Identitas Hijau Kaum Muda Nadhliyyin

Klikhijau.com - Konflik agraria mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, di tahun 2017 ada 659 konflik agraria dengan luasan mencapai 520.491, 87 hektar. Jumlah konflik ini meningkat 50 % dari tahun...

Identitas Hijau Kaum Muda Nadhliyyin
Bacakan Artikel

Identitas yang dimiliki kaum muda NU dengan โ€˜red ecologyโ€™ mengisi gap gerakan lingkungan anak muda yang hanya membangun gerakan di permukaan. Walau begitu, dalam beberapa aspek tertentu ecological habitus kaum muda NU perlu diresearch dengan lebih serius karena kebanyakan aktivis agraria memiliki tradisi merokok yang kuat. Sesuatu yang berbeda dengan aktivis lingkungan yang tidak merokok dan memiliki praktek hidup ramah lingkungan dalam keseharian.

Tetapi, kaum muda NU memiliki keberpihakan dalam memilih produk yang menjadi elemen perlawanan dalam kehidupan sehari-hari yang dalam istilah Michele (2003) sebagai โ€˜individualized collective actionโ€™. Yakni, individu membeli produk dengan keberpihakan akan ekonomi sekaligus lingkungan.

Hal itu karena perlawanan individu dilakukan individu maka ini diartikan aksi kolektif yang mengalami individualisasi.

Tindakan aktivis agraria yang merokok di dalam FNKSDA, sebagian besar memakai rokok kretek yang dibeli langsung dari petani yang secara emosional mereka kenal baik.

Sikap dalam membeli produk inilah keberpihakan yang tidak bisa dijustifikasi bahwa anak muda NU tidak ramah lingkungan.

Padahal mereka memiliki kesadaran ekologis yang tinggi. Hanya saja, identitas hijau itu tidak ditunjukkan sebagai gaya hidup melainkan gerakan keberpihakan di akar rumput terutama terhadap warga yang mengalami konflik lingkungan.

[irp]

Melampaui Identitas, Membangun Solidaritas Kaum Muda

Gerakan lingkungan yang semakin radikal dalam melawan sistem kapitalisme dan memiliki ecological habitus yang menjadi sistem sosial dalam komunitasnya akan mengalami ekslusi karena mereka membangun sistem organik yang menjadi kesepakan politik di dalam komunitas yang membuat mereka membedakan mana pihak luar dan dalam (Meredian, 2018).

Ekslusi semacam ini bentuk dari politik identitas yang belum teoritisasikan dalam kajian politik identitas selama ini. Cara ilmuwan politik dalam mendefinisikan identitas selalu berkaitan dengan agama, ras, etnik dan lainnya.

Namun, jarang menyentuh aspek identitas hijau dimana tingkat kesadaran dan praktek keberpihakan lingkungan sehari-hari mempengaruhi pola interaksi kelompok dengan kelompok lain.

Identitas hijau yang banyak dibangun melalui praksis dan pendidikan lingkungan membuat anak muda menjadikan ini sebagai gaya hidup, gerakan politik dan lainnya.

Namun, kuatnya identitas hijau anak muda tidak berarti tingkat mengekslusi dirinya tinggi bahkan gerakan ekologi anak muda di Indonesia malah membangun jejaring yang luas untuk memperkuat gerakan mereka, bukan mengeklusi.

Walaupun anak muda ini memberikan tawaran dan membangun praksis alternatif dalam menyelamatkan bumi dari kerusakan.

Pada posisi ini, politik kaum muda FNKSDA secara individual hingga kolektif malah melampaui identitas ke NU-an meskipun secara basis massa dan pengaruh.

Anak muda ini memiliki pengaruh yang besar di dalam NU dan basis massa NU. Tetapi anak muda NU membangun solidaritas aktif dimana ada konflik sumber daya alam, para anak muda ini ikut terlibat dalam advokasi dan memberikan dukungan dengan pernyataan sikap politik terhadap masalah yang terjadi di belahan Indonesia.

Keterlibatan anak muda ini ingin memperkuat sekaligus memberdayakan gerakan rakyat di daerah daerah konflik agar rakyat mampu mengorganisir diri mereka sendiri tetapi tetap bekerja bersama dengan FNKSDA (Dwi Cipta, wawancara, 18 April 2019).

[irp]

Advokasi dan upaya membangun diakursus sosial

Kaum muda Nadhliyin telah memainkan peran strategis dalam kehidupan masyarakat secara umum dengan jaringan organisasi yang tersebar di Indonesia. Kaum muda ini terlibat aktif dalam advokasi banyak kasus konflik agraria dan lingkungan.

Misalnya, di Yogyakarta anak muda FNKSDA Yogya ikut dalam mengadvokasi warga pada konflik pembangunan Bandara di Kulon Progo dan Di urut Sewu. Mereka mengorganisir warga untuk melakukan perlawanan terhadap tentara yang merampas tanah warga.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: