Kencani Rindu

Di selasar rumah panggung itu. Ia duduk menatap butiran hujan yang menderas—menunggunya mereda disusul gerimis. Ia selalu suka gerimis sebab akan membuatnya lebih muda tujuh hingga lima belas tahun da...

Kencani Rindu
Bacakan Artikel

Saat itu kamu yang sedang bermain karet bersamanya tiba-tiba menghilang. Seisi kampung panik dan ketakutan. Anak-anak dilarang keluar rumah.
Menurut tetua kampung ada paalle-alle ulu ‘tukang ambil kepala orang’ untuk tumbal sebuah proyek. Tapi Puang Tammu, seorang sanro ‘tabib, dukun’ terkenal berpendapat lain, bahwa kamu diculik salihu’ dan suatu saat akan dikembalikan.

Namun, setelah kembali kamu akan jadi orang yang tak waras. Salihu’ akan memberimu makanan kayu bussa’ ‘lapuk’. Tapi, hingga kini di usianya yang keenam puluh tiga tahun ucapan puang Tammu tak terbukti.

Lagi pula seingatnya, kabut mulai sangat jarang bertandang ke kampunya sejak pepohonan ditebangi dan gunung digunduli dijadikan lahan pertanian.

Kamu sebuah kisah perulangan

Sejak kejadian itu, cara mengenangmu dengan menangkap kunang-kunang tiap malam. Ia akan memasukkannya ke sebuah buli-buli lalu diletakkan di sisi tempat tidurnya. Gara-gara kebiasaan itu pula, istri pertamanya minta cerai.

Ia menikah lagi, istri keduanya pun tak tahan dengan kebiasaannya. Istri keduanya pergi tanpa pamit membawa serta buah hatinya. Sejak itulah ia memilih hidup sendiri hingga di usianya yang menua sekarang.

Ia percaya, kamu adalah kisahnya yang tak selesai. Kisah yang harus dijalaninya kelak. Kisah yang harus diselesaikan. Kisah yang tak selesai itu telah menjadi momok dalam rumah tangganya. Ia benci kenangan kanaknya bersamamu, Sanami.

Kenangan yang membulat di hatinya dan tak terpecahkan. Dan senja jelang malam saat ini, suara kanakmu bertandang lagi. Ia ketakutan dan gemetaran jika harus bertemu denganmu. Rindu yang bertumpuk jadi penyebabnya.

Malam beringsut cepat, hujan masih menderas. Dihabiskannya kopi yang sedari tadi dibiarkan dingin. Ia beranjak masuk ke rumah mencari buli-buli, karena ingin berburu kunang-kunang dalam hujan. Tubuhnya terasa gigil. Suaramu tadi masih melingkar di pendengarannya.

Kunang-kunang akan sulit ditemukan jika hujan. Hanya tiga atau empat ekor kunang-kunang saja berhasil ditangkapnya sebelum kembali ke rumahnya. Ia kuyup, geligis menyergapnya.

Sejak listrik masuk ke kampungnya makhluk berkelip itu banyak menghilang dari sela-sela pohon cengkih depan rumahnya. Ia harus berjalan jauh agar bisa menemukan kunang-kunang.

Iya, sejak listrik masuk ke kampungnya makhluk kecil itu serasa telah punah.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: