Hujan yang Berhenti di Bibirmu

Riuh. Orang-orang berhamburan keluar rumah menyelamatkan cengkih yang sedang dijemur agar tidak basah. Hujan tiba-tiba saja datang padahal sedang terik. Biasanya sebelum hujan akan gumuru ‘mendung’...

Hujan yang Berhenti di Bibirmu
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Riuh. Orang-orang berhamburan keluar rumah menyelamatkan cengkih yang sedang dijemur agar tidak basah. Hujan tiba-tiba saja datang padahal sedang terik.

Biasanya sebelum hujan akan gumuru ‘mendung’ terlebih dahulu. Tapi hari itu tidak demikian, alam seakan dipulaskan sinar matahari. Angin bertiup amat lembut. Penanda hujan tidak ada.

“Sial, kenapa dia datang saat begini,” kecam Ibu dengan geram sambil memungut cengkih yang tercecer ke tanah karena jatuh dari tikar.
“Barangkali ia rindu ingin memetik cengkih,” sambut Ayah sambil tertawa.

Tidak cukup setengah jam setelah hujan tiba-tiba itu, kamu benar-benar datang. Sebuah mobil berwarna merah berhenti di depan rumah dan kamu turun berjalan di tengah hujan.

Tetesan hujan yang menerpamu berhenti tepat di bibirmu. Angin berembus kencang mengiringi langkahmu. Dedaunan terbang hingga ke ruang tamu.

Halaman rumah penuh dedaunan kering. Suara kaloro ‘sungai’ Balantieng bergemuruh. Pasti airnya sedang naik karena hujan. Seekor anak anjing meraung-raung terseret air kacera ‘selokan kecil’ di pinggir jalan.

Penanda datangmu adalah hujan. Selalu saja begitu.

Hujan bercerita akan dirimu

Seperti biasa dirimulah yang diikuti hujan. Setiap kali kamu pulang kampung bosi allo bangngi 'hujan siang malam' selalu curah. Jika kamu tinggal seminggu di kampung maka hujan pun akan turun selama seminggu.

Wajar saja orang-orang menamaimu perempuan hujan. Wajar pula jika musim petik kopi dan cengkih orang-orang selalu was-was menanti kedatanganmu. Sebab ke mana pun kamu pergi hujan akan menemukanmu.

Barangkali hujan jatuh cinta pada bibirmu yang merah alami. Setiap tetes yang membasahi rambut dan wajahmu akan berhenti di bibirmu tanpa bekas—diserap begitu saja, menjadi darah pada tubuhmu.

Tentangmu rasanya tidak ada istimewa. Wajahmu biasa saja, hidung, rambut, mata, postur tubuh, bentuk telinga, mulut—yang sedikit berbeda dari kebanyakan warga kampung hanyalah bibirmu yang selalu merah.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2