ada dalam bentuk produk kemasan yakni Lombok tumis alami yang kini dipasarkan oleh Sofresh'na Indonesia.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: