Kencani Rindu

Di selasar rumah panggung itu. Ia duduk menatap butiran hujan yang menderas—menunggunya mereda disusul gerimis. Ia selalu suka gerimis sebab akan membuatnya lebih muda tujuh hingga lima belas tahun da...

Kencani Rindu
Bacakan Artikel

“Salihu’,” bisiknya kaget. Ia teringat salihu’ tebal seperti inilah yang menculikmu, Sanami ketika masih kanak. Ia menatapi pekat, membayangkanmu terbang dibawa salihu’. Rindunya kepadamu terasa memuncak.

“Di mana kunang-kunang itu, Daeng,” suara itu mengagetkannya. Ia menoleh ke arah tangga. Menajamkan pendengarannya.

Ia merinding, dalam pekat ia mendengar suara langkah kaki seseorang menaiki anak tangga rumahnya. Ia mengumpulkan segala keberaniannya. Ia menghunus badiknya, ia membaca ayat kursi berulang-ulang lalu membuka pintu.

Ketika pintu terkuak, sesosok tubuh perempuan bergaun kabut dikelilingi kunang-kunang berdiri tersenyum di hadapannya.

“Saya Sanami, Daeng, ikutlah bersamaku, kita menjadi salihu’!” ajakmu, Sanami. Ia tak bergerak hanya mematung saja di depan pintu rumahnya.

Salihu’ menari di pagi hari

Keesokan harinya, warga geger karena di puncak gunung yang telah gundul salihu’ menari-nari serupa orang sedang bercinta. Sementara pintu rumah Puang Kamang yang telah berusia 63 tahun, namun akan lebih muda tujuh hingga lima belas tahun jika sedang gerimis telah terbuka.

Hal tersebut nyaris tak pernah terjadi. Pintu rumah Puang Kamang hanya akan terbuka jelang malam. Warga yang berkumpul di depan rumah Puang Kamang hanya menerka-nerka apa yang terjadi, namun tak seorang pun berani menaiki tangga untuk memastikan keadaan sebenarnya. Warga lebih suka beropini sendiri.

Sejak kejadian itu, salihu’ tak pernah lagi bertandang ke kampung itu hingga kini. Kunang-kunang pun menghilang seiring menghilangnya pepohonan. Namun, jika kelak kamu berkunjung ke kampung itu, kamu bisa saksikan salihu’ bermukim di kepala warga. ###

Pilih Halaman: