Kencani Rindu

Di selasar rumah panggung itu. Ia duduk menatap butiran hujan yang menderas—menunggunya mereda disusul gerimis. Ia selalu suka gerimis sebab akan membuatnya lebih muda tujuh hingga lima belas tahun da...

Kencani Rindu
Bacakan Artikel

Kenangannya bersamamu tentang kunang-kunang membuatnya ingin tahu banyak tentang serangga bercahaya itu.
Rasa penasaran itu membuatnya membaca banyak hal tentang kunang-kunang. Rupanya makhluk kecil itu berpotensi dikembangkan jadi obat melawan kanker.

Konon, ada zat kimia yang berada di dalam perutnya yang disebut luciferin bisa menawarkan dokter jendela lain ke dalam otak manusia.
adalah Stephen Miller, seorang ahli biologi kimia di University of Massachusetts Medical School yang juga mempelajari luciferin dan potensinya untuk kesehatan manusia.

Ia kaget ketika membaca ulasan Miller yang ia temukan di sebuah majalah bekas itu. Ia jadi bertanya, apakah kunang-kunang bisa mengobati kerinduannya padamu, Sanami.

Salihu’ mengantarmu pulang

“Sialan.” Umpatnya ketika membuka laci meja di ruang tamu karena tak menemukan fotomu, Sanami. Padahal itu satu-satunya tanda mata darimu.
Masih sangat basah di ingatannya, ketika sedang duduk berdua denganmu di selasar rumahnya menikmati pisang goreng. Ia ingat betul peristiwa itu.
Kamu difoto bersamanya oleh pamanmu yang tinggal di kota.

Berbulan-bulan menunggu foto itu selesai dicetak, hingga suatu hari pamanmu datang membawa foto tersebut. Untuk pertama kalinya kamu dan ia tak menangkap kunang-kunang malam itu karena larut menatapi foto ukuran 3 R di bawah sorotan pelita yang terbuat dari kaleng susu.

“Tangkap kunang-kunang itu lalu masukkan ke sini,” suara itu kembali bertandang. Ia merinding dan lari masuk ke kamarnya mengambil badik warisan orang tuanya.

“Jika berani, tunjukkan dirimu!” Suaranya lantang menantang. Ia mengelilingi rumahnya yang tak terlalu luas.

Suara derit lantai papan menambah suasana kian cekam. Hujan masih menderas, suara kali di depan rumahnya yang meruah menambah nyalinya kian ciut.

Namun, ia percaya badik yang ada di tangannya memiliki kekuatan magis. Ia membaca ayat kursi berkali kali untuk menenangkan hatinya, untuk mengusir ketakutannya sendiri.

Ia membuka jendela rumahnya dengan nekkere ‘gemetaran’. Hembusan angin dingin menerpa tubuh kurusnya. Sepi terasa beringas, hujan menderas gila.

Ia memerhatikan sekeliling rumahnya lewat jendela sambil membaca lagi ayat kursi. Setelah bacaannya selesai, hujan tiba-tiba mereda berganti pekat, sangat pekat. Ia mengambil senter, namun cahaya senter tak mampu menembus pekat.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: