Kisah Perjuangan Perempuan Penyelamat Sawah Terakhir di Paddinging

KLikhijau.com - Hari masih pagi ketika kami tiba di rumah Irmawati Daeng So’na (35), lebih akrab memanggilnya Daeng So’na, di suatu waktu pada akhir Oktober 2021. Tepatnya di Desa Paddinging Kabupa...

Kisah Perjuangan Perempuan Penyelamat Sawah Terakhir di Paddinging
Bacakan Artikel

[caption id="attachment_23695" align="alignnone" width="686"]sawah Sawah bekas tambang galian C yang kini menjelma jadi danau jadi-jadian dan tak lagi fungsional - Foto/Ist[/caption]

Bukan tanpa alasan, meski aktivitas tambang itu kini mulai hilang, kewaspadaan senantiasa mereka bangun. Mereka tidak rela, desanya rusak dan dieksploitasi lagi hingga hilang satu-satu sawah-sawah yang dulu dipanen dan dinikmati petani lokal. Bagi Daeng So’na, tambang hanya dinikmati segelintir orang luar, yang meninggalkan bencana ekologi. Seperti pameo, habis manis sepah dibuang.

Begitulah kondisi area pertanian di Desa Paddinging. Pada sore hari sesaat setelah berbincang panjang lebar, kami diajak berkeliling area persawahan. Tampaklah area persawahan seperti wajah yang bopeng-bopeng. Bekas galian tambang menyisakan genangan air yang dalam dan menjelma sebagai empang.

“Kubangan itu sudah tiada  gunanya kak,” kata Daeng So’na. Miris melihatnya! Bayangkan saja, bila aktivitas tambang ini dibiarkan tanpa perlawanan, desa Paddinging tentu akan kehilangan otentitasnya sebagai lumbung padi. Petani akan kehilangan mata pencahariannya dan yang lebih mengerikan adalah lingkungan dan ekosistem akan semakin rusak parah.

Perjuangan perempuan penyelamat sawah terakhir

Perjuangan memang tidak pernah ringan, karenanya membutuhkan konsistensi, kesabaran dan keberanian. Daeng So’na menyadari bahwa yang mereka lawan bukan hanya penambang, tetapi juga sekelompok orang di desanya. Tidak mudah memang, sebab tidak sedikit warga yang menyambut baik aktivitas tambang tanpa pernah berpikir dampaknya.

Daeng So’na mengenang perlawanan keras yang dilakukan komunitasnya melawan tambang Ia berupaya menggalang dukungan warga dengan membuat pernyataan sikap yang ditempel di kampung-kampung dan di masjid, mengumpulkan tanda tangan warga untuk menolak tambang serta membuat Nota Kesepahaman dengan warga untuk menolak aktivitas tambang. Nota kesepahaman tersebut lalu dicetak baliho besar dan ditempelkan di depan kantor desa. Namun, hanya bertahan sehari, baliho itu pun lenyap dibongkar oleh oknum yang tentu tak sepakat dengan dengan kesepahaman itu.

“Pernah pula kami aksi di perempatan jalan sekadar pasang tulisan “Warga Desa Paddinging Menolak Tambang”. Namun spanduk tersebut dicabut oleh oknum yang kecewa tambangnya tidak bisa dijalankan dan eskavatornya terpaksa dia bawa keluar,” cerita Daeng So’na.

“Seiring waktu dan semangat juang terus kami kobarkan, ancaman dan intimidasi kami alami. Ada konflik dan ada korban materi yang harus kami tanggung,” tambahnya.

Namun, kerja keras dan konsistensi membuahkan hasil dengan menyingkirnya para penambang secara perlahan. “Paling tidak mereka paham bahwa kami warga desa menolak sawah-sawah kami dirusak,” tegas Daeng So’na.

“Keberhasilan perlawanan ini tidak lepas dari kebersamaan warga dan komunitas serta lembaga advokasi pendamping yang ikut mendukung seperti Walhi, komnas Perempuan dan Balai Perempuan Paddinging.

Berkat kegigihan dan solidaritas, pada tahun 2019, akhirnya lahirlah perjanjian bersama penolakan tambang yang ditandatangani secara bersama oleh warga dan pemerintah Desa. Ini menjadi konsensus dan aspirasi yang sangat kuat, setidaknya menunjukkan betapa perlawanan mereka tidaklah disulut dari orang per orang, tetapi berakar dari aspirasi kolektif.

“Sayangnya memang dokumen itu tidak sempat kami simpan arsipnya. Sudah tiga kali saya tanyakan ke pemerintah desa Paddinging namun belum mendapatakan hasil, kami tidak mengerti dimana dokumen perjanjian ini disimpan. Kabarnya dokumen ini diduga disimpan oleh Arifin selaku sekdes Paddinging,” jelas Daeng So’na.

Apa pun itu, perjuangan mereka layak diapresiasi. Daeng So’na dan komunitasnya telah bersepakat untuk mempertahankan sawah yang tersisa dan akan menjadikan kawasan sawah tersisa tersebut sebagai pusat pendidikan pertanian alami, sistem pertanian yang berkeadilan, berkelanjutan dan berkearifan lokal.

Di sawah yang tersisa itu pula, komunitas SePAKat berencana akan membuat area wisata edukasi alam. “Tujuannya agar petani-petani yang belum melakukan pertanian alami mampu merasakan betapa nikmatnya bertani alami,” tuturnya.

Benar saja, dalam dua tahun terakhir, Daeng So’na telah menanam padi secara organik. Ini adalah hasil pembelajaran yang ia dapatkan di tahun 2015 dan lansung dipraktikkan. Demi memberi bukti pada petani lainnya bahwa pertanian yang ramah lingkungan bukan mustahil dilakukan. Alam raya menyediakan segala rupa untuk menghidupkan padi-padi dan sayuran bebas zat kimia—sumber pangan sehat yang didambakan. Daeng So’na dan komunitasnya di SePAKat telah membuktikannya, jadi tak sekadar wacana dan kata-kata.

[caption id="attachment_23696" align="alignnone" width="840"]sawah alami sawah milik Daeng So'na yang digarapnya sendiri dengan sistem pertanian alami - Foto/Ist[/caption]

Semangat bertani alami

Daeng So’na dan komunitas SePAKat terus bergerak menanam dan menanam. Mereka juga belajar dan terus belajar. Mereka berani mencoba ide-ide dan pengalaman pertanian alami yang dilihatnya dari berbagai tempat untuk diterapkan di desanya. Visinya jelas, tanah adalah harapan yang harus dijaga demi masa depan.

Kini, SePAKat  sedang giat-giatnya menuai hasil panen cabai organik yang ditanam komunitasnya. Hasil olahannya sudah ada dalam bentuk produk kemasan yakni Lombok tumis alami yang kini dipasarkan oleh Sofresh'na Indonesia.

Lombok tumis alami dipetik dari kebun bersama dan diolah oleh tim produksi yang telah mengikuti pendidikan khusus mengenai pengolahan pangan yang higenis dan aman.

Para perempuan yang mayoritas ibu rumah tangga di SePAKat juga terus bergerak melakukan pengembangan diri dan keluarga. Mereka sukses mengembangkan padi alami dengan hasil panen yang berlimpah dan kualitas lebih baik dan tentu lebih sehat. SePAKat juga telah memiliki semacam kebun kolektif yang terletak di pesisir Ujung Baji yang dikembangkan oleh sofresh'na.

Perjuangan belum berakhir, Daeng So’na dan komunitasnya tiada henti melakukan advokasi mempertahankan sawah. Mereka juga berjuang pada level kebijakan dengan mendorong suatu Peraturan Daerah (Perda) tentang Pertanian Alami yakni Pengelolaan SDA secara berkelanjutan, berkeadilan dan berkerarifan lokal.

“Saya punya impian dan harapan, Desa Paddinging menjadi Pusat Pendidikan Pertanian Alami, mempertahankan sawah yang tersisa dengan menjadikan desa wisata di kabupaten Takalar,” tutur Daeng So’na optimis.

Seusai diskusi panjang lebar sembari berkeliling mengamati sawah terakhir yang terselamatkan di Paddinging, kami kembali ke sekretariat SePAKat persis di belakang rumah Daeng So’na. Di sana kami telah disambut puluhan ibu-ibu anggota komunitas.

Mereka akan menggelar rapat rutin. Namun seperti biasa, ada acara makan bersama. Panganannya kali ini adalah surabi dari tepung beras yang ditanak dengan periuk dari tanah liat. Surabi dicelupkan pada santan kelapa kental bercampur gula, rasanya sedap luar biasa. Padahal sebelumnya, kami telah disuguhkan pula dengan lawi-lawi dengan ikan masak khas Takalar, tak seberapa lama usai menyantap kapurung.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2