Desa Kindang Diserbu Kantong Kresek Dua Kali Seminggu

Klikhijau.com โ€“ Senin dan Kamis menjadi hari yang disambut suka cita di Desa Kindang, Bulukumba. Sebab di hari itu merupakan jadwal pasar. Masyarakat yang ingin membeli sesuatu akan lebih mudah. Ba...

Desa  Kindang Diserbu Kantong Kresek Dua Kali Seminggu
Bacakan Artikel

Hampir semua belanjaan pun dibungkus kantong plastik. Mulai dari sayuran hingga peralatan rumah tangga.

Hal yang sama saya juga temukan di pasar tradisional Gowa yang terletak di dekat jembatan kembar. Semua barang dagangan di bungkus pula dengan kantong plastik.

Jika dihitung, pasar tradisional di Desa Kindang dan Borongrappoa, yang hanya menggelar hari pasar dua kali seminggu, maka pasar tradisional yang menggelar hari pasar tiap hari seperti pasar Terong tentu penggunaan plastik sekali pakai lebih menumpuk.

Meninggalkan kantong plastik

Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis berjaya. Hal ini karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam yang langka.

Namun, sesudah perang, terjadi pergeseran persepsi tentang plastik. Ia tak lagi dipandang positif, terutama setelah puing-puing plastik di lautan pertama kali teramati pada 1960-an.

Apalagi 1962, Rachel Carson dalam bukunya Silent Spring mengungkapkan bahaya pestisida. Ditambah pada 1969, tumpahan minyak di lepas pantai California juga mulai mendapat perhatian. Kedua kasus tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang polusi.

Kesadaran tentang isu lingkungan pun menyebar dan membuat plastik dipandang negatif.ย Maka sejak 1970-an hingga kini, plastik menjadi limbah yang diwaspadai. Berikut bahayanya menurut situs daring dietkantongplastik:

[irp]



  • Mencemari lingkungan



Sangat sering saya temukan, sampah-sampah dibungkus plastik lalu dibuang dipinggir jalan. Biasanya jika terburai akan ketahuan jika di dalamnya terdapat pula plastik.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: