Politik Kewargaan: Anak Muda dan Perubahan Iklim

Klikhijau.com - Aksi anak muda Swedia, Greta Thunberg telah mendorong anak muda di berbagai negara mengambil ‘biggest role’ dalam kontestasi politik global. Peristiwa ini menandakan persoalan iklim ad...

Politik Kewargaan: Anak Muda dan Perubahan Iklim
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Aksi anak muda Swedia, Greta Thunberg telah mendorong anak muda di berbagai negara mengambil ‘biggest role’ dalam kontestasi politik global. Peristiwa ini menandakan persoalan iklim adalah tanggungjawab bersama.

Aksi, ekpresi dan tindakan anak muda ini menjadi kebangkitan ‘radical citizenship’ (Dobson, 2003), ‘global youth citizenship’ (Angen Rye, 2013) dan ‘citizen of the planet’. Perubahan iklim dihadapi oleh semua orang dan akhir-akhir semakin kita rasakan dalam kehidupan sehari- sehari, berubahnya musim hujan, suhu udara, cuaca yang tidak teratur, banjir dan lainnya.

Kegagalan rezim global dalam mencegah naiknya suhu bumi menimbulkan efek yang negatif bagi negara-negara miskin. Sedangkan pada titik ekstrim semua orang berkampanye bahwa persoalan ini terletak pada tanggungjawab individual dengan perubahan prilaku individu maka degradasi ekologi dan perubahan iklim bisa diatasi.

Anne (2013) mengatakan konvensional wacana politik ekologi menempatkan persoalan bumi bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup, bijak dalam berbelanja, memakai tumbler, dan memakai totebag, memakai sedotan aluminium dan lainnya.

Sebenarnya ini bentuk kemenangan rezim neo-liberal yang melepaskan dimensi struktur kekuasaan yang berkontribusi besar dalam persolan ekologi.

[irp]

‘School strike for Climate’ yang diinisiasi oleh Greta dan anak muda lainnya melampaui wacana konvensional, mereka melakukan protes politik karena para pemimpin global tidak mengambil tindakan serius dalam menghadapi persoalan ini (theguardian, 01/10/18).

Aksi jutaan anak muda ini melawan struktur politik dimana para pemimpin politik tidak memiliki komitmen dalam mencegah kondisi darurat bumi. Protes politik generasi muda ini membangun ‘new hopes’ bagi perubahan ekologi.

Anak muda para pejuang perubahan iklim melewati batas-batas teritorial negaranya, aksi mereka bercorak kosmopolitan, radikal dan unconventional politics. Ini karakter dari ‘citizen of the planet’.

Kesadaran sebagai warga bumi hal yang mendasar untuk membangun gerakan massa. Protes politik diluar gedung parlemen Swedia telah memantik perlawanan terorganisir di banyak negara Eropa, Amerika dan Asia.

[irp]

Sekolah dan Citizen of the Planet

Kesadaran kritis anak-anak muda Eropa itu tumbuh oleh program pendidikan kewargaan yang kuat untuk mendorong anak muda menjadi warga negara berdaya (active citizenship) yang berpartisipasi dalam sosio-politik.

Angen Stale Rye (2018) mengatakan pedidikan kewargaan di Norwegia dengan beragam program mampu menstimulasi anak muda untuk menjadi pembelajar aktif, mencari model partisipasi politik yang sesuai mereka dan jalur alternatif lainnya.

Negara Eropa memiliki grant design kebijakan pendidikan kewargaan yang membangun kesadaran kritis pelajar atau anak muda. Europa Union bahkan sebagai supra-nasional rezimpun membangun model kewargaan sebagai upaya menjaga integrasi dan kohesi sosial masyarakat Eropa (Bee, 2017).

Sekolah mempunyai peran mendasar dalam memangun karakter kewargaan anak muda di Negara Eropa, walaupun aksi protes Greta mendapatkan intervensi dari gurunya untuk menghentikan aksinya, meskipun seorang guru yang terlibat mendukung aksinya, rela gajinya dipotong.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: