Kisah Perjuangan Perempuan Penyelamat Sawah Terakhir di Paddinging

KLikhijau.com - Hari masih pagi ketika kami tiba di rumah Irmawati Daeng So’na (35), lebih akrab memanggilnya Daeng So’na, di suatu waktu pada akhir Oktober 2021. Tepatnya di Desa Paddinging Kabupa...

Kisah Perjuangan Perempuan Penyelamat Sawah Terakhir di Paddinging
Bacakan Artikel

Militansi dan semangat perlawanan itu bukanlah sesuatu yang tumbuh instan. Melainkan mengakar dari dalam jiwa mereka yang secara konsisten menyuarakan perlawanan pada para penambang galian C yang merajalela di desanya sejak tahun 2010, menghancurkan sawah-sawah mereka. Ini sudah jadi musuh bersama para perempuan di sana dan karena itulah mereka berserikat di SePAKat demi menjaga daya dan semangat juang dan merangkul semangat juang melawan tambang.

[caption id="attachment_23695" align="alignnone" width="686"]sawah Sawah bekas tambang galian C yang kini menjelma jadi danau jadi-jadian dan tak lagi fungsional - Foto/Ist[/caption]

[irp]

Bukan tanpa alasan, meski aktivitas tambang itu kini mulai hilang, kewaspadaan senantiasa mereka bangun. Mereka tidak rela, desanya rusak dan dieksploitasi lagi hingga hilang satu-satu sawah-sawah yang dulu dipanen dan dinikmati petani lokal. Bagi Daeng So’na, tambang hanya dinikmati segelintir orang luar, yang meninggalkan bencana ekologi. Seperti pameo, habis manis sepah dibuang.

Begitulah kondisi area pertanian di Desa Paddinging. Pada sore hari sesaat setelah berbincang panjang lebar, kami diajak berkeliling area persawahan. Tampaklah area persawahan seperti wajah yang bopeng-bopeng. Bekas galian tambang menyisakan genangan air yang dalam dan menjelma sebagai empang.

“Kubangan itu sudah tiada  gunanya kak,” kata Daeng So’na. Miris melihatnya! Bayangkan saja, bila aktivitas tambang ini dibiarkan tanpa perlawanan, desa Paddinging tentu akan kehilangan otentitasnya sebagai lumbung padi. Petani akan kehilangan mata pencahariannya dan yang lebih mengerikan adalah lingkungan dan ekosistem akan semakin rusak parah.

Perjuangan perempuan penyelamat sawah terakhir

Perjuangan memang tidak pernah ringan, karenanya membutuhkan konsistensi, kesabaran dan keberanian. Daeng So’na menyadari bahwa yang mereka lawan bukan hanya penambang, tetapi juga sekelompok orang di desanya. Tidak mudah memang, sebab tidak sedikit warga yang menyambut baik aktivitas tambang tanpa pernah berpikir dampaknya.

Daeng So’na mengenang perlawanan keras yang dilakukan komunitasnya melawan tambang Ia berupaya menggalang dukungan warga dengan membuat pernyataan sikap yang ditempel di kampung-kampung dan di masjid, mengumpulkan tanda tangan warga untuk menolak tambang serta membuat Nota Kesepahaman dengan warga untuk menolak aktivitas tambang. Nota kesepahaman tersebut lalu dicetak baliho besar dan ditempelkan di depan kantor desa. Namun, hanya bertahan sehari, baliho itu pun lenyap dibongkar oleh oknum yang tentu tak sepakat dengan dengan kesepahaman itu.

[irp]

“Pernah pula kami aksi di perempatan jalan sekadar pasang tulisan “Warga Desa Paddinging Menolak Tambang”. Namun spanduk tersebut dicabut oleh oknum yang kecewa tambangnya tidak bisa dijalankan dan eskavatornya terpaksa dia bawa keluar,” cerita Daeng So’na.

“Seiring waktu dan semangat juang terus kami kobarkan, ancaman dan intimidasi kami alami. Ada konflik dan ada korban materi yang harus kami tanggung,” tambahnya.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: